Kamis, Januari 12, 2012

Kering Tempe

Ayo hari ini belajar memasak lagi. Masuk dapur dan mencoba menu yang mudah dengan bahan dasar yang murah. Kering tempe bisa dibilang mudah bikinnya dan bisa sebagai teman makan nasi putih maupun nasi kuning. Silakan mencoba.
 Kering Tempe :

Bahan :
- 1 kotak tempe
- minyak goreng
- kecap manis

Bumbu :
- 3 cabe merah besar
- 5 cabe rawit
- 3 siung bawang putih
- trasi secukupnya
- satu jari laos
- gula secukupnya
- garam secukupnya
- bawang merah goreng secukupnya.

Cara membuat :
- Iris tempe menjadi dengan bentuk persegi panjang kecil-kecil. Lalu goreng agak kering dan sisihkan
- Haluskan bumbu semua kecuali bawang merah goreng
- Siapkan minyak panas lagi, tumis bumbu hingga harum.
- Tambahkan irisan tempe goreng tadi.
- Tambahkan kecap manis sesuai selera.
- Aduk hingga rata.
- Taburi bawang merah goreng di atasnya.
- Siap disajikan

Selasa, Januari 10, 2012

Batu dan Sawah Bunga

Jujur baru kapan hari aku mendengar sebuah tempat bernama Sawah Bunga. Nama itu dipromosikan sahabatku,Indah saat aku bersama Tirta berlibur di rumahnya yang berada di Malang Desember lalu. Kami yang hobi jalan-jalan langsung tak menolak saat ia akan mengajak kami ke tempat yang diinginkannya itu. “Pokoknya lokasinya di Batu,” katanya.

Dengan mengendarai mobilnya, kami bertiga berangkat ke Batu. Karena hari Sabtu jalanan dari kawasan jalan Sukarno Hatta Malang menuju Batu yang seharusnya dekat jadi terasa jauh karena kami mesti memutar mencari jalanan yang tidak macet. Mulai kampus Universitas Brawijaya , pasar Dinoyo hingga Tlogomas memang hampir tiap hari macet. Apalagi kalau hari libur karena banyak yang berwisata ke Malang.
Kami tak bisa berkendara terlalu cepat karena hujan deras mengguyur begitu memasuki kawasan Sengkaling (yang ada wisata airnya itu). Tapi kami tak berhenti, memilih melanjutkan perjalanan.

Sampai di kota Batu aku menyaksikan pemandangan yang berbeda. Alun-alun Batu yang dulu tampak biasa-biasa saja jadi tampak indah karena disulap menjadi taman bermain. Ada patung buah apel warna merah/hijau, wortel, patung sapi, kelinci dan sebagainya. Selain itu juga disediakan aneka mainan anak-anak jadi tampak ramai. Sayangnya saat itu gerimis jadi kami tak bisa duduk santai dan berfoto di sana.
13243533251324674930
Biasanya setiap ke Batu aku selalu mampir ke pusat PKL yang ada di dekat alun-alun itu. Ternyata sekarang sudah tak ada. Untungnya kedai Pusat susu Ganeca yang terkenal dari dulu kala menjual susu murni dengan anekarasa buah (leci, anggur, strawberry dan lain-lain) dan yogurt serta jajanan masih ada. Kami mampir ke sana membeli susu segar rasa anggur dalam botol kecil seharga 2500 perak/botol.
132435525090414951
Karena lapar kami tengak tengok cari warung. Kami pikir pasti para penjual makanan yang biasa jualan disitu pasti pindahnya tak jauh dari tempat itu. Benar di belakang kedai susu ganeca ada sebuah warung. Warung itu menjual makanan yang kami inginkan. Jadi para pedagang kaki lima bergabung jadi satu membuka satu warung itu. Ada gado-gado pak Tompo, Cuimi dan pangsit ayam serta tahu telur. Kami memilih membeli 2 piring gado-gado dan cuimi 1 mangkok. Rasanya masih seenak dulu. Dan tahu aku mesti bayar berapa untuk 3 menu itu,hanya 15 ribu perak. Murah kan. Coba ga hujan , aku pingin minum es campur. Es campur di Batu ini uenak. Ada yang jual es campur ini di depan warung gado-gado itu. Tapi kali ini aku memilih absen ga beli dulu.

Sebelum melanjutkan perjalanan kami lihat ada seorang bapak tua bertopi kopiah menjual kripik kentang di depan kedai susu ganeca. Dia membuka satu plastik kripikkentang agar kami bisa mencobanya. Rasanya gurih. Kami sempat membeli 5 bungkus. 1 bungkusnya seharga 10 ribu perak. Terus terang kami salut dengan pak penjual keripik kentang ini. Meski sudah berusia lanjut sekitar 70 an tapi masih mencari nafkah sendiri. “Dimana dan gimana sih anak-anaknya,” keluh teman-temanku.

Usai dari alun-alun Batu kami meneruskan perjalanan ke Sawah Bunga. Kukira temanku, Indah yang mengajak kami tahu lokasinya, ternyata tidak tahu. Ia cuma tahu info dari sepupunya kalau  lokasinya sebelum kawasan Selekta. Dari Batu kami melewati jalan Bukit Berbunga, terus lewat hotel Purnama Batu yang terkenal sejak lama itu. Tapi belum ada tampak tanda-tanda tulisan Sawah Bunga.

Sesudah melewati masjid besar berwarna biru di kiri jalan, Kami lihat ada plang tulisan Desa Bunga tapi kami ragu. Kami bertanya pada orang yang berteduh di pos ojek di ujung gang itu . “Maaf pak, kalau sawah bunga itu mana ya?”. Dia bingung menjawabnya tapi kemudian menyuruh kami berbelok kekiri atau masuk gang itu. Kami nekat masuk kesana. Tapi yang kami lewati perkampungan padat penduduk. Ada seorang cewek membawa semangkuk mi yang lewat di pinggir jalan langsung kami tanyai. Ia menyuruh kami terus saja. Kami pun terus mengikuti jalanan itu. Dalam bayanganku sebuah tempat rekreasi penuh bunga, ada tempat makannya. Makanya kami tengak tengok. Yang kami lihat memang banyak rumah dengan kebun bunganya.

Bahkan kami melewati sungai yang mengalir deras airnya. Hm ingin rasanya turun kesana.hehehe.
Kami lihat disisi kiri ada sebuah rumah makan yang menawarkan kolam pancing ikan dengan menulis harganya perkilo untuk gurami, nila, patin dan sebagainya. Tapi kok ga ada bunganya. Kami pun terus saja. Ada pasar bunga di kiri jalan tapi tidak kami gubris. Semakin masuk kedalam kami malah ketemu perkaampungan penduduk lagi. Daripada semakin jauh tersesat dalam desa, kami berhenti dan bertganya pada seorang bapak bersepeda motor yang berhenti di depan toko untuk menanyakan sawah bunga. “Lho sudah kelewat,mbak. Itu tadi yang banyak tanamannya. Pasar bunga di kiri jalan,” jelasnya. Kami pun langsung berbalik arah. Ribet cari Sawah Bunga ternyata tak ada yang pasang plang Sawah Bunga.hehehe.

Kami berhenti di depan Pasar Bunga Sekar Mulyo. Sembari geli kami tanyakan soal Sawah Bunga ini. ” Sawah Bunga itu istilah yang biasa orang berikan pada desa Sidomulyo Batu. Karena sebagian besar penduduknya petani Bunga,” jelas salah satu ibu penjual bunga di sini. Kami cuma bisa tertawa. Jadi tak ada kebun wisata khusus penuh bunga yang dikelola oleh investor.

Di Pasar Bunga Sekar Mulyo Desa Sidomulyo Batu ini ada beberapa kios bunga yang berjajar. Kami bisa memilih anekaragam tanaman yang kami mau. Harganya sangat miring. “Lebih murah daripada di Dewi Sri,” komen temanku. Tanaman jeruk sambal yang biasanya dijual dengan harga 25 ribuan disini ditawarkan dengan harga 15 ribu perak dan masih bisa ditawar. Aneka bunga mawar, melati, sepatu, anggrek dan sebagainya bisa dibeli dengan harga murah. Tanaman dedaunan  seperti jemani, sri rejeki, sri harto ada semuanya. Buah-buahan yang dicangkok seperti mangga, sirsak, kelengkeng, rambutan pun juga ada. Semuanya harganya ditanggung lebih murah dibandingkan jika dibeli di Malang atau kota lainnya. Sangat cocok buat yang hobi koleksi bunga,buah  dan tanaman deh.

Di belakang pasar itu ada kebun bunga dan tamanan itu. Kami sempat berfoto disana karena latar belakang pemandangannya bagus sebab tampak pegunungan di kejauhan. Meski agak berkabut karena habis gerimis.
Kami sempat membawa pulang 3 pohon bunga sepatu 3 warna, dan 5 tanaman hijau yang bercorak batik. Entah apa namanya. Dan semuanya cuma dihargai 35 ribu perak. Ga rugi deh jauh-jauh kesini bisa belanja bunga dan tanaman dengan harga murah. Ayo siapa suka tanaman, kalau jalan-jalan ke Batu jangan lupa mampir Sawah Bunga ya. hehehe

Nostalgia Kusumasari

Rumah makan Kusumasari bisa dibilang jadi favoritku dan kawan-kawanku semasa kuliah di Solo. Makanya jika kami ngobrol mengenai Solo pasti tak jauh-jauh dari ngobrolin Kusumasari.  Kami dulu biasa memilih tempat itu jika ada yang pesta ultah atau wisuda. Tempat ini juga selalu kupamerkan dan untuk menjamu  saudara dan kawan-kawanku yang datang menjengukku saat kost di Solo. Makanya begitu aku bilang kusumasari semua langung komen "pengin".hehehe.

Resto Kusumasari yang lama berada diujung perempatan jalan antara jalan Slamet Riyadi dan YOS Sudarso Solo telah berdiri sejak bertahun-tahun yang lalu. Pendirinya namanya Bu Menggung. Kini beliau telah tiada dan usahanya diteruskan oleh anak-anaknya.

Seminggu yang aku mampir ke Solo selama beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Waktu itu aku mesti menemui salah satu relasi kantor yang berada di jalan Slamet Riyadi tetapi karena yang ditunggu belum datang, aku pamit jalan-jalan sebentar. Tujuanku memang ke Kusumasari yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari kantor itu.

Begitu masuk ke dalam resto Kusumasari suasananya tak jauh berbeda dari jaman dulu. Pegawai berseragam hijau tampak santai di dekat dapur resto. Tegel lantainya masih coklat kemerahan. Meja kursi sama. Tak terlalu terang pencahayaanya, pakai kaca riben, jadi kita bisa makan sembari nonton orang lewat tapi mereka tak bisa melihat kita.

Aku duduk dan membaca berbagai menu. Karena udah terlanjur janji ama sahabatku Ambar aku ga berani pilih menu yang mengenyangkan. Aku cuma memesan sop matahari, kroket mayonese dan colla float. Dari semua menu yang kupesan itu aku mesti membayar seharga 20 ribu perak. Hm masih ada yang harganya miring di Solo.

Sembari menunggu masakan siap disajikan kuperhatikan sekitar, beberapa pegawai kantor tampak duduk makan siang di sisi timur resto itu. Lalu pandanganku terpaku pada buku menu. Masih sama seperti yang dulu, ada sop matahari, sop galantine sop lapis, sop kusumasari. Semuanya enak kabeh seingatku. Saat disajikan ternyata memang sup matahari ini rasanya tetap seenak dulu. Perpaduan daging, wortel, telur yang dicacah yang dibentuk seperti bunga matahari dengan kuah bening. Wow mantap dan sedap. Kroket mayonesse benar-benar lezat. Masih sama seperti dulu. Berbahan kentang halus dengan bumbu tepat sehingga rasanya enak. Dimakan dengan mayonese lebih mantap lagi.

Colla floatnya juga segar, rasa sodanya lebih terasa dibanding susunya. Selain colla float, orange float, mereka juga punya menu minuman andalan berbagai jenis es cream seperti banana float, tutty fruty dan sebagainya. Sayang kemarin aku tak mencobanya jadi tak bisa memotret dan menunjukkan pada pembaca blog ini.Yang jelas es creamnya tak kalah dengan yang harganya mahal dan dijual di mall itu. 

Keluar dari sana aku kembali ke kantor relasiku. Tak membutuhkan waktu lama untuk membereskan urusan kantor dan kemudian aku pulang. Sahabatku Ambar menelepon dan mengajakku bertemu. Ia ternyata membawaku ke Resto Kusumasari lagi. Tapi ini yang berada di jalan YOS SUdarso atau di belakang resto yang pertama. Kalau yang di kawasan Nonongan ini lebih baru dibandingkan yang di Slamet Riyadi. Tempatnya lebih luas, dan bagus. Makanya lebih ramai. Aku ga ngomong sama Ambar jika sebelumnya aku baru makan di Kusumasari satunya.Belum kenyang sih, lagian mumpung ada yang traktir di Solo.hahaha.

Kami memilih duduk di pinggir dekat kasir. Hm ramai sekali. Ada kolam ikan dengan gemericik air di dekat tangga. Sebenarnya aku pingin memotretnya. Tapi aku kok malu ya.hehehe. Ambar memintaku memilih menu yang kusuka. "Lumpia dan kroketnya masih enak,": katanya. Aku tersenyum karena dua jam sebelumnya sudah menyantap sebuah kroket. "Lumpia saja deh satu," pesenku.  Wow lumpianya ternyata juga enak banget. Beda dengan lumpia semarang. Kulitnya lembut meski tak selembek kulit sosis solo. Isinya rebung taoge, dan cacahan ayam. Top markotop deh.

Untuk makanannya aku sengaja tak pesan sop lagi. Di Kusumasari yang paling terkenal memang steak murahnya. Ambar memesan steak lapis dan aku memesan selad paris. Sebenarnya ada beberapa jenis steak yang dijual yaitu steak galantine, chicken steak, sirloin steak, shrimp steak dan sebagainya. Dan untuk yang sejenis selat ada selat solo, selat paris, huzarensla dan sebagainya.

Seingatku Kusumasari memang yang menawarkan steak dengan harga kakilima pertamakali di Indonesia, Kalau sekarang warung steak kaki lima  sudah banyak di kota-kota besar. Di tempat ini pula aku pertama tahu makanan semacam chicken hotplate. Dulu mana orang tahu kalau ada makanan yang disajikan dalam pinggan panas. Kalau sekarang cari makanan yang disajikan dengan pinggan panas di foodcourt mall saja banyak. 

Steak lapis yang dipesan Ambar sudah disajikan. Wow, ada wortel, kentang, buncis. Daging lapisnya sebenarnya mirip galantine tapi dua warna kayak lapis. Diguyur saus berbumbu yang uenak. Kurang pedas? tinggal tambah saus cabe. Selat Paris yang kupesan lebih menggoda lagi. Di piring selain diberi salad buah juga ada potongan telur rebus , galantin dan biji kapri serta diguyur saus. Hm nikmat sekali.

Kami menyantap makanan  yang kami pesan sembari ngobrol dengan santai. Sesudah makanan tandas di meja, langsung minum. Aku minum es kopyor. Es kopyornya diberi sirup merah dan pakai air kelapa muda. Kopyornya beneran kelapa kopyor bukan kopyor sintetis yang terbuat dari agar-agar itu. Hm segar. Dan pasti kenyang. Sebelum pulang, Ambar yang membayar makanan minuman tersebut. 50 ribu perak melayang ke tangan kasir untuk 1 selad paris, 1 steak galantine, 1 kroket mayoinese, 2 lumpia, 1 es kopyor dan 1 teh hangat. Thanks mbar, traktirannya. Kapan bisa kesana lagi ya?

Senin, Januari 09, 2012

Rempah


Bahan :
- setengah butir kelapa muda
- minyak goreng
- 2 butir telur
- 1 ons tepung terigu

Bumbu :
- 3 siung bawang putih
-1 cm terasi
- ketumbar bubuk secukupnya
- garam secukupnya
- gula pasir secukupnya

Cara membuat :
- Parut kelapa muda dan sisihkan
- Haluskan bawang putih, terasi, garam, gula dan ketumbar.
- Campurkan bumbu yang sudah dihaluskan dengan kelapa muda parut.
- Kocok sebutir telur dan masukkan ke dalam adonan kelapa dan bumbu tadi
- Tambahkan tepung terigu dan aduk
- Bentuk bulat-bulat atau sesuai selera
- Kocok sebutir telur lagi.
- Masukkan bulatan rempah satu persatu ke kocokan telur tadi.
- Goreng dalam minyak panas dengan api sedang
- Siap disajikan

Gado-Gado Bu Hadi

Salah satu tempat yang paling sering kukunjungi jika ke Yogyakarta tentunya Malioboro Mall. Aku paling betah berlama-lama disana. Meski hanya sekedar membaca buku-buku baru di Gramedia atau hunting baju di Matahari. Bahkan kadang cuma ingin minum segelas coffe float KFC di Foodpark yang berada di lantai paling atas Malioboro Mall.

Jumat yang lalu aku kembali ke Malioboro Mall. Ini kulakukan sesudah capek berjalan-jalan menyusuri kawasan jalan Malioboro tapi tanpa berhasil membeli apapun dari jajaran pedagang kakilima di sana. Langkahku terhenti di foodpark Malioboro Mall. Lagi-lagi segelas coffe float KFC jadi teman setiaku. Tapi entah mengapa perutku kok lapar ya. Mataku memandang stan-stan yang ada di foodpark. Hm kurang tertarik sebenarnya.

Akhirnya mataku tertuju pada stan Gado-Gado Bu Hadi. Hm ini pasti cabang dari warung Gado-Gado Bu Hadi yang terkenal di Pasar Beringhardjo itu. Aku pun memesan sepiring gado-gado special. Harga plus pphnya sekitar 15 ribu perak. Entah kalau yang di pasar Beringhardjo apakah harganya juga sudah semahal itu.

Seporsi gado-gado special berisi kacang rebus, taoge rebus, bayam rebus, kentang rebus, irisan mentimun, dan kubis mentah. Ada tambahan separo telur, daun selada, dan irisan tomat. Diguyur bumbu gado-gado berbahan dasar kacang yang mirip sekali dengan sambel pecel. Tidak menggunakan santan seperti bumbu gado-gado Jawatimuran. Selain itu diberi krupuk udang. "Kalau gado-gado istimewa penyajiannya tambah lontong,/ketupat, telurnya satu dan diberi tambahan emping belinjo. Harganya 16 ribu,:" jelas mbak penjaga stan gado-gado bu Hadi.
Hm rasanya lumayanlah. Mereka menyediakan sedikit sambel cabe rawit di tepi piring. Jadi jika suka pedas tinggal mencampurnya. Enak juga. Tapi kalau ditanya, sorry aku mengatakan lebih suka gado-gado jawa timuran yang pakai bumbu santan. Kalau gado-gado versi Jogya ini lebih mirip pecel menurutku. Tapi aku penasaran pingin coba di tempat aslinya yaitu warung gado-gado bu Hadi yang berada di lantai atas pasar Beringhardjo. Siapa tahu lebih maknyos karena diracik sendiri pemilik warungnya.hehehe

Minggu, Januari 08, 2012

Sate Gajih

Saat keluar dari area Sekaten di alun-alun utara Yogyakarta hari Rabu kemarin, mataku tertuju pada kerumunan orang yang berdiri di trotoar pembatas jalan. Mereka ternyata sedang mengantri untuk membeli sate. Seorang ibu-ibu tua tampak duduk dan membakar sate. "Penjual sate gajih itu," jelas mbak Cay, sahabatku asli Yogya yang menemaniku nonton sekaten itu.

Kulihat macam-macam daging yang siap di bakar. Baunya menggugah selera. Sayangnya ga tahan jika harus ikut antri di tengah jalan begitu. Entar ada sepeda motor atau mobil nyelonong malah berabe. Tapi beneran aku sangat penasaran soal sate gajih ini. Sebab belum pernah aku dengar ada penjual sate gajih di kota manapun. Yang aneh-aneh menang Yogyakarta tempatnya.

Berdasarkan keterangan mami mbak Cay, aku mendapat info jika ingin beli sate gajih aku disarankan ke pasar Beringhardjo yang berada di jalan Ahmad Yani Yogyakarta atau dekat Malioboro. Hari Kamisnya (5/1) aku nekat berangkat sendiri ke pasar Beringharjo. Di depan pasar Beringhardjo memang banyak penjual makanan. Mulai pecel kembangturi, ayam bacem tahu bacem hingga mangut lele juga ada yang jual.

Ternyata pedagang sate gajih berada di ujung selatan pasar Beringhardjo. Penjualnya seorang perempuan setengah baya yang duduk dibawah dan asyik membakar satenya. Wajah ibu pedagang sate gajih ini mengingatkanku pada bu bok madura penjual nasi bebek di Rungkut Surabaya. Hahaha sukanya kok menyama-nyamakan orang.

Kulihat jajaran sate yang di tata di wadah panjang yang dialasi daun pisang. Sebenarnya ada beberapa jenis sate yang bisa dipesan yaitu sate daging sapi , sate hati sapi dan tentunya sate gajih. Karena penasaran dengan sate gajih maka aku khusus memesan sate gajih. Belinya bijian. Aku beli 3 tusuk sate gajih dihargai  4500 perak alias satu tusuk seharga 1500 perak. Jadi kalau sepuluh 15000 perak dong.

Ibu pedagang sate ini langsung membakar sate gajih yang kupesan. Sebenarnya kalau mau aku bisa memesan sate gajih dan ketupat. Tapi karena sudah kenyang aku hanya pesan sate gajihnya saja. Aromanya sangat menggoda selera membuatku tak sabar memakannya. Orang biasa memakannya dengan duduk (ndodok) di depan penjualnya maka sering disebut juga sate dodok. Tapi aku memilih memakan sate gajih panas ini di bangku yang ada di depan pos polisi.

Melihatku asyik memakan sate gajih ini, mengundang perhatian beberapa ibu untuk ikut nimbrung makan sate di sampingku. Sate gajih ini rasanya kenyal. Karena disajikan panas jadi enak. Biasanya kan kalau disate daging sapi hanya ada satu gajih di antara daging sapi pada setiap tusuknya. Tapi khusus sate gajih ini beneran hanya gajih saja. Gajih ini sepertinya diberi kecap dan bumbu tertentu. Rasanya mantap banget. agak manis dan gurih. Tapi aku ga berani memakannya banyak-banyak. Ingat kolesterol. Takuut. hehehe. Tapi beneran aku pingin memakan sate itu ke Yogya lagi. hahaha sableng.

Minggu, Januari 01, 2012

Selat Mbak Lies

Sekitar 2 bulan yang lalu aku menulis sebuah artikel di kompasiana berjudul "selat daging atau selat solo" yang menarik perhatian beberapa pembaca. Salah satu yang ikut komentar di artikel itu adalah bapak Junianto Setyadi, yang ternyata suami pemilik warung selat mbak Lies. Pada artikel tersebut memang aku menyebutkan bahwa selat mbak lies kurekomendasikan bisa dikunjungi jika yang ingin menyantap selad solo.
Yang jelas permintaan pak Junianto yang meminta untuk mencoba selat mbak lies bulan lalu kuturuti saat ke solo. Meski ga ketemu orangnya.hehehe.

Sebenarnya tahun yang lalu, aku sudah pernah diajak Ambar, sohibku makan di warung selat mbak lies ini. Tapi saat itu aku lagi males ngeblog jadi ga motret dan perhatikan menunya. Pokoke enak. Hehehe. Awal bulan Desember 2011 lalu aku kembali diajak salah satu temanku,Ami, yang kini berdomisili di Solo Coret untuk makan di warung selat mbak Lies lagi ketika kami reunian berdua di Solo. Tentunya aku senang banget.

Hujan deras banget saat kami memasuki wilayah Serengan. Banjir pula. Jadi dengan agak berbasah-basah kami memasuki warung selat mbak Lies yang lokasi tepatnya di Serengan II/42. Sama seperti gambaranku waktu lalu, tempatnya tetap eksotis. Penuh pernak pernik. Dari mulai kursi meja dan hiasan dinding dari keramik. Hingga hiasan-hiasan yang terkesan unik dan lukisan-lukisan terpajang disana. Tempatnya lumayan luas. Menurut temanku dulunya, warung selat mbak Lies ini kecil tapi kemudian karena terkenal diperlebar. Bahkan rumah di depannya juga digunakan untuk warung ini. Jadi bisa memilih duduk sesuai selera. Bisa duduk di atas kursi atau lesehan juga.

Kemarin kami memilih duduk lesehan. Pelayan yang melayani kami membuatku tersenyum mereka berdandan dengan busana jawa. Yang laki-laki pakai baju model beskap dan blangkon sedangkan yang cewek pakai kebaya dan sanggul tinggi. Tapi kata Ami, seragam pelayan di warung selat mbak Lies ganti-ganti tergantung momennya. Jadi kalau kesana lagi mungkin bisa saja pakai baju model noni belanda,wakakak.

Menu makanan yang ditawarkan disini beraneka ragam. Ada selat galantin, selat daging, sup dan sebagainya. Hm Kami memilih selat daging dan selat galantin. Mantap bo. Perpaduan sayur dan daging dengan kuah yang ditambah dengan saus mayonese menarik banget untuk dilihat. Yang membedakan dengan yang lain, pakai kripik kentang dan telur coklat. HmEnak juga untuk disantap. Pokoknya Cepat saji dan cepat dimakan.hehehe.

Untuk minumannya bisa pilih berbagai macam es, ada es campur, es teler, es tape, es teh, es jeruk, aneka macam juice dan sebagainya. Es campurnya isinya banyak banget dan seger. Kalau es tape memang pilihanku jika ke Solo Jogya. Rasanya yang perpaduan manis dan asam bikin ketagihan.  Pokoke silakan mampir kesana kalau ke Solo. Artis-artis aja sudah banyak yang kesana dan bubuhkan tanda kenang-kenangan di keramik2 yang dipajang di tembok. Ingat kalau mau mampir, jam bukanya dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.