Jumat, Januari 20, 2012

Kacang Panjang Masak Kecap

Halo, makan siang apa hari ini? Kalau aku sudah bawa bekal nasi dengan sayur kacang panjang masak kecap, telur dadar, dan rempeyek untuk makan siang di kantor hari ini. Sayur kacang panjang masak kecapnya aku sendiri tadi yang bikin. Mau tahu bagaimana membuatnya? Ini aku bagi resepnya.

Bahan :
- 1 ikat kacang panjang
- kecap manis secukupnya
- kecap asin secukupnya
- saus tiram
- bawang merah goreng
- minyak goreng

Bumbu :
- 3 siung bawang putih
- 1 siung bawang merah
- 5 biji cabe rawit atau sesuai selera
- 1 biji cabe merah besar
- sedikit trasi
- garam secukupnya
- gula secukupnya.

Cara membuat :
- potong kacang panjang dengan ukuran setengah ruas jari atau sesuai selera
- rajang halus bawang merah, bawang putih, cabe rawit dan cabe merah
- siapkan sedikit minyak panas dalam wajan
- masukkan irisan cabe, bawang, trasi ke wajan
- tumis sebentar hingga harum
- masukkan kacang panjang yang sudah dipotong
- masak hingga kacang panjang agak matang
- kalau perlu tambah sedikit air agar kacang panjang cepat matang
- tambahkan garam, gula
- tambahkan kecap manis, kecap asin dan saus tiram secukupnya saja.
- masak hingga matang.
- jika sudah matang baru taburi bawang merah goreng
- siap disantap.

Kamis, Januari 19, 2012

Tahu Telur Kediri

Besuk sudah mulai long weekend lagi. Waktunya masuk dapur dan menjajal berbagai resep masakan yang enak untuk di santap. Kali ini aku mau berbagi resep Tahu Telur Kediri yang mudah dibuat dan lezat rasanya. Silakan mencoba .

Bahan :
- 2 buah tahu
- 1 telur ayam
- taoge
- kecap manis
- seledri
- krupuk bawang goreng
- minyak goreng
- merica secukupnya
- bawang merah goreng secukupnya
- acar mentimun

Bumbu :
- 5 cabe rawit atau sesuai selera
- gula secukupnya
- garam secukupnya
- 3 siung bawang putih
- petis udang secukupnya
- kacang tanah goreng secukupnya

Cara menbuat :
- Rebus taoge lalu sisihkan
- Rajang seledri dan sisihkan
- Tahu putih diiris kecil-kecil persegi empat
- Kocok telur ayam, tambah sedikit garam dan merica halus
- Goreng dalam minyak panas
- Jika sudah matang taruh di atas piring.
- Haluskan semua bumbu
- Tambah kecap manis dan sedikit air panas.
- Tambah bawang merah goreng
- Siapkan tahu telur goreng tadi, tempatkan taoge rebus, kacang goreng, seledri
- Guyur dengan bumbu
- Tambahkan krupuk dan acar mentimun
- Siap disajikan

Ayam Bakar Mas Mono

Pernah dengar kisah orang susah jadi orang sukses? Atau cerita orang miskin jadi orang kaya. Sepertinya mustahil tapi nyatanya banyak orang yang bisa berhasil melakukannya. Salah satu pengusaha muda yang benar-benar berangkat dari nol dan dari kehidupan bawah adalah Agus Pramono. Pemilik Ayam Bakar Mas Mono ini dulunya sekitar tahun 1999 memulai pekerjaannya jadi Office Boy. Lalu ia alih profesi jadi penjual Gorengan hingga jadi penjual ayam bakar Kalasan kaki lima di kawasan Tebet Jakarta Selatan.

Bahkan kemudian karena sangat laris ia bisa membuka rumah makan Ayam Bakar Mas Mono. Tak berhenti di satu rumah makan saja, ia melebarkan sayapnya hingga di tahun 2012 ini punya sekitar 23 cabang rumah makan Ayam Bakar Mas Mono yang tersebar di seantero Jakarta. Hebat kan.Padahal semula ia tak punya bakat memasak tapi karena mau berusaha bisa jadi sesukses itu.

Kisah keberhasilan enterpreuner muda bernama mas Mono ini sudah sering aku dengar sejak lama. Bahkan aku pernah melihat ia berbagi cerita tentang kesuksesannya di salah satu acara TV, Nikmatnya Sedekah yang diasuh oleh KH Yusuf Mansyur. Menjadi seorang pengusaha muda yang sukses ini adalah suatu anugrah. Semoga keberhasilannya bisa kita ikuti. Aamiin.

Ngomong-ngomong soal warung ayam bakar Mas Mono, aku belum pernah mampir ke warungnya yang berada di kawasan Tebet Jakarta. Tetapi kapan hari aku sudah membeli di salah satu cabang Ayam Bakar Mas Mono yang berada di jalan Salemba Tengah Jakarta. Posisinya tak jauh di belakang Seven Eleven Jl. Salemba Raya Jakarta Pusat. Gampang kok nyarinya, yang warna rumah makannya hijau pupus, jadi mencolok sekali.

Sama seperti yang di tempat lain, Ayam Bakar Mas Mono sengaja menata ruangannya santai sekali. Dengan gunakan meja dan bangku panjang aja ala kaki lima. Di dinding banyak dipasang hiasan, gambar, foto-foto artis yang pernah datang dan tulisan-tulisan yang seperti ingatkan kita sedang berada dimana. Meski tak ber-AC tapi mereka memasang kipas angin supaya pengunjung tak kepanasan.

Menu yang ditawarkan di Ayam Bakar Mas Mono sangat beragam.mulai ayam bakar, tahu tempe bacem , ca kangkung, juga ada ayam kremes sambel petir Sedangkan minumannya mulai es teler, es teh, es jeruk dan sebagainya. Aku udah pernah coba ayam kremes sambal petir dan ayam bakarnya. Wow untuk ayam bakarnya menurutku tak terlalu manis. Sambal petirnya pedes seperti sambal bawang cabe rawit yang biasa bikin di rumah itu. Dimakan dengan nasi, kremes dan lalap pas di lidah. Es telernya juga seger.

Karena berada di dekat kampus UI, BSI, YAI, maka rumah makan Ayam Bakar Mas Mono yang berada di Salemba Tengah seperti tak pernah sepi pengunjung. Apalagi mereka tawarkan harga paket sekitar 15-20 ribu untuk nasi ayam bakar, sambal dan minum. Jadi pas untuk kantong mahasiswa di Jakarta. Buat karyawan yang ngekos juga cocok. Hahaha kebetulan aku biasa ngekos di kawasan Salemba kalau pas tugas di Jakarta.

Secara keseluruhan makan di Ayam bakar Mas Mono jl Salemba Tengah Jakarta mantap. Hanya sayangnya....... terlalu banyak pengamen yang keluar masuk tempat ini. Jadi sangat mengganggu yang sedang makan. Andai dilarang masuk ke dalam tempat makan ini sepertinya lebih bagus. Semoga bisa jadi kritik saran yang membangun.

Selasa, Januari 17, 2012

Sate PikulanTrawas

Bingung mengisi hari libur kemana? Jika ingin mencari hawa sejuk maka Anda bisa pergi kawasan Trawas. Trawas adalah lembah yang diapit dua pegunungan yaitu Welirang dan Penanggungan. Hawanya sangat sejuk, pemandangannya indah. Bila ingin berlibur ke Trawas tak perlu khawatir karena saat ini banyak hotel dan villa yang disewakan dengan harga terjangkau disini. Juga banyak tempat untuk outbound, camping ground dan sebagainya.

Hari Minggu kemarin (15/1) aku mesti berangkat ke Trawas. Ada tugas kantor yang mengharuskan pergi kesana. Dari Surabaya aku naik bis jurusan Malang dan turun di Pandaan. Sesampai di terminal Pandaan banyak tukang ojek yang menawari aku naik ojek ke Trawas. Tapi berhubung aku takut mengingat jalannya agak mengerikan maka aku memilih naik angkot/L300. Biaya naik angkot dari Pandaan ke Trawas hanya 5 000 perak tapi Anda harus sabar menanti karena kadang menunggu mobil penuh baru berangkat.. Beruntung kemarin supirnya baik, jadi meski cuma 4 orang penumpang tetap berangkat. Kebetulan jalanan menuju Trawas sedang ramai karena ada even Gapensi Adventure (balap motor). Mereka kumpul di Taman Wilwatika. Aku cuma lewat saja taman wilwatika dalam perjalanan ke Trawas. Sampai ketemu patung seno kami langsung belok kanan dan menuju Trawas. Perjalanan mulai menegangkan disini. Karena banyak jalan tanjakan dan turunan yang sangat tajam. Yang paling terkenal sangar adalah jurang kuping. Butuh kemampuan mengemudi yang baik jika ingin ke Trawas dengan sepeda motor atau mobil. Kami sempat melewati pasar buah di sebelah kiri jalan dan aku berhenti di kawasan Berkas/Sumber Wekas dimana disini ada Villa milik salah satu relasiku dan even pameran di tempat tersebut. 

Sebenarnya kalau punya waktu luang cukup memang enak meneruskan perjalanan hingga ke pusat kota Trawas. Disana lebih ramai. Mau belanja buah dan sayuran jelas disana lebih cocok. Mau naik kuda dan sebagainya disana tempatnya. Kalau sampai Berkas baru ketemu pepohonan yang rimbun saja. Tetapi hawanya lumayan sejuk. 
 Dari pagi sampai petang aku harus nongkrong di arena pameran dan tak bisa kemana-mana. Untung villanya bagus, dan luas. Jadi aku bisa cuci mata. "Kapan punya villa sebagus itu," mimpidotcom.hehehe. 

Karena hanya sempat sarapan roti jelas aku lapar begitu sampai Trawas. Bingung mau makan apa. Nunggu jatah makan siang dari panitia jelas siang baru ada. Beruntung kulihat ada penjual sate pikulan yang berjualan di lokasi pameran.

Namanya pak Kasmadi. Dia sudah berjualan sejak tahun 1980-an. Biasanya ia dagang dari jam 4 sore hingga jam 7 malam ke villa-villa dan kampung di area Trawas. Langganannya banyak. Tiap hari Minggu biasanya ia dagang di arena lintas alam. "Kali ini disini karena yang punya villa ini sudah jadi langganan saya dari dulu," katanya dengan bangga.

Pak Kasmadi menata dagangannya dalam pikulan. Sudah lama aku tak lihat penjual sate pikulan model begini. Di taruh daging mentah disisi kanan. Bumbu-bumbu disisi kiri. Lalu ia mulai membakar sate dalam tungku kecilnya. Ia menawarkan 2 jenis sate yaitu sate ayam dan sate kelinci. Untuk sate ayam bisa pilih daging atau kulit atau campur.

Harga seporsi sate ayam/kulit dan lontong adalah 10 ribu perak sedangkan untuk sate kelinci adalah 15 ribu perak. "Tiap hari saya dagang juga segitu harganya bukan karena ada even. Silakan cek kalau saya jual e kampung-kampung," kilahnya. Hehehe kalau ga percaya masak mau ke kampung-kampung. Sate daging dan kulit ayamnya lumayan ukurannya. Tak sekecil sate laler meski juga tak sebesar sate ponorogo. Dibumbui dengan bumbu kacang dan kecap. Apalagi dengan sambal dan irisan bawang merah yang banyak. Hm enak. Mungkin karena lapar jadi terasa enak di lidahku. Mau gimana lagi, adanya juga cuma penjual sate pikulan di Trawas. Mungkin kalau ke Trawas lain waktu bisa ketemu penjual kupang lontong. Jadi bisa jadi bahan tulisan juga.

Jumat, Januari 13, 2012

Soto Lenthok Pak Sadari

"Soto lagi, soto lagi" itu adalah komentar dari keluargaku jika menanyakan apa yang kumakan saat tugas di luarkota. Aku sih cuma ngakak. Emang hobi sih makan soto. Di Yogyakarta minggu lalu, aku sempat makan soto ampai 2 kali. Yang pertama soto ayam pak Sadari dan kedua soto daging pak Soleh. Kali ini aku mau cerita soal soto pak Sadari dulu ya.


Kapan hari aku dan sobatku di Yogya, mbak Cay ,sempat kebingungan saat mencari lokasi warung soto ayam itu. "Seingatku di depan SD" kata mbak Cay waktu kami sudah melintasi jalan Hayam Wuruk. Tapi hingga kami hampir memasuki kawasan Lempuyangan penjual soto ayam tersebut tak kami temui. Akhirnya kami memutuskan berbalik arah. Ternyata lokasinya pindah di dekat traffic light perempatan jalan Hayam Wuruk. Jadi di kiri jalan bukan di tempat yang lama di kanan jalan depan SD. "Kami sudah pindah sini sejak 2 tahunan yang lalu, mbak. Tempat yang lama untuk Indomar*t" terang ibu berjilbab yang melayani kami.

Menurut mbak Cay, waktu masih di tempat yang lama tempatnya lebih luas. Kini agak sempit. Tak sulit kok mencari tempatnya, dekat lampu merah Hayam Wuruk Yogya. Ada spanduk biru bertuliskan Soto Lenthok Pak Sadari. Khas Tempo Dulu. 100% ayam kampung. Gerobaknya warnanya kuning. Ada beberapa meja dan bangku panjang yang disediakan untuk makan dan minum.

Kami memesan 2 mangkuk soto dan 2 gelas teh panas. Sotonya memang menggunakan kuah yang bening. Dan tak kental. Rasanya gurih tak terlalu asin. Di dalamnya berisi suun taoge, kubis, rajangan seledri, irisan ayam. Dimakan dengan sambal dan perasan jeruk nipis jika suka.

Lenthoknya yang paling kusuka. Lenthok adalah perkedel ketela khas Yogya yang memang biasa dipakai sebagai teman makan soto. Rasanya gurih. Selain lenthok kita bisa mengambil lauk lainnya yang disediakan di piring-piring yang ada di atas meja. Ada sate kulit/usus, sate telur puyuh, lenthok goreng dan tahu bacem. Silakan pilih sesuai selera. Juga ada krupuk rambak kulit dan krupuk puli buat yang suka kriuk kriuk. Pokoknya jangan lupa bayar sesudah makan. 

Jajanan Masa Kecil

Tidak usah malu-malu mengakui, kita terkadang merindukan masa kanak-kanak dulu. Waktu dimana kita bisa menyantap panganan murah dan meriah bersama-sama teman-teman sekolah atau anak-anak tetangga sekitar kita. Sepertinya tanpa beban membeli penganan dari pedagang keliling yang lewat depan rumah dari sisa uang saku yang diberikan ayah dan ibu.

Semenjak aku bergabung di jejaring sosial facebook dan bertemuj teman-teman lama, kami sering berbagi cerita mengenai masa kecil kami. Kebetulan aku lahir dan dibesarkan di kota Kediri, salah satu kota kecil di Kediri yang punya banyak makanan khas tradisional. Sebut saja, lopis, cenil, putu, gethuk , gatot dan masih banyak lagi. Bila kami bicara mengenai makanan masa kecil selalu jadi topik yang menyenangkan.

Suatu hari aku sengaja memasang foto “Rangin” di facebook. Rangin ini bukan saja jajanan khas Kediri tapi juga di kota -kota lain di Jawa Timur. Makanan ini sebenarnya juga dijual di Surabaya. Hanya saja aku agak susah payah mendapatkannya  karena tak ada warung atau toko kue yang menjualnya. Demi bisa makan rangin,  aku mesti pesan pada cleaning service kantor untuk membelinya jika ia melihat penjual rangin lewat depan rumahnya. Karena biasanya dijual oleh pedagang keliling dengan cara dipikul.
13080413081938840369
Perlu diketahui Rangin itu adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar tepung beras, santan, parutan kelapa dan garam. Dimasak dengan menggunakan cetakan mirip cetakan kue pukis. Jadi jika jadi mirip kue pukis tapi pipis. Rasanya gurih dan enak sekali. Jika Anda suka yang manis, tinggal minta ditaburi gula pada penjualnya.  Di Surabaya 5 biji rangin masih dihargai seribu perak. Masih murah kan?
Ketika melihat aku memasang foto rangin di facebook, teman-temanku dari berbagai kota banyak yang berkomentar. Rangin ini sebenarnya banyak dijual di kota-kota lainnya tetapi dengan nama berbeda. Ada yang menyebutnya dengan nama bandros. Nama bandros dilontarkan oleh seorang teman dari Bandung. Sedangkan teman dari Jakarta menyebutnya kue pancong. Lalu ada juga yang menyebutnya gandos. Yang pasti meski namanya bermacam-macam tapi maksudnya sama yaitu rangin.
Selain rangin, aku juga punya jajanan favorit bernama blendung. Kata temanku dari Solo mereka menyebutnya dengan nama grontol. Apakah blendung ini beneran sama dengan grontol, aku tidak tahu. Blendung ini adalah jagung pipilan yang direbus dan disajikan dengan taburan kelapa parut muda dan garam. Rasanya gurih sekali. Dulu di Kediri ada embok embok yang menjualnya dengan menggendongnya dalam bakul. Tapi sayang sekarang sudah jarang kutemui kalau aku pulang kampung ke Kediri. Mungkin jika mau ke pasar-pasar tradisional mungkin masih ada penjual blendung ini.
13080413911297018796
Menurut teman-temanku di Surabaya, kadang ada penjual keliling membawa sepeda ontel menjual aneka jajanan pasar. Blendung tentu termasuk salah satu diantaranya. Sayangnya aku belum pernah bertemu penjual jajan pasar keliling ini lewat depan rumah atau kantor. Sungguh beruntung kemarin kakakku menemukan penjual blendung di kawasan Sedati Sidoarjo . Ibu penjual blendung ini mengaku dari Kediri. Ia berjualan blendung dan nasi jagung setiap pagi hari. Jadi jika ingin blendung aku tinggal membeli di Sedati.

Sabtu yang lalu aku main ke rumah salah satu teman lama,mbak Aan yang berada di kawasan Dayu Kaliurang Yogyakarta. Ia menyuguhkan juga aneka jajan pasar yang dulu biasa kutemui masa kecil. Ada gethuk ada aneka warna (semacam getuk lindri dan getuk magelang) rasanya manis tapi enak. Ngomongin soal gethuk aku jadi ingat dulu di perempatan jalan HOS Cokroaminoto/Joyoboyo Kediri ada penjual getuk lindri yang biasa berjualan di sana. Ia jualan juga kue putu. Hm makanan serba  manis. Kalau di Solo penjual gethuk yang terkenal adalah gethuk subur yang ada di kawasan Sriwedari Solo. Mungkin sampai sekarang masih ada.
Sebenarnya kemarin sebelum balik ke Surabaya, Kunti sahabatku yang tinggal di Kaliurang juga akan memberiku oleh-oleh jadah. Makanan berbahan dasar ketan itu rasanya gurih. Sayang aku batal ketemu Kunti, jadah mbah Carik Kaliurang yang terkenal itu  melayang dari genggaman deh. 
 
Untungnya di rumah mbak Aan sempat ketemu temannya jadah yaitu wajik. Kalau wajik sama-sama berbahan dasar ketan tapi rasanya manis. Yang umum warnanya coklat tetapi sekarang beranekaragam warna. Kemarin mbak Aan membeli jajanan pasar ini di pasar Kranggan Yogya. Dan yang disajikan ke kami wajik berwarna coklat dan merah. Tapi soal rasa tetap manis. hehehe. 

Meski saat ini jaman telah modern dan sudah banyak dijual anek roti dan kue tetapi makanan tradisional semacam rangin,blendung, jadah dan wajik tetap harus dilestarikan. Rangin dan blendung jelas lebih aman dikonsumsi karena tak mengandung bahan pengawet. Semoga jajanan tradisional ini tak hilang dari peredaran sampai kapanpun jua.

Kamis, Januari 12, 2012

Warung Bu Joko

Bila Anda sedang berjalan-jalan di Malioboro Yogyakarta dan pingin coba makanan rumahan khas Yogya maka kuanjurkan berbelok ke jalan Dagen. Posisi jalan Dagen kalau dari arah setasiunTugu/hotel Garuda, sesudah Malioboro Mall belok ke kanan. Di sepanjang jalan Dagen banyak penginapan dan hotel dari yang murah sampai mahal. Jadi banyak pula penjual makanannya.

Kalau sedang di Yogya, aku selalu menyempatkan diri mampir ke warung bu Joko. Posisinya di kanan jalan tak jauh dari jalan Malioboro. Sepanjang jalan masuk Dagen banyak penjual kaki lima. Cari salah satu gerobak dorong warna coklat yang ada tulisannya Bu Joko. Ditanggung tak pernah sepi pembeli karena memang jadi langganana para pedagang di kawasan Malioboro dan penjaga toko di  malioboro mall.

Tapi Aku tak merekomendasikan warung ini buat yang gak biasa makan di warung. Soalnya tempatnya agak sempit. cuma ada 2 meja dan bangku panjang saja untuk menyantap makanan di sana. Jadi biasanya makan sambil berdesak-desakan dengan para pembeli yang lain. Tapi pembelinya cantik-cantik dan keren-keren karena para SPG-SPB Malioboro mall.hehehe

Kalau kita mampir disini, bu Joko akan menawari kita memilih makanan yang hendak kita makan. Sayurnya macam-macam, mulai gudeg, sayur bening/kunci, sayur lodeh, sayur sop dan lain-lain. Lauknya puluhan jenis, mulai ayam goreng, ayam opor, empal daging, empal bacem, babat bacem, ikan goreng, udang goreng tepung, kikil masak kecap, usus bumbu, tahu/tempe bacem, telur dadar goreng dan sebagainya.

Jika sudah masuk ke warung bu Joko, aku kadang bingung memilih menu apa. Tapi ujung-ujungnya tetap nasi, dengan lauk usus pedas, kikil pedas plus suun dan sambal. Wow usus ayam dipotong pendek dimasak kecap dan pedas sungguh nikmat sekali. Kikil pedas masak kecapnya juga enak. Kikilnya empuk sekali. Hm enak. Suunnya digoreng dengan bumbu kecap juga. Semuanya dimakan dengan nasi sambal, yang pasti enak sekali. Tak menunggu lama, makanan langsung tandas di piring.

Aku melirik ada babat goreng bumbu bacem. Aku kok jadi pingin. Kulihat nasi di piring juga masih sisa sedikit. Dengan malu-malu, aku mengangsurkan piringku ke bu Joko dan meminta tambahan babat goreng bacem. Bu Joko langsung mengambil babat dan memotongnya menjadi bebeapa bagian sebelum memasukkannya ke piringku. Dan ia pun memberikan lagi piringku. Hm aku pun langsung menyantapnya. Wow maknyus banget. Babatnya dibumbui dengan bumbu bacem yang tak terlalu manis. Jadi pas di lidahku. Dimakan dengan lalap ketimun, tambah jempol.


Sesudah makanan habis, aku langsung meminum es teh. Kemudian aku pun beranjak pergi. Hm 15 ribu perak untuk makanan dan minuman yang kusantap. Tak apa, wong enak.hehehe. Tak percaya , silakan mampir kalau ke Malioboro.