Tampilkan postingan dengan label Jogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogyakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 27, 2013

Sarapan Gudeg Yu Djum

Hai para penggemar kluyuran. Kangen juga lama ga berbagi cerita soal jalan-jalan dan makan-makan. Biasa ribet ama kerjaan kantor. Kali ini aku mau cerita soal jalan-jalan ke Jogya. Akhir Maret lalu aku menghadiri even di JEC Jogya. Sempat ketemu dan ngobrol ama GKR Maduretno, putri ketiga Sultan Hamengkubuwono X. hm senengnya, sampai pamer.hehehe. Dan tak ketinggalan aku juga wisata kuliner ama teman-teman di Jogya. Kemarin dari Jakarta aku berangkat ke Jogya bareng teman lama, Ira. Dari awal dia udah ngotot minta ditemenin ke gudeg yu Djum. Makanya turun dari KA Taksaka kami langsung ke wijilan. Naik becak 15 ribu dari stasiun Tugu ke jalan Wijilan.

Jam baru menunjukkan pukul setengah 7 pagi ketika kami sampai di kawasan Wijilan. Jalanannya sudah mulai rame. Widjilan kan memang terkenal sebagai pusatnya gudeg. Di sepanjang jalan Wijilan yang tak jauh dari alun-alun utara Jogyakarta itu berjejer penjual gudeg. Ada beberapa nama. Tapi kami tetap masuk ke warung gudeg Yu Djum. Karena memang dianggap kuno dan mengandung sejarah. Berdiri sejak tahun 1946 alias masih jaman perang.

Tempatnya tak terlalu besar. Kami duduk lesehan sembari menunggu makanan siap disajikan.Menu utama disini jelas gudeg. Yang komplit isinya gudeg, sambel goreng krecek kacang tolo, opor ayam kampung dan telur itik dan areh. Juga ada tahu dan tempe. Mereka mempersiapkan pesanan pembeli di bagian depan warung. Bisa dimakan di tempat, atau dibawa pulang. Bawa pulang pun bisa gunakan kotak, besek atau kendil. Tergantung permintaan pembeli. Harganya jelas berbeda-beda.

Aku memesan gudeg krecek tanpa nasi sedang ira memesan nasi gudeg telur suwir. Rasa gudeg ini manis. Kalau pingin pedes tinggal haluskan cabenya. Jangan cari sambel karena gudeg jogya tanpa sambel. Enak untuk penggemar gudeg. Berhubung aku tak suka gudeg manis maka kubilang lumayan saja. Aku lebih suka gudeg solo atau semarang yang lebih basah dan gurih. Yang jelas harganya standard. Bisa memilih sesuai ukuran kantong. Mulai sekitar 8 ribuan. Silakan mencoba jika ke Jogya. Selain di Wijilan, gudeg yu Djum juga buka cabang di jalan Dagen. Tempatnya malah lebih enak dan nyaman.

Selasa, Desember 04, 2012

RM Ikan Bakar Ala Indonesia Timur

Setelah beberapa lama vakum, khirnya aku punya kesempatan nulis di blog kluyuranku lagi. Sebulan ini aku memang mulai kesibukan baru semenjak punya onlineshop, http://rachmira-onlineshop.blogspot.com. Tokoku ini lebih kufokuskan pada menyediakan aneka tas. Alhamdulillah pelanggan mulai berdatangan. Makanya aku berusaha memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya.Selain senang dapat kenalan baru (customer baru), teman-teman lamaku yang kini tersebar di berbagai kota di Indonesia banyak jadi customerku. Mulai dari Cilegon, Jakarta, Jogya, Kudus hingga Malang langsung percaya membeli tas-tas yang kujual. Alhamdulillah jadi jalin silaturahmi lagi dengan teman-teman.

Bicara tentang penghobi tas dan teman lama, jadi ingat 2 bulan lalu sempat ditraktir Heni, teman kuliahku yang kini berdomisili di Jogya dan biasa belanja tas di tokoku (Terimakasih Hen). Aku diajak makan di warung ikan bakar langganan bos dan teman-teman kantornya. Namanya warung makan ikan bakar Rasa Sayange atau biasa disebut warung bu Ning. Lokasinya di utara Tugu, dekat perempatan Jetis. Jalan Jetis Pasiraman Jogya. Warungnya ada dua berhadapan. Mengingatkanku pada warung selat mbak Lies di Solo. Meski warungnya kecil tapi bersih. Pelayannya juga ramah.


Aku sudah membayangkan ikan bakar manis seperti yang biasa kumakan. Tapi kulihat di etalase warung kok ikannya lain. seperti ikan bawal, nila,kerapu dan sebagainya. Lalu ada aneka umbi-umbian rebus. Hm jadi tertantang ingin menyobanya. Kami pesan 2 porsi ikan bakar, ternyata pas muncul di hadapanku bikin akui terheran-heran. Ini versi Ikan Bakar Indonesia Timur. jadi ikannya tak dibakar pakai kecap, rasanya hambar. Agar nikmat mesti memakannya pakai sambal colo-colo. teman makan ikan bakar ini adalah urap, tapi beda versi dengan urap jawa. Urapnya dari daun pepaya dan entahlah daun apa dan bumbunya pun ku taktahu. Sambalnya lebih terasa asam daripada pedas padahal sudah dikasih cabe dan bawang merah. Beda, benar-benar beda.
Bukan cuma ikan bakar dan urapnya yang bikin aku heran, ternyata biasanya ikan bakar ini tak dimakan dengan nasi tapi dengan sagu. Model sagunya mirip lem. Dimakan dengan kuah kuning. Yang pasti makanan ini rasanya asam. Sambalnya pun lebih terasa asam daripada pedasnya. Orang Jawa bilang kecut sekali. Sepertinya mereka tak pakai garam dalam semua masakan. Semuanya mengingatkanku makanan di Makassar. hehehe sesama Indonesia Timur. Tapi asyik juga mejajal makanan baru ini. jadi nantinya kalau ke Indonesia Timur tak kaget.Yang lebih bikin ku geleng-geleng lagi. 2 porsi ikan bakar komplit plus minum tak sampai habis 50 ribu. Wow murah. Cuma Jogya yang bisa begini. Thanks traktirannya, Henis. InsyaAllah kalaui ke Jogya lagi ganti aku yang traktir dan coba makanan Jogya yang lain lagi.


Rabu, Oktober 17, 2012

Sehari di Kaliurang

Mendapat undangan reuni bersama 2 orang sahabatku di Jogya tentu tak kulewatkan. Sudah lama sekali kami tak berkumpul bersama semenjak lulus SMP dulu. Akhirnya kuputuskan datang menemui mereka di Jogya. Kebetulan minggu kemarin aku memang punya agenda pekerjaan di Jogya. Jadi sembari kerja bisa sembari reunian.

Karena mereka lebih dulu bisa ngumpul di Kaliurang maka mereka berdua (Yusi dan Kunti) langsung jalan-jalan ke kawasan wisata Kaliurang Jogyakarta. Dan satu tempat yang mereka sempat kunjungi adalah tempat almarhum mbah maridjan. Bahkan mereka nekat naik trail melewati kawasan berpasir di lereng merapi hingga bisa berpose bersama istri almarhum mbah Maridjan. Sayang sekali aku tak bisa ikut bersama mereka karena masih ada urusan di Jogyakarta.

Paginya saat teman-teman jadulku masih di Jogya aku terpaksa sarapan dulu bersama mbak Cay (sobatku semasa kuliah) di Jogya. Soto ayam pak Gareng jadi menu sarapan kami kala itu. Soto ayam pak Gareng yang berada di jl P Mangkubumi /depan stasiun Tugu Jogyakarta memang jadi salah satu makanan favoritku kalau ke Jogya. Apalagi isi kuahnya tak cuma potongan ayam, kubis, suun tapi juga  menggunakan lento yang terbuat dari ketela pohon. Hm uenak sekali.
Siangnya aku melaju menuju kawasan Kaliurang. Karena lapar aku mencari tempat makan di kawasan jalan Kaliurang km 6,5 Jogya. Entah mengapa aku jadi tertarik mampir di warung ayam bakar pedes Arto Moro. Wow ternyata tak salah pilihanku. Warung ini termasuk populer di sini. Banyak hiasan dinding yang berisi tanda tangan artis-artis ibukota yang pernah makan disini. Tempatnya lumayan luas dan artistik.
Pelayannya langsung mengangsurkan menu begitu aku duduk. Sebenarnya mereka menawarkan beberapa menu paket murah seperti nasi dan kepala ayam dan minum seharga 7000 rupiah, atau nasi dengan kepala ayam 2 seharga 9 ribu rupiah. Tetapi aku sengaja memilih menu lengkap. Sebenarnya ada 2 pilihan ayam bakar disini ayam bakar manis/biasa atau ayam bakar pedas. Kali ini aku pilih ayam bakar pedas. Ditambah sayur asam. Dan untuk minumannya kupilih juice apel. Ternyata selain juice, es teh dan es jeruk, minuman yang paling banyak dipesan disini adalah es timun keruk. Sayang aku tak membelinya.
Sayur asemnya lumayan. Perpaduan manis, asin dan asamnya pas. Isinya juga beragam mulai kacang panjang, labu siam hingga jagung manis. Mantablah. Ayam bakar pedasnya patut diacungi jempol. Bisa dibilang salah satu ayam bakar terenak yang pernah kusantap. Bumbunya mantap. Ayamnya lunak. Bakarnya tak terlalu gosong. Ukurannya besar tapi lunak dagingnya. Rasanya benar-benar beda. Puedes dan manis. Pokoke uenak dan bisa diulang. Sayangnya juice apelnya ga ada rasa, mungkin karena aku pesan tanpa gula sedangkan mereka mungkin sediakan apel hijau jadi tak ada manisnya. Coba aku pesan es timun keruk pasti enak. hiks.

Sorenya aku menikmati berkumpul bersama sahabat-sahabatku. Curhat dan ketawa- ketiwi. Kami sempat berbelanja batik di Malioboro. Juga membeli bakpia-pia Jogya di kawasan Dagen Jogyakarta. Rasanya macem2, bisa pilih campur-campur. Dari mulai rasa kacang hijau, keju, pisang keju, nanas, durian hingga cappucino.Harganya sekitar 25 ribu sekotak. Yang jaga baik hati,boleh mencoba sesuka hati.hehehe.

Malamnya kami kembali ke Kaliurang. Kebetulan kami memilih menginap di rumah Kunti yang berada di kawasan jl Kaliurang km 15 an, tak jauh dari kampus UII. Karena masih ingin membeli tambahan oleh-oleh, akhirnya aku menemani Yusi lagi berbelanja ke Mirota Batik yang berada di jl Kaliurang Km 16. Disana kita bisa memilih oleh-oleh sesuai selera. Mulai baju, celana, daster, sprei hingga sepatu dan tas dari batik juga ada.

Usai berbelanja kami berdua memutuskan makan di Warung Raminten yang berada persis di samping Mirota Batik. Wow eksotik, remang-remang. Yang melayani pakai baju jawa. Mengingatkanku pada warung Raminten yang ada di kawasan Kota Baru Jogyakarta. Tetapi ini tempatnya lebih luas. Sebenarnya disini menjual aneka menu. Mulai nasi kucing hingga mi goreng jawa juga ada. Karena berada di kawasan Kaliurang yang dingin kami pilih menu bakso campur/bakso koruptor dan mi goreng jawa (rebus). Wow porsinya guede. Soal rasa lumayanlah. Harganya juga masih terjangkau. Ditambah semangkuk es campur dan juice kami hanya membayar sekitar 50 ribu rupiah. Hm menarik kan.

Meski sudah lelah jalan-jalan, dan berbelanja tetapi kami masih tetap melanjutkan ngerumpi hingga larut malam. Maklum saja, rasanya ada saja yang jadi bahan cerita kami bertiga. Kalau tak ingat pagi kami mesti segera cabut tentu ga tidur-tidur. Malam itu udara Kaliurang tak terlalu dingin. Jadi kami bisa tidur dengan nyenyak. Paginya, kami siap diantar pulang ke Jogya. Sebelumnya kami mencari oleh-oleh khas Kaliurang. Apalagi kalau bukan jadah dan tahutempe mbah Carik. wow sangat enak disantap panas-panas. Jika suka, Anda juga bisa membeli wajik dan aneka kerupuk khas Kaliurang disana.
Sesudah membeli oleh-oleh kami langsung melaju ke Jogya. Kami ditraktir Kunti sekeluarga sarapan di gudeg Yu Narni yang berada jl Kaliurang Km 4,5 Karang Asem utara FKH UGM. Ini sama dengan yang ada di Kebondalem/jl. P. Mangkubumi Jogyakarta. Varian gudeg kering khas Jogya langsung tersaji. Manis pasti rasanya. hehehehe. Yusi pun juga membeli sebungkus gudeg komplit untuk oelh-oleh keluarganya di Cilegon. Dengan harga 50 ribu sudah dapat gudeg komplit. Mantablah.


Yang pasti meski sehari tapi semua itu jadi sesuatu yang mengesankan untuk kami bertiga. Jarang-jarang kan bisa reunian begini mengingat kami tinggal di 3 kota yang berjauhan. Terimakasih untuk Yusi dan Kunti. Moga lainwaktu kita bisa reunian lagi.




Selasa, Maret 13, 2012

Bakso Pak Kirno

Berkali-kali ke Jogyakarta aku belum pernah hunting bakso. Entah mengapa hari Minggu kemarin aku tiba-tiba ingin makan bakso pas di Jogya. Akhirnya mbak Cay, sahabatku yang kerepotan mencarikan info warung bakso seperti keinginanku. Mauku satu, harus ada gorengan baksonya. Aku sempat berburu di google nama-nama warung bakso yang paling banyak direkomendasikan para penikmat kuliner. Tapi tak menemukan solusinya. Kemudian mbak Cay memutuskan mengajakku ke warung bakso pak Kirno.



Warung bakso pak Kirno berada di jalan Agus Salim Jogyakarta. Lokasinya tak jauh dari kawasan jalan Ngasem. Warung bakso ini buka mulai jam 1 siang hingga malam hari. Dari luar warung sudah kulihat gerobaknya dan tampak gorengan yang besar-besar di kaca almari gerobak. Hm ini yang kumau. Pasti enak deh.hehehe.
Kami memesan 2 mangkuk bakso campur dan es teh. Wow ternyata dalam semangkuk bakso ada 4 butir bakso daging, potongan bakso goreng dengan mi kuning dan mi putih dan didalam kuahnya ditaburi seledri dan bawang goreng. Hm benar-benar menggoda selera untuk segera menyantapnya. Tahu tidak, semangkuk bakso ini ternyata harganya masih 5000 perak. cocok deh.
Wow bakso dagingnya lumayan. Rasanya gurih, tak terlalu asin. Perpaduan daging, pati dan bumbu lainnya pas, jadi tak terlalu terasa daging saja atau pati saja. Wow gorengan baksonya ini yang kusuka. Sepertinya hanya terbuat dari pati dan bumbu-bumbu lainnya. Beneran seperti pati goreng. Tetapi dimakan dengan kuah sangat mantap. Kuah bakso pak Kirno cenderung agak kental. Tak terlalu bening. Rasanya cenderung agak asin. Jika suka tinggal tambah sambal, saus  dan kecap untuk pembeda rasa kuah,

Terus terang aku paling suka gorengan baksonya. Makanya aku pun memesan lagi seporsi gorengan bakso. Gorengan bakso yang sudah dipotong-potong ini kumasukkan ke dalam kuah bakso. Wow mantap deh. Sepertinya model gorengan bakso kayak begini adanya di Jogya dan kota-kota di Jawa Tengah. Sebab di Jawa Timur kan beda. Coba saja kalau tak percaya.  
 

Rabu, Maret 07, 2012

Soto Pak Sholeh

Hari ini merupakan hari ke 8 aku tour of duty. Dan Jogya merupakan kota ke 5 yang kukunjungi setelah Jakarta, Bogor, Solo dan Salatiga. Turun dari kereta Madiun Jaya, bukannya jalan-jalan ke Malioboro atau cari tempat makan siang, aku malah ke warnet karena ada kerjaan yang harus segera dikirim ke kantor. Kebetulan nih ada warnet di HOS Cokroaminoto YK yang biasa kukunjungi.

Ngomongin jalan HOS Cokroaminoto Yogya, aku jadi ingat satu tempat makan yang letaknya tak jauh dari sini yaitu soto pak Sholeh. Penggemar soto pasti sudah pernah nyobain soto Pak Sholeh yang berada di kawasan Tegalrejo Yogya ini. Warungnya kuno. Lumayan besar. Jadi bisa muat orang banyak. Aku sudah pernah 2 kali makan soto di sini dengan mbak Cay, sahabat baikku yang tinggal di kota gudeg ini.

Soto pak Sholeh merupakan soto daging. Dengan varian kuah bening mirip soto sejenis di Yogya, Solo atau Semarang. Jangan bayangin seperti soto sulung madura. Sepertinya kuah soto pak Sholeh tak gunakan kunyit, jadi beneran bening. Lalu isinya cuma potongan daging, taoge,kubis, seledri. Jarang terlihat lemak. Kalau Anda penggemar jerohan, tinggal memesan babat, paru, iso/usus sesuai selera. Biasanya jerohan ini dimasak dengan cara dibacem.

Oya pingin tahu rasa soto pak sholeh. Hm enak, gurih. Tapi jika kurang asin ya tinggal nambah garam. Kurang pedes tinggal tambah sambel. Dimakan pakai potongan jerohan yang manis hm tambah mantap deh. Tapi ingat jangan banyak-banyak soalnya bisa kolesterol tinggi nanti. hehehe. Kalau sekali-sekali tak apa-apa kok.

Selain jerohan, kita juga bisa tambah aneka lauk lainnya. Ada kerupuk, tempe,bergedel dan sebagainya. Silakan ambil yang disajikan di meja asalkan jangan lupa membayarnya di kasir. Jika, haus silakan pesan minuman sesuai keinginan. Kalau di Jogya aku jarang pesan es teh. Lebih senang minum es tape hijau atau wedang tape. Rasanya perpaduan manis dan asam. Nikmatlah. Tak percaya silakan coba kalau Anda ke Yogya.Ingat Soto pak Sholeh tidak buka cabang di kota lain.

Jumat, Oktober 21, 2011

Rujak Es Cream Pakualaman

Musim panas kali ini memang sangat panjang. Apalagi di Surabaya. Kami sering iri bila mendengar kota-kota lain sudah diguyur hujan. Sedangkan mendung pun seakan masih enggan muncul di Surabaya. Bisa dibayangkan seperti apa panasnya Surabaya. Udah panas, gerah pula. Makanya jika tak penting-penting amat, orang ogah keluar rumah atau kantor. Semua berdoa agar listrik tak padam supaya bisa menikmati hawa dingin dari AC atau kipas angin.

Jika sudah musim panas begini, kami selalu ingin minum es melulu. Tak peduli mau es teh, es campur, es degan, es juice. Semua tak bakal ditolak. Coba saat ini aku sedang berada di Jogya pasti bisa mencoba salah satu menu es favoritku yaitu rujak es cream. Di Jogya menu rujak es cream sudah cukup populer. Di beberapa tempat sudah banyak yang menjual menu minuman ini.

Salah satu penjual rujak es cream yang jadi rujukan banyak orang di Jogyakarta adalah yang berada di alun alun Pakualaman Jogyakarta. Di pinggir alun-alun Pakualaman Jogya memang berderet penjual makanan dan minuman. Di pojok utara ada warung "Rujak Es Cream Pak Sony".  Kita bisa minum di kursi dan meja yang sudah disediakan di sana. Bila lapar tinggal pesan bakso atau gado-gado pada pedangan lainnya sebagai pelengkap minum rujak es cream.

Rujak es cream merupakan perpaduan rujak dan ice cream. Ice creamnya adalah ice cream tradisional yang lebih mirip es puter yang suka dijajakan di kota-kota kecil. Rujaknya merupakan rujak buah yang diserut dan diberi bumbu gula jawa. Bisa disajikan pedas atau tidak pedas sesuai selera. Nantinya saat penataan dalam mangkuk, rujak serutnya ditaruh dibawah, ice creamnya ditaruh diatas. Rasanya mantap. Manis, asam , pedas dan segar. Benar-benar bikin ketagihan. Harganya juga masih murah. Beberapa bulan lalu seporsi rujak ice cream masih seharga sekitar 3000 perak. Entah sekarang sudah naik atau belum. Tapi yang pasti layak dicoba jika Anda ke Jogya.

Tapi kini sudah mulai ada penjual rujak es cream di kota-kota lain. Aku udah pernah melihat ada penjual rujak ice cream di sekitar kawasan Gayungsari/dekat Masjid Agung Surabaya. Selain itu bagi warga sekitar Kediri yang ingin mencobanya bisa membeli rujak ice cream di jalan HOS Cokroaminoto Kediri (timur pasar Pahing/depan ponpes LDII). Ayo siap-siap membelinya. 

Soto Kadipiro

Rasanya sudah lama banget blog kluyuranku ga kutengokin. Maaf ya teman-teman, bukan karena aku ga pernah jalan-jalan tapi kesibukan buatku tak sempat nulis di blog ini. Pulang luarkota langsung ngerjain tugas seabreg. Makanya jadi terlupakan deh blognya. Hehehe. Moga sesudah ini aku bisa atur waktu sehingga aku juga bisa sharing tempat-tempat wisata kuliner yang udah kukunjungi.

Beberapa hari yang lalu semua mata orang tertuju pada Jogyakarta. Royal Wedding Kraton Jogya memang buat semua orang terpukau dan senang. Apalagi wajah anggota keraton yang baru, mas Ubai, wow gantengnya. Pas mendampingi mbak Reni, putri bungsu Sultan. Sayangnya aku yang biasa mondar mandir ke Jogya pas peristiwa akbar itu malah ga di Jogya. Gagal deh melihat even besar ini. hiks.

Dengar-dengar saat digelar Royal Wedding kemarin di Malioboro diselenggarakan pesta rakyat juga. Masyarakat boleh menikmati angkringan secara gratis. Wow enaknya. Tentu bisa santap makanan enak-enak di Jogya dong. Aku selalu ngiler jika dengar makanan Jogya. Aku doyan berbagai makanan Jogya. Salah satu makanan yang aku gemari di Jogya tentu adalah soto.

Di blog ini aku udah menulis beberapa warung soto yang enak yang udah pernah kukunjungi. Sekarang aku mau nulis lagi satu lagi tempat yang bisa direkomendasikan untuk penggemar soto yaitu Soto Kadipiro. Soto Kadipiro ini termasuk warung soto yang sudah ada dari jaman Belanda. Didirikan tahun 1921 oleh Karto Wijoyo. Sekarang sudah diteruskan oleh generasi penerusnya. Lokasinya berada di jalan Wates Jogyakarta atau barat perempatan Wirobrajan.

Melihat dari tampilan luar warungnya udah terlihat kuno. Bangunannya masih gunakan kayu-kayu jaman baheula. Masuk kedalam kursi dan mejanya ditata sederhana. Banyak foto-foto yang dipasang sebagai bukti keoetentikan atau keaslian warung soto kadipiro ini. Juga banyak ornamen tradisional dan kalender yang terpasang disana. Sedangkan penjual dan asisten-asistennya menggunakan seragam batik sebagai tanda asli ngayogyakarto.

Warung Soto Kadipiro ini sudah buka sejak pagi hari. Makanya saat aku bersama sahabat setiaku,mbak Cay, sarapan disana sebelum berangkat kerja, warungnya sudah ramai oleh pembeli. Kami sengaja memesan soto. Penyajiannya sangat menggoda selera. Dalam satu mangkok diberi kuah soto dari kaldu ayam kampung dengan suwiran ayam kampung, taoge dan kubis serta ditaburi daun bawang dan bawang goreng.

Sebagai teman makan soto, kita bisa memilih perkedel, tempe, serta berbagai bagian ayam seperti sayap, kepala dan sebagainya. Sayap ayam ini digoreng tapi sebelumnya sudah direbus dulu dengan bumbu. Jadi rasanya enak dan empuk. Juga ada pilihan berbagai macam sate ati, ampela yang mantap untuk disantap.

Makan soto Kadipiro panas-panas di pagi hari hm suedap banget.  Kuahnya pas di lidah menurutku. Tapi jika yang suka manis tinggal menambahkan kecap. Yang suka asin tambah garam. Dan yang hobi makan pedas kayak aku, tinggal nambahin sambelnya sebanyak-banyaknya. Jika di warung soto lain sambelnya hanya terbuat dari cabe saja atau cabe dan kecap kalau di warung soto kadipiro berbeda. Sambelnya menggunakan perpaduan cabe dan tomat. Jelas tambah nikmat menurutku.

Makanya Anda yang mengaku mania soto mesti mencobanya kalau sedang jalan-jalan ke Jogyakarta. Sepanjang jalan Wates ada beberapa warung soto Kadipiro. Tapi yang paling kuno jelas warung soto kadipiro yang kukunjungi ini. Tempatnya di kanan jalan. Dengan warna dominan hijau dan ada penjual koran di depannya.

Selasa, Oktober 19, 2010

Soto Sulung Setasiun Tugu


Berjalan-jalan keluarkota dengan menggunakan kereta api memang menyenangkan buatku. Maklum Ka mania. Meski beberapa waktu belakangan ini ada berita kecelakaan keretaapi tak menyurutkan tekatku untuk setia menggunakan jasa angkutan kereta api. Bila dari Jogya ke Solo atau sebaliknya aku senang sekali menggunakan kereta api Pramex atau Prambanan Express. Dengan tarif 9 ribu rupiah sudah bisa sampai tujuan dengan selamat. Yang jelas aman dan nyaman.

Saat bertugas ke Jogya akhir September lalu aku sempat naik Prameks Jogya Solo pulang pergi dalam satu hari karena ada pekerjaan yang mesti kukerjakan di Solo. Berangkat pagi dari Jogya ke Solo dan siang harinya sudah kembali ke Jogya. Turun dari kereta di setasiun Tugu Jogyakarta bertepatan dengan waktu makan siang. Makanya aku mulai berpikir enaknya makan apa. Aku pun keluar melalui pintu selatan setasiun Tugu. Beberapa supir taxi, tukang ojek dan tukang becak saling berebut menawarkan diri. Tapi aku tetap santai melangkah saja ke barat.

Di halaman belakang setasiun Tugu ( jalan Pasar Kembang) kulihat deretan kios yang menawarkan jasa espedisi menggunakan kereta api. Tapi selain itu juga ada kios yang menjual makanan. Hups aku pun langsung ingat bahwa teman-teman pernah mengatakan kalau ada soto yang enak di sini. Makanya akupun mencari warung soto yang dimaksud. Ternyata memang ada warung soto sulung. Aku pun masuk ke warung tersebut.

Warung Soto Sulung ini ternyata sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Pemiliknya namanya pak Malik. tetapi saat aku mampir ke warung ini kemarin, yang melayani dua orang lelaki. Yang pasti bukan pak Malik. Entah anaknya, atau pegawainya. Aku duduk di bangku yang tersedia. Warungnya sederhana. Ia menggunakan pikulan sebagai tempat menempatkan panci soto dan pernak perniknya. Aku lihat di papan yang terpasang di tembok ada tulisan soto daging, soto campur, telur, nasi. Aku memesan soto campur dan telur. Setelah menunggu sebentar soto pesenanku segera terhidang. Wow kuahnya tampak mengepul. Di dalamnya berisi jerohan (babat, paru, iso) , wah kolesterol tinggi nih. Tapi sekali-sekali tak apa-apa deh. (ngeles dotcom). hehehe.

Aku mengambil satu dari tumpukan beberapa nasi putih yang dibungkus kertas koran di atas meja. Porsinya kecil. Cocok buatku. Buat yang doyan makan nasi putih banyak bisa ambil dua atau tiga. Jangan khawatir, murah.hehehe. Hanya saja nasi putihnya tak panas. Tetapi jika dimakan dengan kuah soto yang panas kan sama saja.  Kuah soto sulung setasiun tugu ini sungguh nikmat. Bumbunya meresap. Perpaduan gurih dan asin. Jika suka yang lebih asin tinggal trambah garam yang sudah tersedia di atas meja. Dagingnya lunak dan tak alot. Jadi bisa nyaman menyantapnya. Dimakan dengan telur rebus tambah enak lagi.

Tak salah promosi temanku kalau soto sulung setasiun tugu memang sedap. Takkalah dengan soto madura di Surabaya. Harganya murah lagi. Seporsi soto campur hanya 6 ribu perak. Kalau soto daging dipatok harga 8 ribu perak. Bisa Anda coba deh jika ke Jogya.

Sabtu, Oktober 09, 2010

Nikmatnya Brongkos Alkid


Salah satu menu favorit keluargaku adalah sayur brongkos. Sayur brongkos ini adalah sayur dengan bahan dasar kacang panjang dengan tetelan serta dimasak dengan menggunakan bumbu rawon tetapi ditambah cabe dan santan. Rasanya perpaduan gurih, asin dan manis. Yang jelas kami menggemarinya. Makanya saat jalan-jalan ke Jogyakarta kemarin aku tertarik mendengar ada warung makan yang spesialnya menjual menu makanan brongkos.

Oleh karena itu minggu lalu aku dan kawan baikku mencoba mampir di warung nasi di dekat alun-alun kidul Jogyakarta. Lokasinya persis di selatan gapura alun-alun kidul atau di jalan Gading  Jogyakarta. Namanya sebenarnya warung Handajani. Warung ini sudah didirikan pasangan Adijo dan Sardijem sejak tahun 1960-an. Kini anak-anaknya yang meneruskan usahanya tersebut.

Mereka sebenarnya menjual beragam makanan mulai nasi pecel hingga soto. Tetapi salah satu menu makanannya yang banyak dicari orang adalah brongkos. Hari masih pagi saat aku masuk ke dalam warung sederhana ini. Tanpa memperhatikan daftar menu aku langsung memesan nasi brongkos. Aku sudah membayangkan sepiring nasi dengan sayur brongkos kacang panjang yang bakal segera terhidang. Kulihat di sekeliling warung itu, kursi dan meja kayunya masih kuno. Di dinding terpasang beberapa kliping koran yang memuat mengenai brongkos alkid. Ada gambar Bondan Winarno, tokoh wisata kuliner favoritku. Wah fotonya masih muda sekali berarti waktu ia datang kesini sudah bertahun-tahun yang lalu.  

Tak berselanglama nasi brongkos pesananku siap di atas meja. Wow ternyata aku salah. Yang keluar memang nasi brongkos berwarna hitam mirip rawon tetapi isinya beda. Nasi brongkos alkid ini berisi nasi, kacang tolo, tahu, dan telur rebus serta krupuk. Walaupun begitu rasanya tidak mengecewakan. Kuahnya yang berwarna hitam terasa gurih dan asin. Tahunya yang satu digoreng dahulu dan yang satunya direbus. Telurnya juga hanya direbus. Kacangtolonya empuk. Perpaduan semuanya dengan nasi benar-benar mantap. Jika kita ingin berasa pedas tinggal menambahkan sambal yang sudah di depan meja. Mantap deh.

Temanku lebih memilih nasi pecel. Nasi pecelnya juga tampak menarik dengan lauk tempe goreng dan kerupuk. Kami berdua memesan lauk tambahan tetelan bacem. tetelan bacem ini adalah tetelan daging yang dimasak dengan menggunakan gula merah dan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih , laos ,salam dan garam. Penyajiannya ditaburi bawang goreng. Rasanya enak banget karena dagingnya tidak alot dan bumbunya meresap. Harga makanan di sini juga tidak mahal sehingga bisa diulang kesini jika ke Jogya lagi.