Minggu, Januari 31, 2010
Soto Ayam Semarang
Sesudah sempat istirahat beberapa waktu, jumat malam (29/1) aku mulai travelling lagi. Kota pertama yang jadi tujuanku adalah Semarang. Aku naik travel malam dari Surabaya menuju Semarang supaya bisa tidur nyenyak di kendaraan. Adzan Subuh baru saja bergema saat aku sampai penginapan. Setelah sempat istirahat sebentar aku langsung berangkat kerja. Sebelum terjebak seharian dengan pekerjaan di PRPP, kusempatkan dulu sarapan. Kebetulan aku sedang kangen makan soto Semarang makanya aku langsung saja menuju ke warung Soto Ayam Pak Din di jalan Tanjung. Kebetulan beberapa bulan lalu aku sudah pernah makan soto ayam di warung ini dan cocok makanya aku ingin mengulanginya lagi. Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi waktu aku masuk ke warung yang berada tepat di belakang kantor PLN jalan Pemuda itu. Tampaknya pak Din baru saja sampai tetapi beberapa orang pembeli sudah tampak duduk dan menunggu makanan di sajikan. Lalu pak Din pun mulai bertanya berapa mangkuk pada pembeli. Aku langsung pesan "Satu pak tanpa nasi," Tak berselanglama semangkuk kecil soto ayam panas diberikan padaku. Mangkuknya kecil banget. Tapi isinya buanyak. Kelihatan dari luar sudah menggoda selera. Kuahnya tampak mengepul menandakan masih puanas banget. Isinya suun, suwiran ayam ditaburi seledri, rajangan pre, bawang merah goreng dan bawang putih goreng. Kuahnya putih agak keruh. Rasanya mantap, tak terlalu asin, pas dilidah. Tapi jika Anda merasa kurang asin bisa menambah garam yang sudah disediakan di meja.Jika suka kecap, jeruk nipis atau pre juga tinggal nambahin sendiri. Semua pernak pernik itu disiapkan di tiap mejanya. Sambal juga ada buat yang suka pedas. Sambalnya berwarna hijau, sepertinya terbuat dari cabe rawit hijau yang dihaluskan dan ditambah air dan bumbu-bumbu. Sedangkan bila ingin tambah lauk, pak Din sudah siapkan tempe goreng kering yang uenak dan agak asin, dan perkedel kentang yang lezat. Jika ingin tambah ikan ada sate potongan daging ayam dan jerohan serta sate kerang yang jadi khas Semarang. Pokoke uenak deh dan tak terlalu mahal. Setelah kenyang menyantap soto langsung minum teh nasgitel, manis kentel manis tentu tambah uenak. Soto ayam sepertinya memang menu sarapan yang paling banyak di jual di Semarang. Selain Soto ayam pak Din masih banyak warung soto ayam yang ngetop di Semarang seperti Soto ayam Bangkong di Sukun Banyumanik, dan Soto ayam pak No di Jl. Indraprasta. Semua punya ciri khas rasa berbeda. Bila Anda ke Semarang bisa pilih sesuai selera deh.
Kamis, Januari 28, 2010
Es Mbok Boo
Tadi siang aku sengaja pasang foto es mbok boo di album foto campur-campur facebookku.Hasilnya aku langsung dapat jerit cacimaki teman-temanku Kediri yang kini berdomisili di berbagai penjuru tanah air dan jarang bisa mudik ke kediri.Maklum saja es mbok Boo merupakan salah satu ikon kuliner minuman ngetop di kediri. Makanya banyak yang suka kangeningin minum es ini termasuk teman-temanku. Entah sejak kapan warung es mbok bo berdiri,aku tak tahu. Yang jelas pasti sudah lebih dari 30 tahun.Terus terang sejak aku sering mampirdi warung ini pemiliknya alias mbok Bo sudah tiadadan digantikan anaknya sebagai penerus. Lokasi warung es ini berada dijalan Joyoboyo Kediri atau tak jauh dari belakang Kediri Mall. Warungnya tak terlalu luas tapi nyaman.Jika musim libur, siap-siap saja tak mendapat bagian kursi. Bahkan kadang ada pembeli alias pemudik yang rela bawa tikar supaya tetap bisa nikmati minum es mbok Boo meski harus duduk lesehan di tikar. EsmbokBoo ini sebenarnya hanya es degan.Keistimewaannya disajikan bareng agar-agar ,santan dan sirup.Agar-agarnya tidakmanis tapi menggoyang lidah.Sirupnya berwarna merah,manis dan harum sekali baunya.Khas banget deh dan sulit dijumpai di tempat lain. Rasanya sueger dan nikmat minum segelas es degan agar-agar bikinan warung es mbok Boo. Selain itu harganya murah.Segelas es degan itu hanya dipatok harga 3500 rupiah. Jika suka bisa menambah tape ketan yang kadang tersedia dalam bentuk bungkusan. Sedangkan jikalapar,warung ini juga menyediakan rujak cingur yang lezat. Boleh dicoba jika Anda mampir ke Kediri.
Rabu, Januari 27, 2010
Bakso Barokah 313
Selama aku cuti di Kediri hampir setiap hari turun hujan. Tak perduli siang bolong pun juga sudah turun hujan. Seringnya hujan ini diiringi angin hingga membuat badan kedinginan. Kalau sudah dingin begini pinginnya makan yang panas-panas. Bakso panas sepertinya memang salah satu menu yang cocok untuk dipilih. Untungnya rumahku tak terlalu jauh dengan warung Bakso barokah 313 yang cukup terkenal di Kediri makanya begitu pingin bakso langsung deh aku meluncur kesana. Bakso Barokah ini sudah populer sejak jaman aku sekolah. Dulu warung pertamanya berada tepat di utara SD Burengan kompleks (1,3) tapi kini pindah ke depan SD Burengan 2 meski masih sama-sama berada di jalan Letjen Suprapto Kediri juga. Bila dulu warungnya kecil kini warungnya sangat besar dan bisa menampung sekitar 100 orang. Herannya tak pernah sepi pengunjung apalagi pas hari libur. Saat aku bersama teman masuk ke warung Bakso Barokah ini sempat kebingungan cari tempat duduk karena cukup ramai sekali. Untungnya kami langsung dapat meja dan tempat duduk di pojok belakang. Aku sempat bertanya-tanya bagaimana cara memesan ternyata tak berselang lama sudah hadir salah satu pelayanan dengan seragam kaos hijau muda membawa nampan dengan beberapa mangkuk bakso. Jadi mereka sudah langsung menyuguhkan baksonya berapa mangkuk yang kita mau. Kami pun meminta dua mangkuk bakso. Tak berselanglama datang pelayan berseragam juga dengan membawa berbagai jenis minuman, ada es degan, es dawet, es teh dan es jeruk. Kami pun meminta es degan sebagai teman makan bakso. Sesudah makanan siap kami pun langsung memakannya. Dalam semangkuk bakso ini mereka menyajikan 5 pentol bakso berukuran cukup besar. Baksonya berwarna coklat keputihan. Tekstur baksonya halus, tak berserat. Kenyal. Jadi kita bisa menyantapnya dengan nikmat. APalagi rasanya uenak, tak terlalu asin. Sedangkan kuahnya juga tak terlalu banyak. Isi kuahnya ada mihun dan rajangan seledri dan bawang goreng. Rasa kuahnya tidak terlalu asin juga. Perpaduan bakso dan kuah ini benar-benar mantap deh. Apalagi jika dimakan dengan sambal tambah top banget. Sayangnya aku tidak melihat gorengan bakso. Jika ada tentu lebih asyik lagi. Untuk menghilangkan rasa pedas aku langsung meminum es degan yang sudah kupesan. Slurp, segar dan tak terlalu manis. Puas deh. Untuk Seporsi bakso dan segelas es degan kita hanya bayar 10 ribu perak. Mengenyangkan dan Murah deh.
Nasi Gurih
Memenuhi permintaan salah sahabat dan partner jalan-jalanku, Pu, maka kali ini aku ingin coba nulis mengenai Nasi Gurih Kediri. Sebenarnya nasi gurih bukan menu utama sarapan di Kediri. Makanya kurang begitu familiar. Tapi buat penggemar kuliner Kediri sekali tempo mesti mencoba makanan yang cukup menggoda hati ini. Kebetulan aku baru cuti selama 5 hari di Kediri. Makanya aku bisa menyempatkan diri mencoba makan nasi gurih yang dulu jadi langgananku. Jangan membayangkan depot atau warung sebab bukan dua-duanya. Penjual nasi gurih ini menjual dagangannya di emperan rumah atau teras rumah milik warga keturunan China yang berlokasi di Jalan Untung Suropati Kediri. Saat aku dan kakakku kesana sudah takkutemui lagi sosok perempuan tua yang dulu biasa menjual nasi gurih ini. Menurut berita yang kudengar ternyata Mak Sadinem, penjual nasi gurih yang sudah puluhan tahun biasa melayani pelanggannya itu telah tiada. Kini anaknya, mbak Rubiah, yang menggantikannya. Meski begitu tak ada yang berubah dari cara mereka berjualan. Mengikuti jejak ibunya, mbak Rubiah masih tetap mempersiapkan barang dagangannya dalam sebuah rinjing yang ditutupi daun pisang. Ia menjual seporsi nasi gurih dengan harga 8 ribu perak yang disajikan dalam pincuk daun pisang. Isinya nasi gurih sayur sambal goreng pepaya muda, dan ayam. Nasi gurihnya mirip dengan nasi liwet made in Solo tapi rasanya lebih asin. Sayur sambal gorengnya tersedia dalam dua jenis, pedas atau tidak pedas. Warna sayurnya kemerahan, pepayanya dipotong kotak kotak dan dicampuri tahu putih yang tidak digoreng. Dalam sayur tersebut sengaja ditambahi lagi cabe rawit rebus yang bisa dilahap jika Anda merasa sayurnya masih kurang pedas lagi. Menurutku sayur ini rasanya muantap tidak terlalu manis atau asin. Ayamnya tersedia dalam dua bentuk yaitu bumbu opor kuning kering dan goreng. Kita bisa memilih suwiran atau bagian-bagian ayam yang kita sukai misal sayap, paha, dada, rempeloati, kulit dan sebagainya. Memakan perpaduan nasi gurih, sayur sambal goreng kates/pepaya muda dan ayam ini benar-benar uenak. Maknyus. Makanya banyak yang suka. Bila kalian sedang berkunjung ke Kediri dan ingin mencoba sarapan nasi Gurih Kediri ini mesti berangkat pagi-pagi sebab agak siang sedikit sudah habis dan tak terlihat penjualnya lagi. Nasi Gurioh Kediri pancen oke.
Jumat, Januari 22, 2010
Ah Mei Cafe
Seiring dengan semakin berkembangnya kota Jakarta, mulai semakin banyak berdiri mall-mall atau pusat perbelanjaan. Terus terang karena saking banyaknya mall hanya sebagian saja yang sudah pernah aku kunjungi. Malam minggu kemarin (16/1), salah satu sahabatku di Jakarta mengajakku untuk jalan-jalan ke Pejaten Village. Tentunya tawaran tersebut tidak kusia-siakan mengingat aku belum pernah menginjakkan kaki di mall tersebut. Dengan mengendarai kendaraan umum kami langsung menuju ke Pejaten Village yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Ternyata mallnya cukup luas dan menyenangkan. Tetapi karena sudah agak malam maka kami hanya sempat berjalan-jalan sebentar di "Matahari" sebelum akhirnya memutuskan untuk segera makan. Tujuan utama kami kesini memang untuk makan malam. Terus terang aku belum punya ide hendak makan apa. Semula kami berniat makan di foodcourt yang berada di lantai atas tetapi saat melintas di lantai 1 kulihat sebuah cafe yang tampaknya ramai. Sekilas kulihat ada tulisan Teh Tarik. Pikiranku langsung teringat Mi tarik yang cukup menggoda lidah di Grand Indonesia. Makanya aku ajak sahabatku untuk masuk ke cafe ini. Beruntung kami langsung mendapat tempat duduk mengingat tampak penuh dari luar. Di depan cafe ini tampak koki yang sedang memasak roti yang ditonton banyak pembeli. Sepertinya menarik.Ternyata setelah kuamati ternyata nama cafe ini adalah Ah Mei Cafe. Sebelum kami memesan, sahabatku mengajakku pindah tempat duduk di luar. Akupun menyetujui. Akhirnya kami dapat duduk di teras. Lebih menyenangkan karena kami bisa menengok lalu lintas jalan raya dari atas teras yang berada di lantai 1 Pejaten Village itu. Kami belum tahu mesti memesan apa. Menu yang mereka tawarkan berbagai jenis makanan dari Singapore, Malaysia dan Indonesia seperti Laksa, Nasi Briyani, Mi, Kwetiau dan sebagainya. Akhirnya kami memesan Mee Siam dan Ipoh Chicken Horfun. Saat disajikan ternyata Mee Siam ini mirip bihun kuah. Isinya selain bihun, 10 potong kecil tahu, dan separo telur rebus. Tak tampak potongan ayam. Warna kuahnya kuning kecoklatan. Rasanya asam banget. Sedangkan Ipoh Chicken Horfun mirip kwetiau siram. Isinya selain kwetiau, jamur, suwiran ayam dan daun seledri. Kuahnya warna kecoklatan dan rasanya agak asin. Terus terang kurang sesuai dengan lidah kami. Untuk makanan penutup kami sengaja memesan menu Roti Prata. Tertulis di daftar menunya bahwa Roti Prata bikinan Ah Mei Cafe ini yang paling istimewa. "We Serve Best Prata Originally From Singapore." Sebenarnya ada beraneka macam roti prata yang mereka sediakan seperti Roti prata with egg,onion, mushroom, banana, cheese, plain prata set chicken, plain prata set fish curry dan sebagainya. Kami memilih Roti prata with onion & mushroom. Harganya sekitar 18 ribu rupiah. Saat disajikan kami perhatikan bentuknya mirip roti maryam. Digoreng dengan bentuk seperti dadar telur. Rasanya maknyus banget. Isinya jamur kancing dan bawang bombay juga terasa enak di lidah. Roti prata ini dimakan dengan kuah kari. Kuah karinya berwarna kuning kecoklatan dan agak asin. Pokoknya nikmat bila memakan roti prata ini dengan kuah kari. Belakangan aku baru tersadar saat melirik ke sekeliling ternyata para pembeli juga hampir sebagian besar memesan roti prata ini. Jadi taksalah jika dikatakan roti prata ini memang uenak dan favorit banyak orang. Sesudah menyantap habis roti prata, langsung kuminum teh tarik yang sudah kupesan. Teh tarik yang yang merupakan perpaduan teh dan susu ini terasa menyegarkan meski tak terlalu manis tapi uenak. Sepertinya jika kami mampir kesini lagi, lebih baik memesan Roti Prata dan Es Teh Tarik saja deh. Perpaduan keduanya sudah cukup memuaskan rasa lapar dan dahaga. Jika tak percaya, silakan coba sendiri.
Kamis, Januari 21, 2010
Sambal Cibiuk
SHujan deras mengguyur kota Surabaya sedari siang tadi. Sesudah basahkuyup karena terpaksa hujan-hujan sepulang dari wawancara tadi maka sesampai kantor aku jadi kelaparan. Untunglah hari ini mbak Wiwik, ibu kantinku yang baikhati sudah menyiapkan timlo dan jahe panas untuk kusantap dan minum.Hm langsung kenyang deh. Bicara menu makan siang sebenarnya aku tak rewel-rewel amat. Bahkan jika sedang tak ada sayur dan lauk yang menarik, aku lebih suka makan nasi, tahu dan tempe serta sambal. Asalkan sambalnya pedes dan uenak aku sudah puas. Ngomongin sambal aku jadi ingat sambal Cibiuk, salah satu menu favoritku jika tugas ke Bandung. Kebetulan di Bandung ada salah satu rumah makan yang terkenal dengan sambal cibiuknya ini yaitu rumah makan Sambal Cibiuk. Menurut informasi yang kudapat sebenarnya sambal cibiuk ini khas dari Garut. Karena sudah terkenal kini sudah merambah hingga di kota Bandung. Di Bandung rumah makan sambal Cibiuk berada di jalan Lengkong Besar. Aku pernah lewat di depannya tapi belum pernah makan disana. Biasanya bila aku kangen sambal cibiuk maka aku langsung menuju salah satu counternya di foodcenter Istana Plaza Bandung. Menu utamanya nasi timbel komplit. Lauknya gepuk daging/ayam/usus/babat/ikan goreng/bakar, tahu/tempe goreng, perkedel, dan lalapan. Nasinya bisa milih, nasi putih biasa atau nasi merah. Sambalnya itu yang paling istimewa. Sebenarnya ada 3 jenis sambal yang ditawarkan yaitu sambal hijaunya, sambal merah dan sambal ceurik. Aku paling doyan dengan sambal hijaunya. Sambal hijaunya terbuat dari tomat hijau, cabe rawit hijau, dan kemangi. Bumbunya sepertinya ada bawang putih, kencur, gula, dan garam. Diuleg secara kasar. Pokoke rasanya uenak, puedes. Tapi meski pedas tak bikin panas di perut. Coba saja, pasti ketagihan. Minggu kemarin saat mampir makan di Sambal Cibiuk Bandung aku sengaja pilih menu sambal hijau dan nasi tutug oncom. Nasi Tutug oncom merupakan menu khas Sunda. Warnanya kecoklatan mirip nasi goreng. Isinya nasi dan oncom dengan aneka bumbu. Disajikan dengan kemangi dan taburan bawang goreng. rasanya enak meski tak segurih nasi liwet. Lebih nikmat lagi jika ditaburi emping belinjo. Meski makan nasi tutug oncom dengan lauk tempe dan sambal hijau buatku sudah sangat maknyus dan mengenyangkan. Rasanya ingin nambah makan itu lagi. Upps mana mungkin, mesti menunggu jika tugas ke Bandung lagi dong.hehehe
Rabu, Januari 20, 2010
Laksa
Seminggu lalu (13/1) aku diundang main ke rumah salahsatu relasi di kawasan Caringin Bogor. Dari Jakarta aku sengaja naik kereta api Pakuan jurusan Bogor. Dari stasiun aku naik angkot hijau03 turun terminal Baranangsiang dan lanjut naik kendaraan umum ke Sukabumi. Lokasi Caringin cukup jauh, sesudah Ciawi dan sebelum Cicurug. Jalanannya padat alias sempit sehingga macet. Mobil mesti berjalan pelan-pelan. Sesudah urusan pekerjaan selesai aku kembali ke Jakarta. Tetapi sebelumnya kusempatkan mampir ke Botani Square Bogor. Maklum perut keroncongan karena sedari siang belum diisi. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku pun langsung menuju foodcourt di lantai atas. Nama foodcourtnya De'oryza Foodcentre. Aku bingung mau makan apa. Akhirnya aku menuju salah satu stan bernama Dapoer Graha. Mereka menyediakan berbagai menu khas Bogor atau Sunda seperti taoge goreng, soto mi, tutug oncom, nasi timbel dan nasi bakar. Minuman yang dijual ada bandreg, bajigur dan aneka juice. Aku sengaja pilih Laksa. Di menunya tertulis Laksa Cibinong. Entah apa makanan Laksa itu asalnya dari Cibinong atau ada warung laksa yang terkenal di Cibinong dan yang ini cabangnya. Pokoknya aku pingin ngerti seperti apa Laksa Cibinong. Aku ingat dulu semasa aku masih kos di jalan Kalasan Surabaya, ibu kosku sering memasak Laksa dan aku sering dapat bagian. Rasanya lumayan enak. Makanya aku berharap Laksa Cibinong ini akan seperti itu. tak berselanglama pelayan menyajikan menu yang kupesan ini. Semangkuk laksa dengan kuah panas mengepul (maklum sebelumnya aku sudah pesan mesti panas kuahnya pada pemilik stannya). Aku mencoba mengamati isinya sebelum mulai menyantap Laksa Cibinong ini. Isi Laksa ini hanya beberapa iris lontong atau ketupat, beberapa suwir daging ayam, separo telur ayam rebus, dan banyak bihun. Untuk pemanis ditaburi bawang goreng dan daun kemangi. Warna kuahnya kuning. Kuah ini terbuat dari santan yang sangat kental mirip kari. Rasanya agak manis, tidak asin. Sambalnya sambal dari cabe rawit hijau yang dihaluskan dan diberi air sehingga tak terlalu pedas. Menurutku rasanya biasa banget. Maaf lebih enak Laksa bikinan bu kosku. Tapi tak apa, yang penting udah mencicipi dan bisa untuk mengganjal perut yang sedang kelaparan.
Langganan:
Postingan (Atom)













