Hari Minggu kemarin aku dan kakak-kakakku menghadiri undangan pernikahan saudara sepupuku di Malang. Sebelum ke tempat lokasi resepsi di Balai Merdeka Unmer Malang, kami tak melewatkan waktu untuk wisata kuliner. Kali ini kami ingin mencoba makan rawon Rampal yang sudah terkenal itu. Lokasinya di jalan Panglima Sudirman Malang. Dekat Bank BCA.
Tempatnya sebenarnya tak terlalu besar tapi sudah sangat terkenal. Pelanggannya tak hanya dari kota Malang tapi dari berbagai kota. Presiden SBY pun sering mampir makan di sana jika sedang kunjungan ke Malang. Terbukti dari foto-foto yang dipasang di dinding warung soto Rampal ini. Hehehe beda dengan warung jadul lainne, biasanya yang dipasang foto selebritis, kalau disini malah foto orang nomer satu di negeri ini saat ini.
Menurut informasi yang kami dengar katanya menu soto rampal yang lebih diminati. Kami coba memesannya. Dalam seporsi soto ada beberapa iris daging, taoge. Ternyata kuahnya bening. Soal rasa, terlalu ringan menurut kami. Maaf, kami terbiasa dengan soto daging madura atau soto daging kediri yang kuahnya lebih berasa mantap.
Kami lebih suka dengan rawonnya. Rawon Rampal memang mantap. Varian kuahnya mantap, tak terlalu asin. Dagingnya ada uratnya dipotong potong kotak. Dimakan dengan taoge mentah dan sambal. Wow enak sekali. Tak kalah dengan nasi rawon Nguling atau rawon Setan yang terkenal di Surabaya. Seporsi nasi rawon dihargai 15 ribu perak.
Biasanya sebagai teman makan nasi rawon, orang-orang memesan babat rawis. Babat rawis ini merupakan babat yang digoreng dengan rasa agak manis. Nikmat karena sudah tersedia dalam bentuk potongan dan empuk. Usus gorengnya juga enak sekali. Seporsi babat rawis/usus dihargai seharga 15 ribu perak juga. Tapi jangan makan usus dan babat banyak-banyak ya. Ingat kolesterol tinggi. hihihi.
Sebenarnya selain soto dan rawon, Anda bisa memesan berbagai menu yang lain seperti nasi campur, bali telur atau nasi pecel. Juga tersedia berbagai snack seperti lumpia, risoles, mendol dan sebagainya. Minuman yang dijual juga beragam mulai es teh, es jeruk hingga soft drink. Jika suka krupuk juga bisa memilih sesuai selera. Dan lebih enaknya lagi, Anda bisa membeli bumbu pecel, soto dan rawon disini untuk dibawa pulang.
Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan
Minggu, Juli 08, 2012
Kamis, Juli 05, 2012
Nasi Buk Matirah
Kapan hari aku naik kereta api Gajayana dari Jakarta turun di Setasiun Malang. Sembari menunggu dijemput Indah, sahabatku, aku sengaja mencari tempat untuk makan. Mau dibilang sarapan sudah terlalu telat tapi mau dibilang makan siang masih belum terlalu siang. Sekitar jam 11 aku masuk ke sebuah warung yang posisinya tak jauh dari setasiun Malang yang berlokasi di jalan Trunojoyo Malang itu.
Aku sengaja memilih warung itu dengan pertimbangan sudah pernah memasukinya beberapa tahun sebelumnya. Ya namanya warung nasi bik Matirah. Entah mengapa meski jauh dari pulau Madura tapi di Malang nasi bok madura malah lebih ngetop. Ada beberapa tempat penjual nasi bug khas Malang ini di Malang. Nasi bik Matira ini salah satu diantaranya.
Nasi buk ini terdiri nasi sayur lodeh gori, srundeng kelapa, taoge dan sambal. Rasa lodehnya perpaduan asin dan pedas. Sambalnya pedas dan enak. Srundengnya bikin mantap. Untuk lauknya bisa memilih sesuai selera. Ada mendol tempe, babat, paru, empal dan lain sebagainya. Atau jika suka bisa memilih sate komo khas Malang. Selain nasi buk, juga ada nasi kare ayam, ayam panggang dan rawon. Bisa Anda coba jika berada di dekat stasiun Malang.
Aku sengaja memilih warung itu dengan pertimbangan sudah pernah memasukinya beberapa tahun sebelumnya. Ya namanya warung nasi bik Matirah. Entah mengapa meski jauh dari pulau Madura tapi di Malang nasi bok madura malah lebih ngetop. Ada beberapa tempat penjual nasi bug khas Malang ini di Malang. Nasi bik Matira ini salah satu diantaranya.
Nasi buk ini terdiri nasi sayur lodeh gori, srundeng kelapa, taoge dan sambal. Rasa lodehnya perpaduan asin dan pedas. Sambalnya pedas dan enak. Srundengnya bikin mantap. Untuk lauknya bisa memilih sesuai selera. Ada mendol tempe, babat, paru, empal dan lain sebagainya. Atau jika suka bisa memilih sate komo khas Malang. Selain nasi buk, juga ada nasi kare ayam, ayam panggang dan rawon. Bisa Anda coba jika berada di dekat stasiun Malang.
Selasa, Januari 10, 2012
Batu dan Sawah Bunga
Jujur baru kapan hari aku mendengar sebuah tempat bernama Sawah Bunga. Nama itu dipromosikan sahabatku,Indah saat aku bersama Tirta berlibur di rumahnya yang berada di Malang Desember lalu. Kami yang hobi jalan-jalan langsung tak menolak saat ia akan mengajak kami ke tempat yang diinginkannya itu. “Pokoknya lokasinya di Batu,” katanya.
Dengan mengendarai mobilnya, kami bertiga berangkat ke Batu. Karena hari Sabtu jalanan dari kawasan jalan Sukarno Hatta Malang menuju Batu yang seharusnya dekat jadi terasa jauh karena kami mesti memutar mencari jalanan yang tidak macet. Mulai kampus Universitas Brawijaya , pasar Dinoyo hingga Tlogomas memang hampir tiap hari macet. Apalagi kalau hari libur karena banyak yang berwisata ke Malang.
Kami tak bisa berkendara terlalu cepat karena hujan deras mengguyur begitu memasuki kawasan Sengkaling (yang ada wisata airnya itu). Tapi kami tak berhenti, memilih melanjutkan perjalanan.
Sampai di kota Batu aku menyaksikan pemandangan yang berbeda. Alun-alun Batu yang dulu tampak biasa-biasa saja jadi tampak indah karena disulap menjadi taman bermain. Ada patung buah apel warna merah/hijau, wortel, patung sapi, kelinci dan sebagainya. Selain itu juga disediakan aneka mainan anak-anak jadi tampak ramai. Sayangnya saat itu gerimis jadi kami tak bisa duduk santai dan berfoto di sana.

Biasanya setiap ke Batu aku selalu mampir ke pusat PKL yang ada di dekat alun-alun itu. Ternyata sekarang sudah tak ada. Untungnya kedai Pusat susu Ganeca yang terkenal dari dulu kala menjual susu murni dengan anekarasa buah (leci, anggur, strawberry dan lain-lain) dan yogurt serta jajanan masih ada. Kami mampir ke sana membeli susu segar rasa anggur dalam botol kecil seharga 2500 perak/botol.

Karena lapar kami tengak tengok cari warung. Kami pikir pasti para penjual makanan yang biasa jualan disitu pasti pindahnya tak jauh dari tempat itu. Benar di belakang kedai susu ganeca ada sebuah warung. Warung itu menjual makanan yang kami inginkan. Jadi para pedagang kaki lima bergabung jadi satu membuka satu warung itu. Ada gado-gado pak Tompo, Cuimi dan pangsit ayam serta tahu telur. Kami memilih membeli 2 piring gado-gado dan cuimi 1 mangkok. Rasanya masih seenak dulu. Dan tahu aku mesti bayar berapa untuk 3 menu itu,hanya 15 ribu perak. Murah kan. Coba ga hujan , aku pingin minum es campur. Es campur di Batu ini uenak. Ada yang jual es campur ini di depan warung gado-gado itu. Tapi kali ini aku memilih absen ga beli dulu.
Sebelum melanjutkan perjalanan kami lihat ada seorang bapak tua bertopi kopiah menjual kripik kentang di depan kedai susu ganeca. Dia membuka satu plastik kripikkentang agar kami bisa mencobanya. Rasanya gurih. Kami sempat membeli 5 bungkus. 1 bungkusnya seharga 10 ribu perak. Terus terang kami salut dengan pak penjual keripik kentang ini. Meski sudah berusia lanjut sekitar 70 an tapi masih mencari nafkah sendiri. “Dimana dan gimana sih anak-anaknya,” keluh teman-temanku.
Usai dari alun-alun Batu kami meneruskan perjalanan ke Sawah Bunga. Kukira temanku, Indah yang mengajak kami tahu lokasinya, ternyata tidak tahu. Ia cuma tahu info dari sepupunya kalau lokasinya sebelum kawasan Selekta. Dari Batu kami melewati jalan Bukit Berbunga, terus lewat hotel Purnama Batu yang terkenal sejak lama itu. Tapi belum ada tampak tanda-tanda tulisan Sawah Bunga.
Sesudah melewati masjid besar berwarna biru di kiri jalan, Kami lihat ada plang tulisan Desa Bunga tapi kami ragu. Kami bertanya pada orang yang berteduh di pos ojek di ujung gang itu . “Maaf pak, kalau sawah bunga itu mana ya?”. Dia bingung menjawabnya tapi kemudian menyuruh kami berbelok kekiri atau masuk gang itu. Kami nekat masuk kesana. Tapi yang kami lewati perkampungan padat penduduk. Ada seorang cewek membawa semangkuk mi yang lewat di pinggir jalan langsung kami tanyai. Ia menyuruh kami terus saja. Kami pun terus mengikuti jalanan itu. Dalam bayanganku sebuah tempat rekreasi penuh bunga, ada tempat makannya. Makanya kami tengak tengok. Yang kami lihat memang banyak rumah dengan kebun bunganya.
Bahkan kami melewati sungai yang mengalir deras airnya. Hm ingin rasanya turun kesana.hehehe.
Kami lihat disisi kiri ada sebuah rumah makan yang menawarkan kolam pancing ikan dengan menulis harganya perkilo untuk gurami, nila, patin dan sebagainya. Tapi kok ga ada bunganya. Kami pun terus saja. Ada pasar bunga di kiri jalan tapi tidak kami gubris. Semakin masuk kedalam kami malah ketemu perkaampungan penduduk lagi. Daripada semakin jauh tersesat dalam desa, kami berhenti dan bertganya pada seorang bapak bersepeda motor yang berhenti di depan toko untuk menanyakan sawah bunga. “Lho sudah kelewat,mbak. Itu tadi yang banyak tanamannya. Pasar bunga di kiri jalan,” jelasnya. Kami pun langsung berbalik arah. Ribet cari Sawah Bunga ternyata tak ada yang pasang plang Sawah Bunga.hehehe.
Kami berhenti di depan Pasar Bunga Sekar Mulyo. Sembari geli kami tanyakan soal Sawah Bunga ini. ” Sawah Bunga itu istilah yang biasa orang berikan pada desa Sidomulyo Batu. Karena sebagian besar penduduknya petani Bunga,” jelas salah satu ibu penjual bunga di sini. Kami cuma bisa tertawa. Jadi tak ada kebun wisata khusus penuh bunga yang dikelola oleh investor.
Di Pasar Bunga Sekar Mulyo Desa Sidomulyo Batu ini ada beberapa kios bunga yang berjajar. Kami bisa memilih anekaragam tanaman yang kami mau. Harganya sangat miring. “Lebih murah daripada di Dewi Sri,” komen temanku. Tanaman jeruk sambal yang biasanya dijual dengan harga 25 ribuan disini ditawarkan dengan harga 15 ribu perak dan masih bisa ditawar. Aneka bunga mawar, melati, sepatu, anggrek dan sebagainya bisa dibeli dengan harga murah. Tanaman dedaunan seperti jemani, sri rejeki, sri harto ada semuanya. Buah-buahan yang dicangkok seperti mangga, sirsak, kelengkeng, rambutan pun juga ada. Semuanya harganya ditanggung lebih murah dibandingkan jika dibeli di Malang atau kota lainnya. Sangat cocok buat yang hobi koleksi bunga,buah dan tanaman deh.
Di belakang pasar itu ada kebun bunga dan tamanan itu. Kami sempat berfoto disana karena latar belakang pemandangannya bagus sebab tampak pegunungan di kejauhan. Meski agak berkabut karena habis gerimis.
Kami sempat membawa pulang 3 pohon bunga sepatu 3 warna, dan 5 tanaman hijau yang bercorak batik. Entah apa namanya. Dan semuanya cuma dihargai 35 ribu perak. Ga rugi deh jauh-jauh kesini bisa belanja bunga dan tanaman dengan harga murah. Ayo siapa suka tanaman, kalau jalan-jalan ke Batu jangan lupa mampir Sawah Bunga ya. hehehe
Dengan mengendarai mobilnya, kami bertiga berangkat ke Batu. Karena hari Sabtu jalanan dari kawasan jalan Sukarno Hatta Malang menuju Batu yang seharusnya dekat jadi terasa jauh karena kami mesti memutar mencari jalanan yang tidak macet. Mulai kampus Universitas Brawijaya , pasar Dinoyo hingga Tlogomas memang hampir tiap hari macet. Apalagi kalau hari libur karena banyak yang berwisata ke Malang.
Kami tak bisa berkendara terlalu cepat karena hujan deras mengguyur begitu memasuki kawasan Sengkaling (yang ada wisata airnya itu). Tapi kami tak berhenti, memilih melanjutkan perjalanan.
Sampai di kota Batu aku menyaksikan pemandangan yang berbeda. Alun-alun Batu yang dulu tampak biasa-biasa saja jadi tampak indah karena disulap menjadi taman bermain. Ada patung buah apel warna merah/hijau, wortel, patung sapi, kelinci dan sebagainya. Selain itu juga disediakan aneka mainan anak-anak jadi tampak ramai. Sayangnya saat itu gerimis jadi kami tak bisa duduk santai dan berfoto di sana.
Biasanya setiap ke Batu aku selalu mampir ke pusat PKL yang ada di dekat alun-alun itu. Ternyata sekarang sudah tak ada. Untungnya kedai Pusat susu Ganeca yang terkenal dari dulu kala menjual susu murni dengan anekarasa buah (leci, anggur, strawberry dan lain-lain) dan yogurt serta jajanan masih ada. Kami mampir ke sana membeli susu segar rasa anggur dalam botol kecil seharga 2500 perak/botol.
Karena lapar kami tengak tengok cari warung. Kami pikir pasti para penjual makanan yang biasa jualan disitu pasti pindahnya tak jauh dari tempat itu. Benar di belakang kedai susu ganeca ada sebuah warung. Warung itu menjual makanan yang kami inginkan. Jadi para pedagang kaki lima bergabung jadi satu membuka satu warung itu. Ada gado-gado pak Tompo, Cuimi dan pangsit ayam serta tahu telur. Kami memilih membeli 2 piring gado-gado dan cuimi 1 mangkok. Rasanya masih seenak dulu. Dan tahu aku mesti bayar berapa untuk 3 menu itu,hanya 15 ribu perak. Murah kan. Coba ga hujan , aku pingin minum es campur. Es campur di Batu ini uenak. Ada yang jual es campur ini di depan warung gado-gado itu. Tapi kali ini aku memilih absen ga beli dulu.
Sebelum melanjutkan perjalanan kami lihat ada seorang bapak tua bertopi kopiah menjual kripik kentang di depan kedai susu ganeca. Dia membuka satu plastik kripikkentang agar kami bisa mencobanya. Rasanya gurih. Kami sempat membeli 5 bungkus. 1 bungkusnya seharga 10 ribu perak. Terus terang kami salut dengan pak penjual keripik kentang ini. Meski sudah berusia lanjut sekitar 70 an tapi masih mencari nafkah sendiri. “Dimana dan gimana sih anak-anaknya,” keluh teman-temanku.
Usai dari alun-alun Batu kami meneruskan perjalanan ke Sawah Bunga. Kukira temanku, Indah yang mengajak kami tahu lokasinya, ternyata tidak tahu. Ia cuma tahu info dari sepupunya kalau lokasinya sebelum kawasan Selekta. Dari Batu kami melewati jalan Bukit Berbunga, terus lewat hotel Purnama Batu yang terkenal sejak lama itu. Tapi belum ada tampak tanda-tanda tulisan Sawah Bunga.
Sesudah melewati masjid besar berwarna biru di kiri jalan, Kami lihat ada plang tulisan Desa Bunga tapi kami ragu. Kami bertanya pada orang yang berteduh di pos ojek di ujung gang itu . “Maaf pak, kalau sawah bunga itu mana ya?”. Dia bingung menjawabnya tapi kemudian menyuruh kami berbelok kekiri atau masuk gang itu. Kami nekat masuk kesana. Tapi yang kami lewati perkampungan padat penduduk. Ada seorang cewek membawa semangkuk mi yang lewat di pinggir jalan langsung kami tanyai. Ia menyuruh kami terus saja. Kami pun terus mengikuti jalanan itu. Dalam bayanganku sebuah tempat rekreasi penuh bunga, ada tempat makannya. Makanya kami tengak tengok. Yang kami lihat memang banyak rumah dengan kebun bunganya.
Bahkan kami melewati sungai yang mengalir deras airnya. Hm ingin rasanya turun kesana.hehehe.
Kami lihat disisi kiri ada sebuah rumah makan yang menawarkan kolam pancing ikan dengan menulis harganya perkilo untuk gurami, nila, patin dan sebagainya. Tapi kok ga ada bunganya. Kami pun terus saja. Ada pasar bunga di kiri jalan tapi tidak kami gubris. Semakin masuk kedalam kami malah ketemu perkaampungan penduduk lagi. Daripada semakin jauh tersesat dalam desa, kami berhenti dan bertganya pada seorang bapak bersepeda motor yang berhenti di depan toko untuk menanyakan sawah bunga. “Lho sudah kelewat,mbak. Itu tadi yang banyak tanamannya. Pasar bunga di kiri jalan,” jelasnya. Kami pun langsung berbalik arah. Ribet cari Sawah Bunga ternyata tak ada yang pasang plang Sawah Bunga.hehehe.
Kami berhenti di depan Pasar Bunga Sekar Mulyo. Sembari geli kami tanyakan soal Sawah Bunga ini. ” Sawah Bunga itu istilah yang biasa orang berikan pada desa Sidomulyo Batu. Karena sebagian besar penduduknya petani Bunga,” jelas salah satu ibu penjual bunga di sini. Kami cuma bisa tertawa. Jadi tak ada kebun wisata khusus penuh bunga yang dikelola oleh investor.
Di Pasar Bunga Sekar Mulyo Desa Sidomulyo Batu ini ada beberapa kios bunga yang berjajar. Kami bisa memilih anekaragam tanaman yang kami mau. Harganya sangat miring. “Lebih murah daripada di Dewi Sri,” komen temanku. Tanaman jeruk sambal yang biasanya dijual dengan harga 25 ribuan disini ditawarkan dengan harga 15 ribu perak dan masih bisa ditawar. Aneka bunga mawar, melati, sepatu, anggrek dan sebagainya bisa dibeli dengan harga murah. Tanaman dedaunan seperti jemani, sri rejeki, sri harto ada semuanya. Buah-buahan yang dicangkok seperti mangga, sirsak, kelengkeng, rambutan pun juga ada. Semuanya harganya ditanggung lebih murah dibandingkan jika dibeli di Malang atau kota lainnya. Sangat cocok buat yang hobi koleksi bunga,buah dan tanaman deh.
Di belakang pasar itu ada kebun bunga dan tamanan itu. Kami sempat berfoto disana karena latar belakang pemandangannya bagus sebab tampak pegunungan di kejauhan. Meski agak berkabut karena habis gerimis.
Kami sempat membawa pulang 3 pohon bunga sepatu 3 warna, dan 5 tanaman hijau yang bercorak batik. Entah apa namanya. Dan semuanya cuma dihargai 35 ribu perak. Ga rugi deh jauh-jauh kesini bisa belanja bunga dan tanaman dengan harga murah. Ayo siapa suka tanaman, kalau jalan-jalan ke Batu jangan lupa mampir Sawah Bunga ya. hehehe
Minggu, Desember 25, 2011
Angsle Atau Ronde
Dinginnya kota Malang di malam hari membuat orang ingin minum yang panas-panas. Kemarin aku sengaja putar-putar cari wedang penghangat badan. Setelah sempat menyusuri sepanjang jalan Sukarno Hatta Malang, mataku tertuju ke sebuah gerobak dorong yang berhenti tepat di depan Taman Krida Budaya Malang. Tertulis Kedai Angsle dan Ronde. Aku pun langsung berhenti dan membelinya.
Awalnya aku dan temanku bermaksud minum di tempat itu. Tapi ternyata mesti lesehan di pinggir jalan. Penjualnya tak menyediakan kursi dan meja. Karena temanku pakai rok pendek yang bisa mengundang perhatian jika duduk di bawah maka kuputuskan lebih baik bawa pulang saja minuman yang kami pesan.
Kuperhatikan sepertinya menunya bervariasi. Ada yang dibungkusi seperti petolo (makanan berwarna mewah dan hijau terbuat dari ketan) yang biasanya dimakan dengan kuah santan. Aku tertarik mau pesan itu saja. "Pesan petolo satu ya, mas?" kataku. Mas penjualnya bingung. "Ini untuk angsle," jelasnya. Oo kukira khusus untuk petolo saja. Sebab seingatku di Kediri yang namanya Angsle isinya tanpa petolo.
Ternyata angsle di Malang berisi petolo, kentan, kacang ijo dan kuah santan putih. Rasanya perpaduan manis dan asin. Paling enak diminum panas-panas. Sedangkan wedang rondenya sama seperti wedang ronde pada umumnya yang berisi beberapa butir ronde yang terbuat dari tepung ketan, kacang goreng, agar-agar dan wedang jahe. Rasanya perpaduan manis dan pedas. Harga masing-masing perporsi 5000 perak. Hm mahal. Masih murah di Kediri. Tapi tak apa, asal ada. hehehe.
Awalnya aku dan temanku bermaksud minum di tempat itu. Tapi ternyata mesti lesehan di pinggir jalan. Penjualnya tak menyediakan kursi dan meja. Karena temanku pakai rok pendek yang bisa mengundang perhatian jika duduk di bawah maka kuputuskan lebih baik bawa pulang saja minuman yang kami pesan.
Kuperhatikan sepertinya menunya bervariasi. Ada yang dibungkusi seperti petolo (makanan berwarna mewah dan hijau terbuat dari ketan) yang biasanya dimakan dengan kuah santan. Aku tertarik mau pesan itu saja. "Pesan petolo satu ya, mas?" kataku. Mas penjualnya bingung. "Ini untuk angsle," jelasnya. Oo kukira khusus untuk petolo saja. Sebab seingatku di Kediri yang namanya Angsle isinya tanpa petolo.
Ternyata angsle di Malang berisi petolo, kentan, kacang ijo dan kuah santan putih. Rasanya perpaduan manis dan asin. Paling enak diminum panas-panas. Sedangkan wedang rondenya sama seperti wedang ronde pada umumnya yang berisi beberapa butir ronde yang terbuat dari tepung ketan, kacang goreng, agar-agar dan wedang jahe. Rasanya perpaduan manis dan pedas. Harga masing-masing perporsi 5000 perak. Hm mahal. Masih murah di Kediri. Tapi tak apa, asal ada. hehehe.
Warung Bu Haji Arema
Kalau jalan-jalan ke berbagai kota aku suka mencari tempat-tempat kuliner yang sudah direkomendasikan oleh pak Bondan Winarno (Jalan Sutra). Minggu lalu aku dan teman-temanku coba mampir ke warung yang terkenal dengan boso walikanne. Yaitu Warung Bu Haji Arema. Dulunya warungnya berada di jalan Ahmad Dahlan Malang tetapi sejak 2 tahun lalu berpindah tempat ke jalan Kauman (tak jauh dari Alun-Alun Malang).
Saat kami memasuki warung bu Haji Arema, suasananya sudah sepi. Mungkin karena waktu sudah menunjukkan jam 3 sore alias lewat makan siang sedangkan warung ini sudah buka sejak pagi hari. Meja kursinya dari kayu tertata rapi. Tampak tempak makanan dan pemanas di atas meja. Disisi lain tampak tumpukan berbagai jajanan oleh-oleh khas Malang yang bisa dibeli untuk oleh-oleh.
Saat kami asyik memperhatikan sekeliling, tiba-tiba perempuan yang bertubuh gemuk dan berjilbab keluar dari dalam rumahnya dan menyapa kami. "Mangga -mangga, mau pesan apa, Sapi menek pring, Penghijauan," katanya sembari membuka panci-panci berisi berbagai sayuran.
Aku dan teman-temanku langsung tersenyum, nama makanannya kok aneh. Kulihat disana ada sate daging sapi. Sate inilah ternyata disebutnya Sapi menek pring (sapi naik bambu). Hehehe ada-ada saja. Ia lalu menjelaskan menu yang disebutnya penghijauan maksudnya adalah botok yang berisi sayuran/kemangi,lamtoro dan tahu tempe. Walah kok bisa disebut penghijauan. wakakak.
Kami memesan nasi dengan sayur manisah. Lauknya sate daging sapi, opor kikil, dan ayam bakar. Tak lupa botok yang disebut penghijauan tadi. Plus sambal. Hm rasanya lumayan enak dan cocok di lidahku. Makanan disini umumnya lebih terasa cita rasa manisnya dibanding asin. Pedasnya juga tak terlalu menyengat alias cocok buat yang tak suka pedas. Tapi tak mengecewakan.
Sembari menemani kami makan, bu Haji bercerita kalau ia sudah membuka warung makan ini sejak tahun 1987. Dan sejak dua tahun ini pindah ke tempat baru di Kauman itu. Ia mengaku sengaja memberi nama menu makanannya dengan boso malangan yang suka membolak balikkan kata. Sego pecel jadi Oges Lecep, Ayam Bakar jadi Maya Rakab, Kikil jadi Likik, Lodeh jadi Hedol dan sebagainya. Kulihat ada aneka masakan yang dijualnya sayur asem, sayur bening, sayur sop, rawon dan aneka lauk. Ikan laut disebut Indosiar, Cumi-cumi disebut imut-imut, soto sapi dibilang otos ipas dan masih banyak lagi. Harganya juga tak terlalu mahal.
Gaya bu Haji dalam melayani pembelinya sangat menyenangkan. Ia sempat bertanya-tanya kami dari mana, ngantor dimana layaknya kenal lama saja. Ini mengingatkan pada Bu Rudi (pemilik rumah makan nasi udang Bu Rudi di Darmawangsa Surabaya) yang juga biasa melakukan hal serupa pada pembeli-pembelinya. Meski terkesan sederhana tapi sangat berkesan. Tak percaya datang saja kesana.
Saat kami memasuki warung bu Haji Arema, suasananya sudah sepi. Mungkin karena waktu sudah menunjukkan jam 3 sore alias lewat makan siang sedangkan warung ini sudah buka sejak pagi hari. Meja kursinya dari kayu tertata rapi. Tampak tempak makanan dan pemanas di atas meja. Disisi lain tampak tumpukan berbagai jajanan oleh-oleh khas Malang yang bisa dibeli untuk oleh-oleh.
Saat kami asyik memperhatikan sekeliling, tiba-tiba perempuan yang bertubuh gemuk dan berjilbab keluar dari dalam rumahnya dan menyapa kami. "Mangga -mangga, mau pesan apa, Sapi menek pring, Penghijauan," katanya sembari membuka panci-panci berisi berbagai sayuran.
Aku dan teman-temanku langsung tersenyum, nama makanannya kok aneh. Kulihat disana ada sate daging sapi. Sate inilah ternyata disebutnya Sapi menek pring (sapi naik bambu). Hehehe ada-ada saja. Ia lalu menjelaskan menu yang disebutnya penghijauan maksudnya adalah botok yang berisi sayuran/kemangi,lamtoro dan tahu tempe. Walah kok bisa disebut penghijauan. wakakak.
Kami memesan nasi dengan sayur manisah. Lauknya sate daging sapi, opor kikil, dan ayam bakar. Tak lupa botok yang disebut penghijauan tadi. Plus sambal. Hm rasanya lumayan enak dan cocok di lidahku. Makanan disini umumnya lebih terasa cita rasa manisnya dibanding asin. Pedasnya juga tak terlalu menyengat alias cocok buat yang tak suka pedas. Tapi tak mengecewakan.
Sembari menemani kami makan, bu Haji bercerita kalau ia sudah membuka warung makan ini sejak tahun 1987. Dan sejak dua tahun ini pindah ke tempat baru di Kauman itu. Ia mengaku sengaja memberi nama menu makanannya dengan boso malangan yang suka membolak balikkan kata. Sego pecel jadi Oges Lecep, Ayam Bakar jadi Maya Rakab, Kikil jadi Likik, Lodeh jadi Hedol dan sebagainya. Kulihat ada aneka masakan yang dijualnya sayur asem, sayur bening, sayur sop, rawon dan aneka lauk. Ikan laut disebut Indosiar, Cumi-cumi disebut imut-imut, soto sapi dibilang otos ipas dan masih banyak lagi. Harganya juga tak terlalu mahal.
Gaya bu Haji dalam melayani pembelinya sangat menyenangkan. Ia sempat bertanya-tanya kami dari mana, ngantor dimana layaknya kenal lama saja. Ini mengingatkan pada Bu Rudi (pemilik rumah makan nasi udang Bu Rudi di Darmawangsa Surabaya) yang juga biasa melakukan hal serupa pada pembeli-pembelinya. Meski terkesan sederhana tapi sangat berkesan. Tak percaya datang saja kesana.
Selasa, Juni 14, 2011
Orem Orem Bukan Arem Arem
Sejak beberapa tahun yang lalu Malang mulai gelar even Malang Tempo Doeloe setiap tahun sekali. Acara ini sengaja diadakan di sepanjang jalan Ijen yang merupakan jalan kebanggaan kota Malang karena masih banyak berdiri rumah-rumah kuno dan mewah disini. Setelah sempat gagal berkalikali, pertengahan bulan Mei lalu aku nekat berangkat ke Malang nonton even ini.
Ternyata yang kulihat tak seperti yang kubayangkan. Aku memimpikan melihat suasana kuno dan jadul. Tapi yang ada hanya bazar makanan jadul yang dikunjungi ribuan orang hingga berdesak desakan. Mau cari jajanan kuno memang ada semua seperti gulali, es gandul, kue moho, arum manis, aneka jajanan pasar dan lain-lain. Makanan khas malang seperti orem-orem, mi pangsit, bakso Malang, rawon, gado-gado jelas juga banyak dijual. Karena aku tak kuat melihat orang berdesak-desakan maka kami tak membeli dan mencoba makan apapun saat nonton MTD. Hanya jalan-jalan sebentar di area tersebut dan langsung pulang daripada kecopetan.
Walaupun begitu aku tetap ingin mencoba makan makanan khas Malang. Akhirnya Indah, sahabatku yang menetap di kota ini membawaku ke warung makan Orem-Orem. Aku sudah lama mendengar nama makanan itu. Dalam benakku seperti arem arem khas Solo yaitu sejenis lontong nasi yang didalamnya berisi cacahan daging,kentang,wortel yang dibumbui.
Kami meluncur menuju jalan Blitar Malang. Sejak dahulu kala di jalan Blitar ini berdiri sebuah warung yang terkenal dengan nama warung Orem-Orem Arema. Kami pun masuk ke warung yang sederhana ini. Penjualnya berdiri di depan gerobak dorongnya dan sibuk melayani pembeli. Aku lihat sekilas ia pasang lontong ketupat,ayam dan panci kuah di gerobaknya. Bukan arem-arem solo tapi sepertinya mirip soto.
Makanya waktu ditanya pakai lauk apa, aku memilih lauk ayam sedangkan Indah memilih telur. Begitu disajikan aku langsung berkomentar, "mirip lontong opor ya. " Memang penyajian orem-orem ini mirip lontong opor. Penjual orem orem menyajikan dalam mangkuk, potongan kupat, dengan sepotong paha ayam yang diguyur kuah kuning yang berisi potongan tempe dan kecambah rebus. Rasanya memang mirip opor atau soto bersantan. Gurih. Enak dimakan dengan menggunakan sambal. Kalau yang suka manis tinggal tambahi kecap. Karena tak suka makanan terlalu manis, aku makan orem-orem ini tanpa kecap. Enak kok.
Kulihat Indah menyantap orem-orem pesanannya.Telurnya dipotong menjadi dua dan dibubuhi kecap. Sepertinya mantap juga buat yang tak suka ayam. Dimakan dengan lauk kerupuk lebih sedap lagi. kriuk kriuk. Harga makanan ini juga masih murah. Menu orem orem ini sepertinya benar- benar khas Malang sebab aku belum pernah melihatnya beredar di Surabaya ataupun Kediri. Yang jelas Orem Orem beda dengan Arem Arem.
Ternyata yang kulihat tak seperti yang kubayangkan. Aku memimpikan melihat suasana kuno dan jadul. Tapi yang ada hanya bazar makanan jadul yang dikunjungi ribuan orang hingga berdesak desakan. Mau cari jajanan kuno memang ada semua seperti gulali, es gandul, kue moho, arum manis, aneka jajanan pasar dan lain-lain. Makanan khas malang seperti orem-orem, mi pangsit, bakso Malang, rawon, gado-gado jelas juga banyak dijual. Karena aku tak kuat melihat orang berdesak-desakan maka kami tak membeli dan mencoba makan apapun saat nonton MTD. Hanya jalan-jalan sebentar di area tersebut dan langsung pulang daripada kecopetan.
Walaupun begitu aku tetap ingin mencoba makan makanan khas Malang. Akhirnya Indah, sahabatku yang menetap di kota ini membawaku ke warung makan Orem-Orem. Aku sudah lama mendengar nama makanan itu. Dalam benakku seperti arem arem khas Solo yaitu sejenis lontong nasi yang didalamnya berisi cacahan daging,kentang,wortel yang dibumbui.
Kami meluncur menuju jalan Blitar Malang. Sejak dahulu kala di jalan Blitar ini berdiri sebuah warung yang terkenal dengan nama warung Orem-Orem Arema. Kami pun masuk ke warung yang sederhana ini. Penjualnya berdiri di depan gerobak dorongnya dan sibuk melayani pembeli. Aku lihat sekilas ia pasang lontong ketupat,ayam dan panci kuah di gerobaknya. Bukan arem-arem solo tapi sepertinya mirip soto.
Makanya waktu ditanya pakai lauk apa, aku memilih lauk ayam sedangkan Indah memilih telur. Begitu disajikan aku langsung berkomentar, "mirip lontong opor ya. " Memang penyajian orem-orem ini mirip lontong opor. Penjual orem orem menyajikan dalam mangkuk, potongan kupat, dengan sepotong paha ayam yang diguyur kuah kuning yang berisi potongan tempe dan kecambah rebus. Rasanya memang mirip opor atau soto bersantan. Gurih. Enak dimakan dengan menggunakan sambal. Kalau yang suka manis tinggal tambahi kecap. Karena tak suka makanan terlalu manis, aku makan orem-orem ini tanpa kecap. Enak kok.
Kulihat Indah menyantap orem-orem pesanannya.Telurnya dipotong menjadi dua dan dibubuhi kecap. Sepertinya mantap juga buat yang tak suka ayam. Dimakan dengan lauk kerupuk lebih sedap lagi. kriuk kriuk. Harga makanan ini juga masih murah. Menu orem orem ini sepertinya benar- benar khas Malang sebab aku belum pernah melihatnya beredar di Surabaya ataupun Kediri. Yang jelas Orem Orem beda dengan Arem Arem.
Minggu, Februari 13, 2011
Sate Hotplate
Hari ini bisa dibilang harpitnas. Sebab memang diapit dua hari libur. Kemarin hari Minggu dan besuk Selasa juga libur karena memperingati hari besar Maulud Nabi. Meski harpitnas begini kantorku tetap masuk. Padahal teman-teman dari kantor lain banyak yang ambil cuti. Coba aku libur pasti sekarang sudah lari ke Malang. Enakkan berlibur ke Malang. Ngomongin soal Malang jadi ingat makanan-makanan khas kota Malang. Jika kita jalan-jalan dari Malang ke Batu maka kita bakal menemukan sebuah rumah makan yang terkenal dengan nama Sate Hot Plate. Lokasinya di jalan Patimura Batu. Kalau dari Malang ada di kanan jalan sebelum masuk kota Batu.
Tempat makannya sederhana tapi tertata rapi. Boleh milih duduk di kursi atau lesehan. Sebenarnya rumah makan Sate Hot Plate Batu ini menjual beraneka ragam makanan. Tapi memang sate hotplatenya yang paling terkenal. Sebab memang berbeda. Umumnya sate disajikan dalam piring tapi disini disajikan dalam pinggan hotplate. Ada beberapa jenis sate yang dijual di rumah makan Sate Hot Plate Batu ini yaitu sate ayam, kambing dan daging. Selain itu ada menu gule dan rawon yang tak kalah menarik. Yang paling ngetop dari rumah makan ini memang sate kambing hotplate dan gulenya. Menurut rekomendasi teman-teman katanya daging kambing empuk, tak prengus dan rasanya maknyus. Gulenya juga lecker. Sayangnya aku alergi makan kambing makanya waktu mampir ke rumah makan ini bareng teman-teman tak mau pesan ini.
Aku dan teman-teman mencoba memilih menu sate ayam hotplate dan nasi rawon. Untuk minumannya kami pilih tape panas. Tape hijau panas ini mengingatkanku pada kota Jogya. Sebab jika ke Jogya aku selalu pilih minum wedang tape hijau ini sebagai teman makan di warung-warung kaki lima. Wedang tape panas di warung sate hot plate ini rasanya sama kok dengan yang di Jogya. Manis, asem dan panas sehingga menghangatkan badan yang belum terbiasa dengan hawa dingin kota Batu.
Menurutku nasi rawonnya sama dengan yang lain. Nasi putih dengan beberapa potong daging dan diguyur kuah rawon yang hitam itu. Rasanya standard alias sama atau tak terlalu istimewa. Kalau sate hot platenya baru istimewa. Penyajiannya saja beda. Sate ayamnya ditaruh dalam pinggan hotplate jadi panas banget. Dagingnya dibakar tak terlalu gosong tapi matang. Empuk banget dan enak. Maklum ayam kampung. Selain itu sebelum dibakar sudah dibumbui dengan kecap dan bumbu lainnya jadi lebih meresap.
Cara makan sate hotplate ini dengan bumbu kacang. Bumbu kacang ini menurutku malah mirip bumbu kacang di sate ponorogo. Tak terlalu banyak kecapnya. Tapi rasanya tetap manis. Yang bikin beda mesti dikucuri jeruk nipis. Jadi ada rasa asamnya. Bila suka tinggal tambahkan sambel dan irisan bawang merah. Tambah mantap deh. Seporsinya terdiri dari 10 tusuk. Boleh dimakan pakai nasi atau lontong. Terserah sesuai selera. Anda suka sate? silakan coba. Harga seporsinya seingatku kurang lebih 20 ribu rupiah.
Selasa, Februari 08, 2011
Jajan di Warung Es & Kue Mungil
Meski sering lewat tapi baru sekali aku jalan-jalan di kota Lawang. Kebetulan aku punya janji ke rumah salah seorang nara sumber di daerah tersebut. Karena belum menguasai medannya maka aku meminta dia untuk menjemputku di dekat pasar Lawang/jalan MH. Thamrin Lawang. Daripada bengong di pinggir jalan, sembari menunggu aku masuk ke sebuah toko kue. Ternyata namanya Warung Es dan Kue Mungil.
Warung Es dan Kue Mungil ini menjual aneka macam kue. Mulai kue basah seperti lumpia, risoles, kroket, martabak hingga beragam kue kering. Ia juga menyediakan aneka es, mulai es teler, es kacang ijo , es campur hingga aneka macam juice buah (alpukat, tomat, jeruk, dan sebagainya). Mereka juga menjual nasi campur. Makanya di tempat ini disediakan meja dan kursi pula.
Aku sengaja memesan lumpia dan martabak. Untuk minuman kupilih teh panas. Teh panas cocok untuk mengusir hawa dingin kota Lawang. Kuhirup teh manis panas pelan-pelan. Hm enak. Lumpianya maknyus. Kulitnya gurih. Isinya rebung dan ayam juga pas di lidah. Tak terlalu asin tapi juga tak semanis lumpia Semarang. Dimakan dengan saos dan cabe lebih enak yummy lagi. Martabak telurnya juga lezat. Gurih banget. Pokoke mantap.
Tiba-tiba aku jadi ingat pernah minum es di warung es dan kue mungil juga tapi yang berada di jalan Jaksa Agung Suprapto Malang beberapa bulan sebelumnya. Usut punya usut ternyata memang warung tersebut satu pemilik. Mereka sekarang punya beberapa warung baik Lawang maupun Malang. Kue-kuenya memang enak. Cocok pula untuk oleh-oleh. Kemarin aku coba beli bakpia waluh untuk buah tangan keluarga di rumah. Hm ternyata gurih dan lebih lezat dibanding bakpia dengan bahan dasar lainnya. Silakan coba jika ke Malang.
Gurihnya Ayam Goreng Tenes
Tempat wisata kuliner di kota Malang memang banyak sekali. Buat yang hobi makan ayam, sekali tempo coba saja Ayam Goreng Tenes. Dinamakan Ayam Goreng Tenes karena memang lokasinya berada di jalan Tenes 12 Malang. Tempat ini tak jauh dari stadiun Gajayana atau MOG. Lokasinya nyaman. Teras rumah disulap jadi tempat makan. Kebetulan model rumah peninggalan jaman dulu jadi terkesan asyik. Tapi kini rumah makan ini sudah disulap lebih modern. Pengunjung bisa duduk di bangku dan meja panjang sembari melihat taman bunga nan sejuk. Agar pengunjung nyaman juga disediakan toilet dan mushola.
Dari namanya saja sudah ketahuan jika menu utama warung makan Ayam Goreng Tenes ini adalah ayam goreng. Tidak usah khawatir sebab bahan dasarnya ayam kampung. Kita bisa memilih paha atau dada. Selain itu kita bisa memesan usus, kepala dan ati ampela. Selain ayam, kita juga bisa memesan gurami, cumi-cumi, paru goreng, lele goreng, bandeng tanpa duri, tempe/tahu penyet, aneka sambel, ca kangkung dan sebagainya.
Pertengahan bulan lalu saat aku aku dan sobatku Indah mampir ke Ayam goreng Tenes ini. Kami coba memesan paha goreng,usus/paru goreng, ca kangkung dan tempe penyet. Hm rasanya maknyus. Ayamnya digoreng kering. Sepertinya dibumbu dan diungkep dulu jadi meresap hingga kedalam. Gurih banget. Dimakan dengan nasi dan sambel trasi dan kecap tambah mantap. Usus goreng dan paru goreng juga digoreng garing. Kriuk-kriuk dan gurih banget. Tempe penyetnya top. Sambelnya menggunakan cabe mentah, pedasnya nendang banget. Ca kangkungnya juga enak.Kangkungnya dimasak dengan bawang putih, irisan cabe merah dan saos tiram serta ditambah telur puyuh rebus. Asin dan pedas.
Habis melahap makanan pedas, kami kepedasan. Untung kami langsung minum es yang sudah kami pesan. Juice melon yang segar bisa hilangkan pedas dan dahaga. Sebenarnya ada beragam minuman yang ditawarkan selain juice, es teh, es jeruk, es sirup dan sebagainya. Jika tak suka minuman dingin, bisa pesan teh panas atau jeruk panas. Pokoknya dijamin puas. Harganya juga standard atau bisa dibilang tak terlalu mahal untuk ukuran rumah makan.
Minggu, September 26, 2010
Warung Waru2
Siang ini cuaca di kota Surabaya panas menyengat. Beda sekali dengan suhu udara di Malang yang amat sangat dingin. Tentunya aku benar-benar merasakan perbedaannya karena baru tadi pagi aku balik dari kota Malang setelah dua hari ada kerjaan yang mesti kuselesaikan di kota apel tersebut. Tadi pagi sebelum balik ke Surabaya aku menyempatkan diri sarapan di sebuah warung di kawasan Belimbing Malang. Nama warungnya adalah warung Waru 2. Lokasi tepatnya adalah di jalan Borobudur no 7 atau tepat di depan pasar Belimbing Malang.
Warung Waru2 ini merupakan sebuah warung makanan rumahan. Mereka menyediakan beragam menu makanan seperti rawon, soto, nasi kare ayam, tongkol, nasi botok, nasi krengsengan, dan sebagainya. Warung ini juga menyediakan aneka lauk seperti ayam goreng, bandeng presto, sate komoh, sate usus, perkedel, bakwan jagung, mendol dan sebagainya.
Saat tadi pagi aku memasuki warung yang berada di tepat di ujung jalan candi kalasan ini, kulihat benar-benar merupakan warung sederhana. Baik dalam bentuk dan penataannya. Mungkin karena mereka merupakan warung lama jadi sengaja bertahan dengan gaya lama. "Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1994. Dulunya kecil sekarang sudah agak diperbesar," ungkap bu Sri, pemilik warung ini.
Walaupun begitu soal cita rasa makanan, warung waru2 ini takkalah dengan rumah makan besar. Nasi rawonnya sangat enak. Kuahnya pas dilidah. Potongan dagingnya sedang dan tak alot. Selain itu yang membedakan dengan rawon lain adalah menggunakan taburan serundeng kelapa manis. Hm tambah nikmat. Apalagi jika dimakan dengan banyak sambal jelas lebih mantap.
Sedangkan nasi tongkolnya tak kalah enak. Tongkolnya dimasak dengan tahu dan potongan cabe hijau dengan santan. Rasanya gurih dan pedas. Jelas enak. Perkedel kentangnya juga maknyus. Kentangnya diuleg halus. Karena dimasak dengan telur dengan bumbu bawang yang banyak jadi enak di lidah. Mendol tempenya juga lumayan enak. Pokoknya semua menunya kelihatan menarik deh. Harganya juga tak mahal. Bisa dicoba lagi jika main ke Malang. Tapi ingat warung ini hanya buka dari pagi hingga jam 3 sore. Lewat dari itu tak jamin kebagian.
Senin, Mei 17, 2010
Warung Lama H. Ridwan
Minggu lalu aku berlibur ke Malang. Kali ini aku sengaja refreshing, jalan-jalan tanpa mikirin pekerjaan sama sekali. Uenak tenan. Tempat yang kukunjungi pun juga hanya seputar dalam kota Malang saja alias tidak sampai Batu atau Pujon. Walaupun begitu tetap menyenangkan. Sebab Malang punya segudang tempat wisata kuliner yang bisa dikunjungi. Salah satu tempat makan yang sempat kukunjungi kemarin adalah warung lama H. Ridwan. Terus terang warungnya bukan berada di pinggir jalan ataupun ruko tetapi di dalam pasar. Lokasi warung Lama H. Ridwan ini di lantai dasar Pasar Besar Malang. Meskipun di dalam pasar tetapi tempatnya lumayan besar dan nyaman. Warung ini termasuk rumah makan kuno yang bisa bertahan hingga sekarang. Bagaimana tidak, warung lama H.Ridwan ini sudah berdiri sejak tahun 1925. Berarti sudah 75 tahun. Hal ini tentu karena makanannya memang istimewa. Beberapa menu yang dijual di warung ini seperti nasi rawon, gule sapi, kare ayam, nasi campur, dan sebagainya. Rasanya mantap semua alias uenak. Kemarin aku dan kawan-kawan memesan menu nasi gule sapi, nasi kare ayam dan nasi campur. Nasi gule sapinya terdiri dari nasi dengan gule daging dan jerohan. Kuahnya berwarna kuning dan penuh bumbu. Tetapi rasanya tak terlalu asin. Jadi pas di lidah. Dimakan dengan acar kuning dan sambal cabe tambah uenak. Nasi kare ayamnya hampir mirip seperti itu. Sedangkan nasi campurnya terdiri dari nasi, kreing tempe, acar mentimun dan wortel dan krengsengan daging. Rasanya maknyus. Bila ingin tambah lauk bisa ambil sate usus atau sate komo. Sate komo merupakan menu andalan kota malang. Sate komo ini sepertinya daging dipotong-potong lalu dimasak dengan bumbu merah kemudian dimasukan dalam tusukan sate dan dibakar. Rasanya uenak. Sedangkan sate ususnya sepertinya ususnya dimasak dalam bumbu gule atau kare dan selanjutnya dimasukkan dalam tusukan sate dan dibakar. Maknyus deh. Asin dan gurihnya tepat. Pokoknya bisa diulang kalau ke Malang lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)



























