Kamis, Maret 28, 2013

Berlibur ke Mangrove Wonorejo Surabaya

Besuk libur long weekend. Udah gitu tanggal tua pula. Tentu mikir-mikir jika mau liburan ke luar kota. Untuk warga Surabaya yang mau menghabiskan libur akhir pekan tanpa mudik, Anda bisa memilih mengisi liburan di sekitar Surabaya saja. Sekarang ini Surabaya punya banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Jika Anda suka dengan tempat berair, silakan mencoba kunjungi Mangrove Wonorejo Surabaya. Dermaga Ekowisatam Mangrove Wonorejo Rungkut Surabaya memiliki pemandangan alam yang bagus untuk dijelajahi. Aneka pepohonan, burung ada disini. Anda bisa menikmati berjalan di jembatan kayu yang membelah sungai. Bagus untuk foto-foto.


Jika Anda ingin menjelajahi sungai, bisa menyewa kapal dan berkeliling sungai. Hm menyenangkan. Silakan mencobanya jika ke Mangrove Wonorejo. Mangrove Wonorejo ini lokasinya di timur Surabaya. Dari arah Wonokromo ke timur, lewati kampus Stikom dan STIE Perbanas yang baru lurus ke timur. Jalanan agak jelek ketika Melewati perumahan Grand Semanggi karena saat ini  sedang dalam pembangunan sehingga banyak truk keluar masuk. Baru beberapa ratus meter selanjutnya ketemu pintu masuk Mangrove.  

Untuk yang suka mancing, di dekat situ juga ada Mangrove Fishing Wonorejo. Tempatnya asyik untuk penghobi mancing. Berbagai jenis ikan bisa dipancing disini. Kalau udah dapat harus dibayar. Jika mau menikmati hasilpancingan secara langsung bisa meminta mereka memasakkannya. Kalau tidak kita bisa memesan makanan. Kapan hari makan ikan bakar berdua harga paketnya 25 ribu. Terjangkau kan.

Rabu, Maret 27, 2013

Sup dan Selat PDAM Solo

Beberapa waktu yang lalu aku pindahin foto dari BB ke komputer. Tapi aku lupa menyimpan filenya dimana. Padahal kebanyakan foto-foto jalan-jalan dan wisata kuliner belakangan ini ada disana. Sayang banget belum sempat kubagi ceritanya ama para penggemar kluyuran dan wiskul. Beruntung ada beberapa yang kufoto pakai kamera SLR kantor, jadi itulah yang bisa dibagi pada smuanya.

Kali ini aku kembali berbagi cerita kuliner di Solo. Solo memang gudangnya makanan enak. Jika ditanya 3 kota besar yang kusuka selain Kediri dan Surabaya, jelas Solo menempati peringkat ke 3. Kotanya nyaman, makanannya lezat-lezat dan sesuai selera lidahku. Mungkin karena aku pernah tinggal di sana jadi serasa kotaku sendiri. Bulan lalu aku ke Solo lagi. Ambar, (sahabatku yang berdomisili di Solo)  yang menjemputku turun dari KA Prameks langsung mengajakku makan siang. Dibilang makan siang sebenarnya kurang tepat karena masih jam 10 pagi tapi dibilang sarapan udah agak siang. Entahlah pokoknya makaaan.

Kami sengaja mencari menu makanan yang tak terlalu mengenyangkan. Pilihan kami pada sup dan selat. Ternyata Ambar tak membawaku ke Kusumasari atau Warung Selat mbak Lies, malah ke arah jalan Adisucipto. Di samping kantor PDAM Jl.Adisucipto ternyata ada sebuah warung kakilima  pakai keber warna merah bertuliskan nama makanan yang dijualnya.
Sebenarnya warung sup dan selat PDAM ini belum lama berdiri, belum sampai 10 tahun. Tapi sudah banyak yang tahu. Sebab meski warung kaki lima tapi tempatnya bersih. Buka dari pagi, siang udah habis. Penjualnya ramah, pelanggannya banyak. Bukan hanya pegawai PDAM Solo saja tapi juga banyak dari luar.  Beberapa menu yang djual antara lain selat segar, sup matahari, sup galantin dan timlo solo. Kemarin kami sengaja memilih sup matahari dan selat segar.
Dilihat dari penampilannya saja sup mataharinya sudah menarik hati. Rasanya sayang disantap, bentuk mataharinya bagus.hehehehe. Ternyata rasanya memang uenak. Isi mataharinya macem-macem mulai ayam, jamur, telur dan sebagainya. Dalam kuah sup itu juga ada potongan wortel dan jamur kuping. Rasa kuahnya uenaaak, gurih pas di lidah. Ditambah sambal tambah mantappp.
Selatnya juga enak. Isinya selada, potongan telur rebus, buncis dan wortel, bistik daging,tomat dan acar mentimun. Dagingnya tanpa lemak. Bagus itu aman untuk yang kolesterol tinggi. (meski sebenarnya aku lebih suka yang agak berlemak xixixi). Perpaduan telur, daging dan sayur ini rasanya mantap. suegeeer banget. Harganya juga tak mahal. Ayo dicoba kalau ke Solo. Makanan kaki lima Solo pancen uenaaak uenaaak.


 


Sarapan Gudeg Yu Djum

Hai para penggemar kluyuran. Kangen juga lama ga berbagi cerita soal jalan-jalan dan makan-makan. Biasa ribet ama kerjaan kantor. Kali ini aku mau cerita soal jalan-jalan ke Jogya. Akhir Maret lalu aku menghadiri even di JEC Jogya. Sempat ketemu dan ngobrol ama GKR Maduretno, putri ketiga Sultan Hamengkubuwono X. hm senengnya, sampai pamer.hehehe. Dan tak ketinggalan aku juga wisata kuliner ama teman-teman di Jogya. Kemarin dari Jakarta aku berangkat ke Jogya bareng teman lama, Ira. Dari awal dia udah ngotot minta ditemenin ke gudeg yu Djum. Makanya turun dari KA Taksaka kami langsung ke wijilan. Naik becak 15 ribu dari stasiun Tugu ke jalan Wijilan.

Jam baru menunjukkan pukul setengah 7 pagi ketika kami sampai di kawasan Wijilan. Jalanannya sudah mulai rame. Widjilan kan memang terkenal sebagai pusatnya gudeg. Di sepanjang jalan Wijilan yang tak jauh dari alun-alun utara Jogyakarta itu berjejer penjual gudeg. Ada beberapa nama. Tapi kami tetap masuk ke warung gudeg Yu Djum. Karena memang dianggap kuno dan mengandung sejarah. Berdiri sejak tahun 1946 alias masih jaman perang.

Tempatnya tak terlalu besar. Kami duduk lesehan sembari menunggu makanan siap disajikan.Menu utama disini jelas gudeg. Yang komplit isinya gudeg, sambel goreng krecek kacang tolo, opor ayam kampung dan telur itik dan areh. Juga ada tahu dan tempe. Mereka mempersiapkan pesanan pembeli di bagian depan warung. Bisa dimakan di tempat, atau dibawa pulang. Bawa pulang pun bisa gunakan kotak, besek atau kendil. Tergantung permintaan pembeli. Harganya jelas berbeda-beda.

Aku memesan gudeg krecek tanpa nasi sedang ira memesan nasi gudeg telur suwir. Rasa gudeg ini manis. Kalau pingin pedes tinggal haluskan cabenya. Jangan cari sambel karena gudeg jogya tanpa sambel. Enak untuk penggemar gudeg. Berhubung aku tak suka gudeg manis maka kubilang lumayan saja. Aku lebih suka gudeg solo atau semarang yang lebih basah dan gurih. Yang jelas harganya standard. Bisa memilih sesuai ukuran kantong. Mulai sekitar 8 ribuan. Silakan mencoba jika ke Jogya. Selain di Wijilan, gudeg yu Djum juga buka cabang di jalan Dagen. Tempatnya malah lebih enak dan nyaman.

Rabu, Januari 30, 2013

Sehari di Magelang

Halo para penggemar wisata kuliner. Kali ini aku mau berbagi cerita perjalanan wisatakulinerku ke Magelang (26-27/1) kemarin. Kebetulan aku mesti menghadiri even yang diadakan di GOR Tribakti Magelang. Tentunya takkulewatkan kesempatan untuk mencicipi makanan khas magelang. Tetapi karena waktu terbatas aku tak bisa seenaknya jalan-jalan. Tanggal 26 Januari siang, aku cuma bisa makan siang di warung samping GOR Tribakti. Namanya warung mbak Nanik. Warungnya kecil tapi bersih. Mereka jual nasi rames, ayam goreng dan sebagainya. Nasi rames harganya cuma 3000 perak. Ayam goreng 5000 perak. Murah kan. Aku makan bareng teman sekantorku. Dia malah milih nasi dengan sayur jengkol dan lauk lele goreng. Sedangkan aku memilih sayur oseng pepaya, sambal goreng krecek dan kikil. Meski sederhana tapi enak menurut lidahku. Jawa banget.hehehe

Malamnya sebenarnya aku ingin banget mencoba mi goreng atau nasi goreng magelangan. Tapi aku mesti ke Artos (Armada Town Square). Jadinya mesti pasrah makan di foodcourt. Banyak menu ditawarkan. Aku sengaja cari yang beda dan belum pernah kucoba. Pilihanku jatuh pada mi ongklok dan tempe kemul khas Wonosobo. Mungkin karena Wonosobo dekat dengan Magelang maka tak sulit cari makanan khas Wonosobo disini. Mi Ongklok ini warnanya coklat, dalam kuahnya terasa ada rasa udang. Mienya lunak, ada taburan ayam,bawang merah didalamnya. Rasanya manis gurih. Lumayan enak. Sebaai teman makan mi ongklok seharusnya sate sapi dan tempe kemul. Aku cuma milih tempe kemul. Tempe kemul itu tempe goreng yang digoreng pakai tepung banyak dan warnanya kuning. Rasanya gurih. Dimakan pake irisan cabe dan kecap..
Sedangkan Arce, malah milih makan bakso campur babat khas Salatiga. Bakso campur ini isinya macam-macam, mulai bakso kasar, siomay, baso tahu, gorengan, hingga irisan babat. Kuah kaldunya gurih. Baksonya juga lumayan. Porsinya besar. Kenyanglah pasti. Begitu kenyang kami pun balik hotel. Kami menginap di hotel Catur yang berada di kawasan Mertoyudan. Tarifnya 285 ribu semalam. Tempatnya bersih dan nyaman. Pelayannya baik dan ramah. Breakfastnya juga tak terlalu mengecewakan. Ada nasi rawon, ayam goreng, telur asin, sayur oseng kacang nasi goreng, roti selai plus buah.

Sesudah sarapan aku kembali ke GOR Tribakti meneruskan pekerjaan. Semula aku bayangin tak bisa kemana-mana mengingat sore harinya selesai pameran aku mesti langsung balik ke Jogya. Ternyata ada salah seorang teman lama yang tinggal di Magelang yang berbaikhati menemuiku dan mengantarku jalan-jalan sebentar keliling kota Magelang. Aku jadi tahu berbagai pojok kota Magelang, mulai akmil, alun-alun, kawasan pecinan dan sebagainya. Kotanya menyenangkan, hawanya dingin. Tapi satu yang perlu Anda catat, meski kota kecil tapi jarang ada becak disini. Kalau pagi sampai sore masih ada angkot, kalau malam, terpaksa andalkan taxi.

Di Magelang aku sempat melihat warung pecel mbok Joyo yang terkenal dekat Akmil tapi aku ga mampir. Mau beli sop senerek di kawasan Jendralan ternyata juga ga buka. Padahal sop senerek ini khas Magelang banget. Ga bisa cerita karena belum lihat wujudnya. Tahun depan kalau ke Magelang lagi aku harus mencobanya. Makanan lain yang paling banyak direkomendasikan orang untuk kota Magelang adalah kupat tahu. Katanya yang paling terkenal kupat tahu p slamet di Blabak Magelang. Tapi ada yang bilang Kupat Tahu pak Pangat juga enak. Aku tak mencoba dua-duanya malah mampir makan di Warung Tahu Pojok. 

Warung Tahu Pojok Magelang ini sudah berdiri sejak tahun 1942. Modelnya masih kuno. Disamping-sampingnya juga berderet penjual tahu kupat lainnya. Tetapi karena Tahu Pojok sudah lawas makanya tetap rame diserbu pelanggannya. Penataannya masih jadul banget. Satu meja bentuk u untuk tempat wedang dan satu tempat untuk kupat dan goreng tahu. Pembeli makan di depan yang masak kupat dan bikin wedang. Hm mengingatkanku pada warung makan kuno di kediri.
Sembari menunggu kupat tahu pesananku aku nyamil. Ada bakwan dan sate udang di depanku.Hm enakkk. Sebenarnya aku pingin minum wedang ronde ternyata belum ada. Adanya sekoteng. Akhirnya aku terima saja minum sekoteng. Sekotengnya isinya irisan roti tawar dan kolang kaling. Kuahnya encer. Rasanya manis pedas. Kayak ada santannya tapi entah benar entah salah.
Sebenarnya ditembok tertulis ada menu lain seperti mangut nila, tapi saat kutanyakan ternyata masih belum ada. Jadi mesti pasrah dengan satu menu, kupat tahu. Semula aku bayangin kupat tahu kayak di Solo. bumbunya kecap, dan itu aku ga suka. ternyata bedaaa. Lebih mirip kupat tahu bandung. Isinya tahu goreng panas, irisan ketupat, bakwan, taoge rebus, kubis mentah, kacang goreng dan diguyur pake bumbu sambal kacang yang encer. Jika mau pedas mereka kasih cabe yang diuleg tersendiri dalam piring. Sure, uenaaaaak. Ga salah aku makan ini.


Sepulang dari Tahu Pojok Aku mampir beli oleh-oleh. Icuk mengantarkanku ke sentraoleh-oleh Toko Endang Jaya. Buka cabang di banyak tempat di Magelang. Disini kita bisa beli getuk magelang, slondok, tape ketan, wajik, jenang dan sebagainya. Harganya jelas sudah harga toko. Sebungkus slondok saja 16 ribu. Makanya aku beli lagi 2 bungkus kecil yg 5 ribuan di mbok2 depan toko oleh2 itu. Murah meriah.hehehe. Yang jelas aku masih ingin ke Magelang lagi. Siapa mau ikut.


Minggu, Januari 06, 2013

Kisi Khas Depot Sriwijaya Kediri

Halo, para penggemar wisata kuliner, Selamat Tahun Baru 2013. Semoga kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan menyertai langkah kita semua. aamiin. Kemana nih acara liburan akhir tahunnya? Kalau aku seperti biasa,menghabiskan libur akhir tahun dengan mudik ke kampung halamanku Kediri. Sebab selain libur lebaran memang hanya pada akhir tahun seperti ini aku baru bisa berlama-lama di Kediri. Karena di hari biasa mesti udah disibukkan dengan aktivitas di Surabaya dan tour of duty ke berbagai kota.

Pulang ke kediri memang momen yang paling mengasyikkan untukku. Karena aku bisa menyantap makanan kesukaanku khas Kediri. Kali ini aku mau share salah satu tempat makan yang jadi favorit keluargaku. Namanya Depot Sriwijaya. Meski namanya Depot Sriwijaya tapi lokasinya bukan di jalan Sriwijaya Kediri lho melainkan di jalan Gunungsari Kediri. Sebuah jalan kecil yang menghubungkan antara jalan Patimura dan jalan Sriwijaya Kediri.
Memang sebelumnya depot ini berlokasi di jalan Sriwijaya. Setelah 2 kali berpindah tempat, kini menetap di ruko milik sendiri yang berlokasi di jalan Gunungsari Kediri ini. Setiap aku datang ke depot ini, tante pemilik depot Sriwijaya selalu menyapaku dengan ramah. Maklum ia sudah mengenal kami lama. Makanya kalau aku datang berdua dengan kakakku ia akan menanyakan keadaan mamaku. "Ibue sehat to. Salam yo," katanya dengan medok kedirian.

Menurut tante pemilik Depot Sriwijaya, ia sudah membuka depot ini sejak tahun 1992. Depotnya tak terlalu besar tapi bersih. Pelanggannya banyak meski tak berjubel. Hanya bergantian. Menunya tetap Nasi rawon,nasi soto dan nasi campur. Nasi rawon versi depot Sriwijaya ini agak beda karena kuahnya bening. Dagingnya boleh memilih daging rawonan atau empal suwir. Dimakan dengan taoge mentah, sambal dan kerupuk udang. Soal rasa, standardlah.
Kalau mampir kesini, aku lebih suka memesan soto ayamnya. Ini yang menurutku mantap. Lebih kusuka daripada soto Tamanan khas Kedirian. Sotonya memakai kuah bening. Penyajiannya pakai suun,telur rebus, keripik kentang, kubis. Ayamnya boleh memilih, bagian sayap,dada,paha, atau kulit. Dimakan dengan sambal. Wow enak sekali.Perpaduan gurih dan pedasnya pas di lidah.  Wajib dicoba untuk penggemar soto.
Nasi campurnya juga enak. Biasanya selain nasi, isinya sambal goreng kentang ati, mi goreng, tahu/telur/ayam /daging bumbu merah. Dimakan dengan sambal dan kerupuk udang. Hm mantap deh. Manis,asin,gurih dan pedasnya pas. Satu porsi makanan disini sekitar 12-15 ribu rupiah. Tapi ini sebanding dengan rasanya yang memang menggoda selera.
 Sebelum pulang, biasanya kami memesan menu untuk oleh-oleh bagi mama di rumah. Menu ini adalah khas depot Sriwijaya ini. Namanya Kisi. Kisi ini adalah bagian daging sapi yang ada sedikit lemaknya. Dimasak bumbu pedas. rasanya perpaduan manis, asin, dan pedas. Maknyus. Enak dimakan dengan nasi panas. Selain itu kadang juga memesan empal suwir. Empal suwirnya empuk dan manis gurih.Mantaplah untuk lauk. Silakan mencobanya kalau ke Kediri.



Rabu, Desember 26, 2012

Spesialis Belut Surabaya H.Poer Surabaya

Saat ini kita tak akan kesulitan jika ingin makan penyet belut, karena hampir di setiap kota ada Francise Spesialis Belut Surabaya H. Poer. Tetapi bagaimanapun tentu lebih asyik jika kita datang langsung ke warung aslinya Spesialis Belut Surabaya milik H. Poer di kawasan jalan raya  Banyu Urip Surabaya. Warung itu tak pernah sepi pembeli. Mereka rela antri demi bisa duduk dan menikmati masakan belut olahan warung H.Poer ini.

Bangunan warung ini sebenarnya baru, sebelum seramai sekarang Keluarga H. Poer membuka warung spesialis belutnya di pasar Bok Abang Surabaya. Meski kala itu tempatnya bisa dibilang kurang strategis tapi ramai pembeli. Makanya begitu mereka sudah terkenal membuka warung besar di kawasan Raya Banyu Urip dan tak jauh dari tempat semula.

Berbagai masakan olahan dari belut adalah ciri khas warung ini. Belut goreng basah, sedang, kering, hingga masak asam manis tersedia disana. Untuk sambalnya bisa pilih biasa, sedang, pedas, super pedas. Saat kami masuk ke warung ini kuperhatikan kesibukan karyawan warung berbaju orange yang sibuk melayani pembeli. Ada 3 orang yang khusus menguleg sambalnya.

Sesudah menunggu agak lama, makanan siap diatas meja. Aku sengaja memilih penyet belut basah super pedas. Sedangkan temanku memilih yang penyet belut kering pedas. Wow aku langsung tak sabar menyantapnya. Belut diogoreng dan disajikan dalam cobek dengan sambal dan irisan bawang purih goreng.. Sedangkan lalapan timun, kubis dan kemangi ditaruh di piring lain.

Aku memang lebih suka belut digoreng basah. Menurutku lebih nikmat daripada digoreng kering yang mirip keripik. Rasanya tak kalah gurih. Tapi soal sambel memang yang super pedas bisa dibilang amat sangat pedas sekali. Aku sampai ga kuat kepedesan. Lebih pedas dari sambelnya bengkel kerut kalasan. Tapi enaaak. Ayo silakan coba kalau ke Surabaya. Harga seporsi penyet lele plus nasi dan es teh tak sampai 25 ribu rupiah. Tapi ditanggung puaaaaas.

Sate Ayam Madura di Gajah Mada Semarang

Sebenarnya tanggal 21 Desember '12 kemarin aku dapat undangan menghadiri sebuah even di Semarang. Tapi karena satu dua alasan maka aku tak bisa datang. Padahal sudah cukup lama aku tak ke Semarang. Jadi kangen dengan makanan makanan khas Semarang. Semarang memang buka kota belanja tapi salah satu kota yang punya tempat-tempat wisata kuliner yang enak. Kali ini aku pingin menulis mengenai sate semarang. Jika Anda pergi ke Semarang dan keliling kota di malam hari, maka saat Anda melewati jalan Gajah Mada akan melihat sederet warung kaki lima yang menjual sate ayam madura. Mulai lampu merah di dekat jalan Pemuda hingga hampir perempatan jalan Depok/Wahid Hasyim berjejer warung lesehan sate ayam madura ini.

Beberapa kali melewatinya, aku penasaran pingin tahu mana yang paling terkenal. Suatu ketika kebetulan aku menginap di hotel Quirin di jalan Gajah Mada Semarang yang notabene seberang jejeran pedagang sate ayam itu. Kutanyakan hal ini pada satpam hotel dan ia pun merujuk pada salah satu pedagang yang tepat di depan hotel Quirin. Ya namanya Sate Ayam Madura HM Hasan. Tertulis Pertama di Jalan Gajah Mada Semarang. Aku pun jadi ingin mencobanya.

Aku langsung duduk di tikar lesehan yang disediakan. Kulihat pedagangnya membakar satenya di kursi dingkling. sedangkan satenya ditaruh di tempat kaca supaya tak kena lalat. Aku sengaja memesan sate ayam dan jerohan ayam. Pedagang satenya mengipasi satenya agar cepat matang. Tak berselang lama sate pun siap dihidangkan.

Hm menggoda selera. Sate ayamnya lunak, jerohan dan kuning telurnya juga dibakar dengan matang. Diberi bumbu kacang dan kecap. Tak ada sambal. Jika ingin pedas, mereka menyediakan irisan abe hijau dan bawang merah mentah. Hm paduan rasa manis, gurih, pedas yang pas. Mirip sate madura yang biasa aku makan di Surabaya. Mantaplah. 
Untuk seporsi sate tanpa lontong dan teh botol aku tak sampai merogoh kocek hingga 25 ribu rupiah. Masih masuk akal dibandingkan sate di kota lainnya yang belum tentu enak tapi mahalnya minta ampun. Silakan coba kalau Anda ke Semarang.