Hingga sekarang aku belum tahu mengapa rawon warung makan ini dinamakan rawon kalkulator. Meski udah mendengar namanya lama tapi aku baru wisata kuliner kesana hari Sabtu lalu. Itupun juga karena diajak teman-temanku yang pingin sekalian jalan-jalan ke Taman Bungkul Surabaya. Taman Bungkul merupakan sebuah tempat wisata religi yang berada di kawasan jalan raya Darmo Surabaya dimana ada makam mbah Bungkul salah satu tokoh Islam yang biasanya makamnya sering dikunjungi berbarengan dengan ziarah makan walisongo.
Lokasi warung rawon kalkulator ini tepat di belakang Taman Bungkul Surabaya. Sebenarnya nama warungnya adalah Sedap Malam tapi entah mengapa orang biasa menyebutnya dengan nama warung rawon kalkulator.
Di atas meja penjual sudah ditata beberapa mangkuk yang siap diguyur kuah da daging. Ups ternyata mangkuk itu untuk soto. Sedangkan untuk rawon, mereka menyajikannya dalam piring. Panci besar tersedia untuk kuah soto dan rawon. Maklum mereka berjualan dari pagi hingga malam makanya perlu kuah yang banyak. mengingat pelanggannya juga banyak.
Aku sengaja memesan nasi rawon sedangkan dua temanku memesan soto. Sekilas melihat sotonya aku tak tertarik. Kuahnya kurang menggoda. Rasanya biasa saja. Isinya cuma potongan daging, taoge, dan seledri. Tak ada campuran jerohan. Hm kurang menarik. Temanku menambahkan kecap di mangkuk sotonya. Wow tambah tak suka aku. hehehe.
Lebih menarik rawon yang kupesan. Porsinya tak besar, Dalam sepiring nasi rawon, ada beberapa potong daging. Kuahnya hitam pekat. Rasanya pas di lidah. Tak terlalu asin dan gurih. Potongan dagingnya juga lunak. Seharuisnya dimakan dengan taoge mentah tapi aku pilih tanpa taoge. Ga doyan taoge mentah. Sambelnya enak. Diberi sebuah kerupuk udang sebagai teman makan rawon. Hm kriuk-kriuk.
Aku lihat di atas meja ada tumpukan perkedel. Aku sengaja ambil sebuah. Wow besar. Di dalamnya ada dagingnya. Tapi maaf kurang greget rasanya. Karena menurutku perkedel daging terenak jelas bikinan mamaku. hehehe. Lalu kami juga memesan minuman. Di tempat ini ada berbagai minuman bisa dipesan mulai es teh hingga es jeruk. Juga ada berbagai juice buah dan es degan. Kami memesan es degan. Hm segar. Cocok melegakan tenggorokan setelah makan soto dan rawon.
Kami membayar 57,5 ribu untuk 3 piring nasi soto/rawon, 2 krupuk udang, 1 perkedel, 2 gelas es degan dan 1 gelas es jeruk. Peh tanpa kalkulator pun sang penjual cepat menghitungnya. Hahaha penjualnya bak kalkulator ya.
Rabu, Juli 18, 2012
Jumat, Juli 13, 2012
Nasi Pedas Ibu Andika
Bulan Juni kemarin aku bersama dua orang teman kantorku berangkat ke Bali untuk menghadiri suatu acara di plasa Amata komplek GWK Denpasar. Kami sengaja back packeran ke Bali berangkat naik bis "Bali Perdana" seharga 130 ribu dari terminal Bungurasih menuju Ubung. Kami sempat kerepotan karena ternyata sekarang penumpang tak boleh berhenti di Ubung tapi di terminal Mengwi. Beruntung bis Bali Perdana yang kami tumpangi ini menuju Bangli jadi kami masih bisa berhenti di jalan Cokroaminoto Denpasar (sekitar 2 km sebelum terminal Ubung).
Karena pekerjaan kami di GWK kami memutuskan menginap di Kuta dengan alasan lebih dekat dari GWK dan bisa menimakmati bermain di pantai Kuta sembari menunggu matahari terbenam. Kawasan Poppies lane tetap jadi acuan mencari penginapan. Meski udah hunting berbagai nama hotel murah tapi ujung-ujungnya tetap kembali ke Sarijaya Cottage langganan kami yang berada di Poppies lane gg Surga. Kami dipatok harga 250 ribu perak permalam. Tak apalah.
Demi menghemat biaya, nasi jinggo yang sering jadi menu andalan kami di pagi dan siang hari. Harganya di Kuta bervariasi mulai 3500-5000 perak perbungkus. Karena ada larangan penjual nasi di pantai Kuta umumnya penjual ini sembunyi-sembunyi menggelar dagangannya. Terselubung di balik penjual minuman/soft drink. Jadi coba tanya pada penjual minuman di Kuta apakah mereka sediakan nasi jinggo. Sedangkan jika malam hari kami biasa makan di KFC. Paket goceng.hehehe.
Setelah semua pekerjaan di GWK beres kami pun mesti pulang. Kami putuskan jalan kali ke raya Kuta untuk membeli oleh-oleh sebelum naik kendaraan umum menuju terminal. Kata teman sebaiknya cari saja oleh-oleh di sekitar Supernova. Ternyata Supernova ini dekat Joger. Tapi terus terang kami tak masuk toko Joger melainkan membeli berbagai oleh-oleh mulai daster hingga kaos dan kacang bali di toko oleh-oleh di depan Joger. Lelah berbelanja oleh-oleh kami bermaksud makan siang. Kami lirik ada warung di samping toko oleh-oleh itu. Sangat ramai sekali. Usut punya usut ternyata itu warung nasi pedas ibu Andika.
Nama nasi pedas ibu Andika sudah pernah kudengar sebelumnya tapi tak terpikir kalau kami bisa mencobanya. Dengar-dengar sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu. Dulunya cuma sebuah warung kecil tetapi sekarang jadi besar. Pelanggannya pun tak hanya warga lokal tapi para turis domestik. Kalau bule? entahlah.hehehe.Wow tempatnya luas, dilengkapi mushola dan toilet. Tapi toiletnya nggak gratis. Kita mesti membayar 2 ribu perak. Wah sudah sama seperti di stasiun gambir saja.hehehe.
Wow ada berbagai lauk pauk yang bisa kita pilih mulai dari ayam suwir, ayam bumbu, ikan teri, daging, dadar jagung, telur dan sebagainya. Biasanya dalam penyajian dengan nasi sayur daun singkong, atau urap.
Kami sengaja memilih hanya nasi sayur dengan lauk suwiran ayam dan trancam seharga 11 ribu perak. Dan satunya nasi dengan terong, suwiran ayam plus dadar jagung seharga 10 ribu perak. Tiap kali kita pesan makanan sudah diberi kupon harganya. Lucu sekali. Dan untuk minumnya kita pilih teh botol dan air mineral.
Hm pingin tahu rasanya makan nasi pedas ibu Andika? wow super duper pedas. Kami sampai mencari tahu apa yang membuat makanan yang kami santap berasa pedas. Sambalnya, atau sayurnya atau lauknya? ternyata semuanya pedas. Sambalnya padahal sambel merah bukan sambal matah tapi entah mengapa sangat pedas sekali.
Seumur-umur makan nasi sambel, baru sekali ini yang rasa pedasnya menggila. Tak cuma ke mulut, tapi ke leher, dan terasa hingga ke perut. Sure, sego sambel surabaya kalah pedas dengan ini. Para pemuja sego sambel mesti mencobanya jika ke Bali. Dan aku tak menganjurkan untuk yang perutnya tak tahan makanan pedas sebab berbahaya.hehehe Oya, jangan khawatir, halal kok makanan ini.
Karena pekerjaan kami di GWK kami memutuskan menginap di Kuta dengan alasan lebih dekat dari GWK dan bisa menimakmati bermain di pantai Kuta sembari menunggu matahari terbenam. Kawasan Poppies lane tetap jadi acuan mencari penginapan. Meski udah hunting berbagai nama hotel murah tapi ujung-ujungnya tetap kembali ke Sarijaya Cottage langganan kami yang berada di Poppies lane gg Surga. Kami dipatok harga 250 ribu perak permalam. Tak apalah.
Demi menghemat biaya, nasi jinggo yang sering jadi menu andalan kami di pagi dan siang hari. Harganya di Kuta bervariasi mulai 3500-5000 perak perbungkus. Karena ada larangan penjual nasi di pantai Kuta umumnya penjual ini sembunyi-sembunyi menggelar dagangannya. Terselubung di balik penjual minuman/soft drink. Jadi coba tanya pada penjual minuman di Kuta apakah mereka sediakan nasi jinggo. Sedangkan jika malam hari kami biasa makan di KFC. Paket goceng.hehehe.
Setelah semua pekerjaan di GWK beres kami pun mesti pulang. Kami putuskan jalan kali ke raya Kuta untuk membeli oleh-oleh sebelum naik kendaraan umum menuju terminal. Kata teman sebaiknya cari saja oleh-oleh di sekitar Supernova. Ternyata Supernova ini dekat Joger. Tapi terus terang kami tak masuk toko Joger melainkan membeli berbagai oleh-oleh mulai daster hingga kaos dan kacang bali di toko oleh-oleh di depan Joger. Lelah berbelanja oleh-oleh kami bermaksud makan siang. Kami lirik ada warung di samping toko oleh-oleh itu. Sangat ramai sekali. Usut punya usut ternyata itu warung nasi pedas ibu Andika.
Nama nasi pedas ibu Andika sudah pernah kudengar sebelumnya tapi tak terpikir kalau kami bisa mencobanya. Dengar-dengar sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu. Dulunya cuma sebuah warung kecil tetapi sekarang jadi besar. Pelanggannya pun tak hanya warga lokal tapi para turis domestik. Kalau bule? entahlah.hehehe.Wow tempatnya luas, dilengkapi mushola dan toilet. Tapi toiletnya nggak gratis. Kita mesti membayar 2 ribu perak. Wah sudah sama seperti di stasiun gambir saja.hehehe.
Wow ada berbagai lauk pauk yang bisa kita pilih mulai dari ayam suwir, ayam bumbu, ikan teri, daging, dadar jagung, telur dan sebagainya. Biasanya dalam penyajian dengan nasi sayur daun singkong, atau urap.
Kami sengaja memilih hanya nasi sayur dengan lauk suwiran ayam dan trancam seharga 11 ribu perak. Dan satunya nasi dengan terong, suwiran ayam plus dadar jagung seharga 10 ribu perak. Tiap kali kita pesan makanan sudah diberi kupon harganya. Lucu sekali. Dan untuk minumnya kita pilih teh botol dan air mineral.
Hm pingin tahu rasanya makan nasi pedas ibu Andika? wow super duper pedas. Kami sampai mencari tahu apa yang membuat makanan yang kami santap berasa pedas. Sambalnya, atau sayurnya atau lauknya? ternyata semuanya pedas. Sambalnya padahal sambel merah bukan sambal matah tapi entah mengapa sangat pedas sekali.
Seumur-umur makan nasi sambel, baru sekali ini yang rasa pedasnya menggila. Tak cuma ke mulut, tapi ke leher, dan terasa hingga ke perut. Sure, sego sambel surabaya kalah pedas dengan ini. Para pemuja sego sambel mesti mencobanya jika ke Bali. Dan aku tak menganjurkan untuk yang perutnya tak tahan makanan pedas sebab berbahaya.hehehe Oya, jangan khawatir, halal kok makanan ini.
Selasa, Juli 10, 2012
Bebek Sinjay
Nama Bebek Sinjay sudah berkali-kali terdengar di telingaku. Bikin aku penaaran pingin tahu seperti apa sih bebek sinjay itu. Tapi jika harus ke Bangkalan sendiri demi bebek sinjay jelas ogah. Makanya saat hari Selasa kemarin teman-temanku mengajakku ke sana jelas tawaran itu tak kutolak. Berempat kami naik mobil dari Surabaya ke Bangkalan. Berangkatnya jelas lewat jembatan Suramadu. Stt itu pengalaman pertama teman-temanku ke Madura dan lewat jembatan Suramadu. Padahal KTP ne Surabaya.hihihi. Masih mendingan aku, sudah pernah 2 kali lewat jembatan Suramadu sebelumnya dengan mobil dan sepeda motor. Pengalaman ketiga kalinya ini tak cuma berhenti di pojok jembatan dan putar balik ke Surabaya tapi bablas ke Bangkalan. Peh jalannya dari Suramadu ke kota Bangkalan agak mengerikan. Mulus sih. Tapi kiri kanan lahan kosong. Ga bisa bayangin jika sepeda motor atau mobil mogok disini. Bisa-bisa dibegal ama perompak madura deh.
Setelah melewati berkilo-kilo lahan kosong akhirnya kami mulai ketemu perkampungan. Kecamatan Tanjung Burneh Bangkalan yang terlihat pertama. Sebelum akhirnya masuk daerah Ketegan tempat dimana ada warung bebek Sinjay yang terkenal itu. Wadow ramai sekali. Mobil-mobil yang diparkir dari berbagai kota. Niat amat ya datang kesini demi sepiring nasi bebek. Tempatnya luas, kursi mejanya berjejer. Kami mesti memesan dulu. Untuk 4 piring nasi bebek dan 4 teh botol kami mesti membayar Rp. 68.000,00 Hany menunggu sebentar nasi bebek pun siap terhidang di meja.
Ternyata dilihat dari penampilannya tak beda dengan nasi bebek yang biasa kubeli di Surabaya. Nasi putih dengan sepotong bebek goreng di atasnya. Ada yang mendapat bagian dada dan paha. Tak bisa memilih ini. Lalu ada sedikit kremesan di atasnya serta lalapan timun dan kemangi. Bebeknya memang lunak, rasanya agak asin.
Yang membedakan memang sambalnya. Disini sambalnya terbuat dari mangga muda, kedondong dan cabe. Rasanya perpaduan pedas dan asam. Tapi untuk penghobi sambal seperti kami nilai untuk sambal ini masih dibilang standard alias kurang pedas. Kami bahkan meminta pada pelayannya sepiring kecil sambal lagi. Mereka memberi tanpa kami harus membayar lagi. Baguslah. Yang pasti udah ga penasaran lagi. .
Pulang dari makan di bebek sinjay kami sempat mampir ke Bangkalan Plasa. Wow sudah ada mall di Bangkalan. Hebat deh. Dari sana kami pulang lewat Kamal. Jalannya lebih ramai dan menyenangkan. Kami menyebrang dengan kapal dari Kamal ke Ujung. Wah ini pengalaman yang lebih mengasyikkan. Melihat indahnya pemandangan laut selat madura secara langsung. Ada kapal-kapal yang berlabuh. Pokoke menyenangkan deh.
Setelah melewati berkilo-kilo lahan kosong akhirnya kami mulai ketemu perkampungan. Kecamatan Tanjung Burneh Bangkalan yang terlihat pertama. Sebelum akhirnya masuk daerah Ketegan tempat dimana ada warung bebek Sinjay yang terkenal itu. Wadow ramai sekali. Mobil-mobil yang diparkir dari berbagai kota. Niat amat ya datang kesini demi sepiring nasi bebek. Tempatnya luas, kursi mejanya berjejer. Kami mesti memesan dulu. Untuk 4 piring nasi bebek dan 4 teh botol kami mesti membayar Rp. 68.000,00 Hany menunggu sebentar nasi bebek pun siap terhidang di meja.
Ternyata dilihat dari penampilannya tak beda dengan nasi bebek yang biasa kubeli di Surabaya. Nasi putih dengan sepotong bebek goreng di atasnya. Ada yang mendapat bagian dada dan paha. Tak bisa memilih ini. Lalu ada sedikit kremesan di atasnya serta lalapan timun dan kemangi. Bebeknya memang lunak, rasanya agak asin.
Yang membedakan memang sambalnya. Disini sambalnya terbuat dari mangga muda, kedondong dan cabe. Rasanya perpaduan pedas dan asam. Tapi untuk penghobi sambal seperti kami nilai untuk sambal ini masih dibilang standard alias kurang pedas. Kami bahkan meminta pada pelayannya sepiring kecil sambal lagi. Mereka memberi tanpa kami harus membayar lagi. Baguslah. Yang pasti udah ga penasaran lagi. .
Pulang dari makan di bebek sinjay kami sempat mampir ke Bangkalan Plasa. Wow sudah ada mall di Bangkalan. Hebat deh. Dari sana kami pulang lewat Kamal. Jalannya lebih ramai dan menyenangkan. Kami menyebrang dengan kapal dari Kamal ke Ujung. Wah ini pengalaman yang lebih mengasyikkan. Melihat indahnya pemandangan laut selat madura secara langsung. Ada kapal-kapal yang berlabuh. Pokoke menyenangkan deh.
Minggu, Juli 08, 2012
Soto Rampal
Hari Minggu kemarin aku dan kakak-kakakku menghadiri undangan pernikahan saudara sepupuku di Malang. Sebelum ke tempat lokasi resepsi di Balai Merdeka Unmer Malang, kami tak melewatkan waktu untuk wisata kuliner. Kali ini kami ingin mencoba makan rawon Rampal yang sudah terkenal itu. Lokasinya di jalan Panglima Sudirman Malang. Dekat Bank BCA.
Tempatnya sebenarnya tak terlalu besar tapi sudah sangat terkenal. Pelanggannya tak hanya dari kota Malang tapi dari berbagai kota. Presiden SBY pun sering mampir makan di sana jika sedang kunjungan ke Malang. Terbukti dari foto-foto yang dipasang di dinding warung soto Rampal ini. Hehehe beda dengan warung jadul lainne, biasanya yang dipasang foto selebritis, kalau disini malah foto orang nomer satu di negeri ini saat ini.
Menurut informasi yang kami dengar katanya menu soto rampal yang lebih diminati. Kami coba memesannya. Dalam seporsi soto ada beberapa iris daging, taoge. Ternyata kuahnya bening. Soal rasa, terlalu ringan menurut kami. Maaf, kami terbiasa dengan soto daging madura atau soto daging kediri yang kuahnya lebih berasa mantap.
Kami lebih suka dengan rawonnya. Rawon Rampal memang mantap. Varian kuahnya mantap, tak terlalu asin. Dagingnya ada uratnya dipotong potong kotak. Dimakan dengan taoge mentah dan sambal. Wow enak sekali. Tak kalah dengan nasi rawon Nguling atau rawon Setan yang terkenal di Surabaya. Seporsi nasi rawon dihargai 15 ribu perak.
Biasanya sebagai teman makan nasi rawon, orang-orang memesan babat rawis. Babat rawis ini merupakan babat yang digoreng dengan rasa agak manis. Nikmat karena sudah tersedia dalam bentuk potongan dan empuk. Usus gorengnya juga enak sekali. Seporsi babat rawis/usus dihargai seharga 15 ribu perak juga. Tapi jangan makan usus dan babat banyak-banyak ya. Ingat kolesterol tinggi. hihihi.
Sebenarnya selain soto dan rawon, Anda bisa memesan berbagai menu yang lain seperti nasi campur, bali telur atau nasi pecel. Juga tersedia berbagai snack seperti lumpia, risoles, mendol dan sebagainya. Minuman yang dijual juga beragam mulai es teh, es jeruk hingga soft drink. Jika suka krupuk juga bisa memilih sesuai selera. Dan lebih enaknya lagi, Anda bisa membeli bumbu pecel, soto dan rawon disini untuk dibawa pulang.
Tempatnya sebenarnya tak terlalu besar tapi sudah sangat terkenal. Pelanggannya tak hanya dari kota Malang tapi dari berbagai kota. Presiden SBY pun sering mampir makan di sana jika sedang kunjungan ke Malang. Terbukti dari foto-foto yang dipasang di dinding warung soto Rampal ini. Hehehe beda dengan warung jadul lainne, biasanya yang dipasang foto selebritis, kalau disini malah foto orang nomer satu di negeri ini saat ini.
Menurut informasi yang kami dengar katanya menu soto rampal yang lebih diminati. Kami coba memesannya. Dalam seporsi soto ada beberapa iris daging, taoge. Ternyata kuahnya bening. Soal rasa, terlalu ringan menurut kami. Maaf, kami terbiasa dengan soto daging madura atau soto daging kediri yang kuahnya lebih berasa mantap.
Kami lebih suka dengan rawonnya. Rawon Rampal memang mantap. Varian kuahnya mantap, tak terlalu asin. Dagingnya ada uratnya dipotong potong kotak. Dimakan dengan taoge mentah dan sambal. Wow enak sekali. Tak kalah dengan nasi rawon Nguling atau rawon Setan yang terkenal di Surabaya. Seporsi nasi rawon dihargai 15 ribu perak.
Biasanya sebagai teman makan nasi rawon, orang-orang memesan babat rawis. Babat rawis ini merupakan babat yang digoreng dengan rasa agak manis. Nikmat karena sudah tersedia dalam bentuk potongan dan empuk. Usus gorengnya juga enak sekali. Seporsi babat rawis/usus dihargai seharga 15 ribu perak juga. Tapi jangan makan usus dan babat banyak-banyak ya. Ingat kolesterol tinggi. hihihi.
Sebenarnya selain soto dan rawon, Anda bisa memesan berbagai menu yang lain seperti nasi campur, bali telur atau nasi pecel. Juga tersedia berbagai snack seperti lumpia, risoles, mendol dan sebagainya. Minuman yang dijual juga beragam mulai es teh, es jeruk hingga soft drink. Jika suka krupuk juga bisa memilih sesuai selera. Dan lebih enaknya lagi, Anda bisa membeli bumbu pecel, soto dan rawon disini untuk dibawa pulang.
Kamis, Juli 05, 2012
Nasi Buk Matirah
Kapan hari aku naik kereta api Gajayana dari Jakarta turun di Setasiun Malang. Sembari menunggu dijemput Indah, sahabatku, aku sengaja mencari tempat untuk makan. Mau dibilang sarapan sudah terlalu telat tapi mau dibilang makan siang masih belum terlalu siang. Sekitar jam 11 aku masuk ke sebuah warung yang posisinya tak jauh dari setasiun Malang yang berlokasi di jalan Trunojoyo Malang itu.
Aku sengaja memilih warung itu dengan pertimbangan sudah pernah memasukinya beberapa tahun sebelumnya. Ya namanya warung nasi bik Matirah. Entah mengapa meski jauh dari pulau Madura tapi di Malang nasi bok madura malah lebih ngetop. Ada beberapa tempat penjual nasi bug khas Malang ini di Malang. Nasi bik Matira ini salah satu diantaranya.
Nasi buk ini terdiri nasi sayur lodeh gori, srundeng kelapa, taoge dan sambal. Rasa lodehnya perpaduan asin dan pedas. Sambalnya pedas dan enak. Srundengnya bikin mantap. Untuk lauknya bisa memilih sesuai selera. Ada mendol tempe, babat, paru, empal dan lain sebagainya. Atau jika suka bisa memilih sate komo khas Malang. Selain nasi buk, juga ada nasi kare ayam, ayam panggang dan rawon. Bisa Anda coba jika berada di dekat stasiun Malang.
Aku sengaja memilih warung itu dengan pertimbangan sudah pernah memasukinya beberapa tahun sebelumnya. Ya namanya warung nasi bik Matirah. Entah mengapa meski jauh dari pulau Madura tapi di Malang nasi bok madura malah lebih ngetop. Ada beberapa tempat penjual nasi bug khas Malang ini di Malang. Nasi bik Matira ini salah satu diantaranya.
Nasi buk ini terdiri nasi sayur lodeh gori, srundeng kelapa, taoge dan sambal. Rasa lodehnya perpaduan asin dan pedas. Sambalnya pedas dan enak. Srundengnya bikin mantap. Untuk lauknya bisa memilih sesuai selera. Ada mendol tempe, babat, paru, empal dan lain sebagainya. Atau jika suka bisa memilih sate komo khas Malang. Selain nasi buk, juga ada nasi kare ayam, ayam panggang dan rawon. Bisa Anda coba jika berada di dekat stasiun Malang.
Senin, April 23, 2012
Cafe kuno di kota kembang
Bandung punya segudang tempat wisata kuliner yang bisa direkomendasikan. Beberapa kali aku sempat mendapat nasi kotak dari Rasa Cafe (di beberapa even yang kuhadiri di Bandung). Karena rasanya lezat membuatku ingin mengunjungi sendiri Rasa Cafe ini. Tertulis alamatnya cafe ini di kawasan jalan Tamblong Bandung.
Begitu berdiri di depan cafe ini aku tertegun. Ternyata modelnya kuno sekali. Usut punya usut cafe Rasa ini sudah berdiri sejak tahun 1936 alias jaman Belanda. Di depannya tertulis Rasa Bakery Cafe. Berarti menu utamanya bakery/roti kue dong. Tapi kenapa selama ini aku seringnya malah dapat nasi kotak isi nasi goreng dan lain-lain ya?
Begitu masuk ke dalam cafe ternyata tempatnya sangat luas. Di sana memang tampak tempat dimana dijual roti/kue dengan aneka bentuk yang bisa dipilih. Aku langsung duduk di salah satu kursi yang tersedia. Kebetulan kala itu musim imlek jadi suasananya dibuat seperti itu yaitu banyak lampion merah. Saat pelayannya menyajikan daftar menu ternyata banyak menu makanan yang tersedia. Dari makanan eropa hingga tradisional juga ada. Aku sengaja memesan laksa supaya beda. Dengan segelas teh panas.
Hm tak berselang lama laksa pun disajikan. Rasa laksanya lumayan. Isinya seperti bihun, irisan ayam, taoge, ketupat. Dengan kuah laksa berwarna kuning. Rasanya perpaduan gurih dan asin. Dimakan dengan sambal mantap. Sembari menghabiskan laksa aku pandangi seisi cafe. Kok kebanyakan pesannya es krim ya? Wow ternyata memang cafe ini lebih terkenal dengan es krimnya.
Aku lumayan lama duduk di cafe ini karena janji bertemu salah sahabatku yang tinggal di Bandung, Sheiba. Setelah menunggu agak lama, akhirnya sheiba muncul juga. Karena sheiba sudah kenyang maka ia cuma memesan segelas coklat panas. Aku memesan lagi es cream. Gara-gara tertarik dengan es cream yang diminum tetangga sebelah meja. Disajikan dalam batok kelapa, es creamnya 3 rasa, coklat, strawbery vanila lalu ada roti wafernya dan buah kalengnya serta ditaburi irisan kacang. Rasanya uenaaaaaak. Sayang aku lupa apa ya namanya. Soal harga, tak bisa dibilang murah. Standard resto kelas atas. Yang pasti tempat ini memang tempat nostalgia bandung tempo dulu deh. Kayak Oen resto cafe di Malang.
Begitu berdiri di depan cafe ini aku tertegun. Ternyata modelnya kuno sekali. Usut punya usut cafe Rasa ini sudah berdiri sejak tahun 1936 alias jaman Belanda. Di depannya tertulis Rasa Bakery Cafe. Berarti menu utamanya bakery/roti kue dong. Tapi kenapa selama ini aku seringnya malah dapat nasi kotak isi nasi goreng dan lain-lain ya?
Begitu masuk ke dalam cafe ternyata tempatnya sangat luas. Di sana memang tampak tempat dimana dijual roti/kue dengan aneka bentuk yang bisa dipilih. Aku langsung duduk di salah satu kursi yang tersedia. Kebetulan kala itu musim imlek jadi suasananya dibuat seperti itu yaitu banyak lampion merah. Saat pelayannya menyajikan daftar menu ternyata banyak menu makanan yang tersedia. Dari makanan eropa hingga tradisional juga ada. Aku sengaja memesan laksa supaya beda. Dengan segelas teh panas.
Hm tak berselang lama laksa pun disajikan. Rasa laksanya lumayan. Isinya seperti bihun, irisan ayam, taoge, ketupat. Dengan kuah laksa berwarna kuning. Rasanya perpaduan gurih dan asin. Dimakan dengan sambal mantap. Sembari menghabiskan laksa aku pandangi seisi cafe. Kok kebanyakan pesannya es krim ya? Wow ternyata memang cafe ini lebih terkenal dengan es krimnya.
Aku lumayan lama duduk di cafe ini karena janji bertemu salah sahabatku yang tinggal di Bandung, Sheiba. Setelah menunggu agak lama, akhirnya sheiba muncul juga. Karena sheiba sudah kenyang maka ia cuma memesan segelas coklat panas. Aku memesan lagi es cream. Gara-gara tertarik dengan es cream yang diminum tetangga sebelah meja. Disajikan dalam batok kelapa, es creamnya 3 rasa, coklat, strawbery vanila lalu ada roti wafernya dan buah kalengnya serta ditaburi irisan kacang. Rasanya uenaaaaaak. Sayang aku lupa apa ya namanya. Soal harga, tak bisa dibilang murah. Standard resto kelas atas. Yang pasti tempat ini memang tempat nostalgia bandung tempo dulu deh. Kayak Oen resto cafe di Malang.
Lontong Kari Kebon Karet
Sudah lama juga aku tak nulis di blog. Kesibukan wara wiri membuatku tak sempat nengok blog kluyuran ini. Padahal banyak banget bahan yang mestinya bisa dishare pada teman-teman sesama penghobi kluyuran dan makan-makan. Kali ini aku pingin nulis salah satu tempat jajanan di Bandung. Namanya warung Lontong Kari Kebon Karet.
Kali ini tempatnya lain daripada yang lain. Jangan bayangin rumah makan besar di kawasan elit. Warung Lontong Kari Kebon Karet ini lokasinya di gang sempit di gang Kebon Karet Bandung. Jadi Anda mesti melintasi jalan Otista untuk menemukan gang ini. Posisinya tak terlalu jauh dari stasiun Kebon Kawung Bandung. Ada plangnya dengan tulisan lontong kari kebon karet di muka gang. Jadi Anda mesti masuk ke dalam gang sempit itu untuk menemukan warung lontong kari kebon karet ini. Walaupun di dalam gang tapi tempatnya bersih dan nyaman.
Warung lontong kari kebon karet ini sudah berdiri sejak tahun 1966.Pendirinya namanya Hj. Ety (alm) dan H. Engkos Kosasih. Tak heran jika sudah terkenal. Bahkan kini usaha ini mulai diteruskan pengelolaannya oleh anak-anak H. Engkos. Pembelinya dari mana-mana. Kalau hari Sabtu Minggu dan hari libur malah dipadati pengunjung dari Jakarta. Mereka rela memarkir mobilnya di jalan raya dan antri masuk gang demi bisa menyantap lontong kari kebon karet ini. Warung ini buka dari jam 7 pagi hingga jam 8 malam.
Berdasarkan informasi yang kudapat setelah browsing internet, maka aku sengaja memesan lontong kari spesial dan es campur begitu duduk di bangku warung ini. Sebenarnya ada beberapa menu makanan dan minuman yang dijual seperti soto bandung dan nasi goreng. Tapi katanya lontong kari spesial dan es campurnya yang paling direkomendasikan dan tak boleh dilewatkan kalau mampir ke tempat ini.
Ternyata saat lontong kari spesial ini disajikan wujudnya beda banget dengan bayanganku. Aku sudah bebrapa kali makan lontong kari. Tetapi biasanya kuahnya bening. Ini beda. Kuah karinya cenderung lebih kental dan berisi daging tanpa lemak. Lalu disajikan bersama irisan lontong, kacang, telur, emping belinjo dan acar mentimun. Rasanya perpaduan gurih dan manis. Jika suka silakan tambahkan ancar lagi dan sambal. Sayangnya lidahku kurang cocok dengan rasa lontong kari ini. Terlalu manis menurutku. Mungkin jika disajikan tanpa penambahan kecap manis sepertinya lebih nikmat. Sekali lagi urusan selera.
Usai menyantap lontong kari aku langsung minum es campurnya. Wow es campurnya lain daripada yang lain. Isinya beragam seperti cao, alpukat. Rasanya sirupnya kurang dominan dan lebih cenderung mirip es susu coklat. Tapi beneran, uenak dan sueger. Tak jauh beda dengan es cobra Salatiga deh. hehehe. Seporsi lontong kari spesial dipatok harga 13 ribu rupiah. Sedangkan es campurnya harganya berapa aku lupa. Sorry bro.hehehe. Pokoknya untuk makan dan minum tak sampai 25 ribu deh. Mantap kan. Silakan coba kalau ke Bandung.
Kali ini tempatnya lain daripada yang lain. Jangan bayangin rumah makan besar di kawasan elit. Warung Lontong Kari Kebon Karet ini lokasinya di gang sempit di gang Kebon Karet Bandung. Jadi Anda mesti melintasi jalan Otista untuk menemukan gang ini. Posisinya tak terlalu jauh dari stasiun Kebon Kawung Bandung. Ada plangnya dengan tulisan lontong kari kebon karet di muka gang. Jadi Anda mesti masuk ke dalam gang sempit itu untuk menemukan warung lontong kari kebon karet ini. Walaupun di dalam gang tapi tempatnya bersih dan nyaman.
Warung lontong kari kebon karet ini sudah berdiri sejak tahun 1966.Pendirinya namanya Hj. Ety (alm) dan H. Engkos Kosasih. Tak heran jika sudah terkenal. Bahkan kini usaha ini mulai diteruskan pengelolaannya oleh anak-anak H. Engkos. Pembelinya dari mana-mana. Kalau hari Sabtu Minggu dan hari libur malah dipadati pengunjung dari Jakarta. Mereka rela memarkir mobilnya di jalan raya dan antri masuk gang demi bisa menyantap lontong kari kebon karet ini. Warung ini buka dari jam 7 pagi hingga jam 8 malam.
Berdasarkan informasi yang kudapat setelah browsing internet, maka aku sengaja memesan lontong kari spesial dan es campur begitu duduk di bangku warung ini. Sebenarnya ada beberapa menu makanan dan minuman yang dijual seperti soto bandung dan nasi goreng. Tapi katanya lontong kari spesial dan es campurnya yang paling direkomendasikan dan tak boleh dilewatkan kalau mampir ke tempat ini.
Ternyata saat lontong kari spesial ini disajikan wujudnya beda banget dengan bayanganku. Aku sudah bebrapa kali makan lontong kari. Tetapi biasanya kuahnya bening. Ini beda. Kuah karinya cenderung lebih kental dan berisi daging tanpa lemak. Lalu disajikan bersama irisan lontong, kacang, telur, emping belinjo dan acar mentimun. Rasanya perpaduan gurih dan manis. Jika suka silakan tambahkan ancar lagi dan sambal. Sayangnya lidahku kurang cocok dengan rasa lontong kari ini. Terlalu manis menurutku. Mungkin jika disajikan tanpa penambahan kecap manis sepertinya lebih nikmat. Sekali lagi urusan selera.
Usai menyantap lontong kari aku langsung minum es campurnya. Wow es campurnya lain daripada yang lain. Isinya beragam seperti cao, alpukat. Rasanya sirupnya kurang dominan dan lebih cenderung mirip es susu coklat. Tapi beneran, uenak dan sueger. Tak jauh beda dengan es cobra Salatiga deh. hehehe. Seporsi lontong kari spesial dipatok harga 13 ribu rupiah. Sedangkan es campurnya harganya berapa aku lupa. Sorry bro.hehehe. Pokoknya untuk makan dan minum tak sampai 25 ribu deh. Mantap kan. Silakan coba kalau ke Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)









































