Sabtu, Desember 12, 2009

Gado-Gado


Rencanaku ke ITC Manggadua Jakarta beberapa hari yang lalu  sebenarnya membelikan kaset film DVD titipan teman-temanku. Tetapi karena perutku sudah keroncongan, sesudah berbelanja kusempatkan diri untuk mencari kantin yang menjual aneka makanan. Seingatku di belakang gedung ITC Manggadua/belakang mushola ada tempat penjual makanan murah. Foodcourt kaki lima. Kususuri deretan penjual makanan disana, Nasi padang, soto betawi, nasi goreng, mi ayam, sate ayam. Wah aku kok tidak tertarik. Aku inginnya sesuatu yang tidak terlalu mengenyangkan tapi enak. Akhirnya kuputuskan berhenti di depan penjual Gado-gado yang berada di tengah. Gado-Gado Katineungrasa. Tertulis di gerobaknya menjual gado-gado dengan nasi, lontong serta karedok. Aku memesan gado-gado pedas tanpa lontong/nasi. Sempat aku liat penjualnya sudah menyiapkan bumbu gado-gado dalam cobek besar banget. Lalu aku duduk sembari menunggu gado-gadonya diracik. Begitu makanan disajikan, aku coba menikmatinya pelan-pelan. Isi gado-gado ini ada serutan jagung manis, kangkung, taoge, kubis, timun yang sudah direbus, tahu dan tempe goreng goreng serta krupuk plus siraman bumbu gado-gado. Benar-benar sederhana dan menyehatkan. Harganya juga cuma 5000 perak. Cocok untuk bagi orang yang diet dan berhemat. hehehe. Tapi yang penting rasanya segar dan sedap juga. Gado-gado Jakarta ini beda dengan gado-gado versi Jawatimuran yang bumbunya direbus dulu dengan santan. Tapi tak apa wong ya sama-sama enak. Silakan mencoba jika datang ke Jakarta. Cukup banyak penjual gado-gado di Jakarta mulai kelas kaki lima hingga bintang lima.

Nasi Godog




Istilah Nasi Godog bikin aku penasaran saat pertama kali mendengarnya. Seperti apa sih nasi godog itu? Bukankah semua nasi mesti digodog atau direbus? Aku mengetahui nama Nasi Godog ini saat aku jajan di warung mi jawa pak Doel Numeni Semarang. Warung Mi Jawa pak Doel ini terletak di jalan Pemuda depan Hotel Novotel Semarang. Entah mengapa sejak makan di warung ini beberapa bulan yang lalu, aku jadi ketagihan untuk datang lagi setiap kali aku tugas ke Semarang. Makanan favoritku jika makan disini jelas mi goreng. Mi goreng Jawa bikinan warung ini memang enak. Sebenarnya menu yang ditawarkan di sini beragam, mi goreng, mi rebus, mi nyemek, nasi goreng, nasi ruwet dan nasi godog. Walaupun sebenarnya sudah sejak lama penasaran tetapi baru kemarin aku berani mencoba memesan menu Nasi Godog saat kembali bertugas di Semarang. "Nasi Godog satu mas, tapi nasinya sedikit saja dan pedas "begitu pesanku pada pelayan warung yang berseragam orange. "Pakai telur atau tidak," tanyanya balik padaku. "Jelas pakai dong," sahutku sembari tersenyum. Lalu aku pun menunggu mereka menyajikan nasi godog pesenanku sembari minum teh botol. Tak berapa lama pesenanku disajikan. Yang muncul ternyata, seperti nasi sop, berisi nasi, sawi, kubis, telur, irisan ayam dan kekian serta kuah yang kecoklatan. Saat aku mulai memakannya, kesan pertama tidak salah.Benar-benar maknyus. Sueger, tidak terlalu asin atau manis. Apalagi jika dipanas-panas tambah nikmat. Aku jadi bertanya-tanya seperti apa sih membuatnya, apa nasinya digoreng dulu dengan telur baru diguyur kuah? atau bikin kuahnya dulu baru dimasukkan nasi? wah kenapa tidak kuikuti ya cara membuatnya.Lain kali saja deh diulang makan disini lagi. Pokoke rasanya bikin aku ketagihan. Apalagi jika memakannya sembari menyantap sate ati ampela yang sudah dibakar tambah lezat lagi. Tidak percaya? Coba saja sendiri kalo datang ke Semarang. Warung Mi Jawa Pak Doel Numeni ini sudah buka dari jam 10 pagi sampai 12 malam. Pemiliknya sudah buka di beberapa tempat yaitu di depan kantor Balaikota Semarang jl. Pemuda dan jalan Thamrin. Tetapi kalau di kedua tempat tersebut jam bukanya dari jam 3 sore hingga jam 12 malam.  Selain itu juga menerima pesanan via telepon. Enak to?



Selasa, Desember 08, 2009

Rujak Cingur



Pepatah I Hate Monday mesti diganti I Like Monday. Meski weekend kemarin aku tidak libur dan mesti tugas liputan sampai malam tapi pagi ini aku coba menikmatinya. Kebetulan hari Senin ini aku tidak punya janji ke tempat relasiku. Makanya kuhabiskan waktu di warnet sambil membereskan pekerjaan kantor yang harus selesai hari ini. Maklum deadline sudah mepet nih. Sembari mengirim email ke kantor kusempatkan buka facebook dan kulihat status salah seorang teman sedang tugas di Surabaya. Kuingatkan dia untuk tidak melewatkan wisata kuliner di Surabaya. Ia pun memintaku memberinya referensi beberapa tempat makan enak di Surabaya. Salah satu yang kusebutkan adalah Rujak. Rujak Cingur bisa dibilang memang salah satu makanan khas di Surabaya. Makanan berbahan petis ini gampang dicari di berbagai pelosok kota Surabaya. Aku masih ingat saat pertama pindah ke kawasan perumahan Pondok Candra Indah, ada penjual rujak cingur keliling yang biasa lewat. Perempuan paro baya itu biasa menyunggi barang dagangannya di atas kepalanya. Jika ada yang membeli ia langsung menurunkannya dan duduk di dingklik (kursi kecil) yang juga dibawanya. Ia akan mengulek rujak cingur dengan cabe berdasar pesanan. Rasanya uenak. Umumnya pedagang rujak cingur keliling ini orang madura. Setahun lalu kulihat ia sudah ganti mendorong barang dagangan dalam gerobak dorong. Tapi belakangan aku sudah jarang melihatnya. Mungkin karena aku jarang berada di rumah siang hari sebab ia biasanya lewat antara jam 3-4 sore. Tetapi kadang sedang pingin, aku suka hunting rujak cingur yang enak. Bila Anda sedang berada di Surabaya, bisa tinggal memilih warung rujak cingur yang menurut Anda paling enak. Mau rujak cingur termahal, ada di jl. Ahmad Jais. Terus terang meski dulu semasa aku masih tinggal di Kalasan kerap lewat jalan Ahmad Jais kalo berangkat ke kantorku yang lama, tetapi aku belum pernah mencobanya. Dengar-dengar sekarang harganya sekitar 50 ribu. Rujak Cingur Ahmad Jais porsinya besar dan bisa dimakan lebih dari 1 orang seporsinya. Rasanya katanya uenak banget dan jadi langganan pejabat hingga artis. Mau yang lain, Rujak Cingung Embong Sawo. Dulu aku pernah makan rujak itu saat warungnya masi berlokasi di dekat lapangan Tenis jl. Embong Sawo. Tapi sepertinya sekarang sudah pindah ke depan Grahadi/dekat patung joko dolog. Lalu ada lagi Rujak Cingur Bok Mariyati, jalan Jolotundo. Keduanya sama maknyusnya, tergantung selera. Kalau aku sendiri paling suka makan rujak Delta. Warung rujak Delta yang berada di Surabaya Plasa/dulunya Delta Plaza sangat terkenal. Ia menjual berbagai menu makanan khas Sbym seperti gado-gado, lontong cap gomek, tahu campur dan-lain. Tapi Rujak cingurnya yang paling banyak digemari. Rujak Cingur Delta, disajikan dengan bumbu petis yang banyak dan kental. Boleh milih matengan, buah saja  atau campur. Biasanya jika suka ditambahi mi kuning. Tapi karena tak suka, aku selalu bilang tanpa mi. Bila kita ngomong pedas maka siap-siap kepedesan karena standar pedas di sini sama dengan pedas banget. Dulu seporsinya sekitar 15 ribu rupiah. Entah sekarang sudah naik harganya atau belum. Tapi yang penting Anda bakal puas. Oya, jika Anda ambil kerupuk yang disajikan di depan Anda , itu ada harga sendiri lho. hehehe. Jika kepedesan Anda bisa minum berbagai macam minuman yang dijual di warung ini, ada es jeruk, es dawet, es sirup, es belewah dan sebagainya. Ditanggung langsung sueger. Sebenarnya Anda bisa mencoba membuat rujak cingur sendiri. Berikut ini aku tulis resep rujak cingur. Silakan mencoba deh.

Rujak Cingur

Bahan dasar :
- kangkung
- taoge
- ketimun
- tahu
- tempe
- cingur
- mangga muda
- bengkuang
- belimbing
- lontong
- krupuk

Bumbu
- petis udang
- kacang tanah goreng
- bawang putih goreng
- garam
- gula merah
- pisang batu/klutuk
- terasi bakar
- air asam
- cabe rawit

Cara Membuat
- potong lontong jadi beberapa bagian
- goreng tahu dan tempe lalu iris jadi beberapa bagian.
- goreng juga cingur hingga matang dan potong kecil-kecil.
- rebus kangkung dan taoge hingga matang
- Iris, mangga muda, bengkoang, belimbing sesuai selera
- siapkan cobek, masukkan cabe rawit, bawang putih goreng, terasi, serutan pisang klutuk, garam dan gula merah secukupnya. Uleg hingga halus. Tambahkan petis dan air asam.
- Cara penyajian : tata dalam piring, lontong, tahu, tempe dan cingur goreng serta irisan buah-buahan. Lalu diatasnya taruh kangkung dan taoge rebus. Guyur dengan bumbu rujak cingur. Selanjutnya beri kerupuk diatasnya. Siap disajikan.

Kamis, Desember 03, 2009

Camilan




Sekarang aku lagi ngebut kerjaan kantor karena besuk udah harus berangkat tugas ke Jakarta lagi. Di saat sibuk seperti ini, kok perutku terasa keroncongan. Padahal tadi udah makan siang. Sekarang juga masih jam 3 sore, kalau nunggu waktu jam makan malam mana tahan.hehehe. Tiba-tiba aku bayangin andaikan sekarang ini ada yang berbaikhati ngirimin makanan ke kantor pasti seneng bangeet. Martabak telur panas,omelet mie, risoles, atau onion ring tak bakal ditolak dan langsung dimakan. Maunya tuh. Aku jadi ingat semasa kecil dulu, biasanya aku nunggu penjual jajanan kalau sore-sore begini. Di Kediri biasa ada penjual jajanan keliling. Ada yang jual lupis, cenil, gatot dan berbagai jajanan pasar yang uenak. Sepertinya sekarang penjual jajan gendong seperti itu sudah tak ada. Kita mesti pergi ke pasar pahing dulu bila pingin jajan. Di sepanjang jalan pasar pahing/HOS Cokroaminoto Kediri memang ada beberapa penjual jajanan ndeso itu. Kalau malam, selain jajanan itu juga ada penjual puthu, dan gethuk. Keduanya dimakan dengan parutan kelapa. Berhubung rasane muanis aku jarang mau makan banyak-banyak. Ada juga penjual terang bulan/martabak manis. Yang lucu isi dari terangbulan itu kita boleh pilih. Mau isi parutan kelapa, kacang ijo, kacanghitam, selai, kacang, coklat atau keju, terserah. Harganya juga tidak mahal cukup 5000 perak dan bisa disantap sekeluarga. Pingin berbeda, bisa pilih roti bakar dengan berbagai rasa atau jagung bakar. Atau beli berbagai macam gorengan seperti tahu isi, ote-ote dan telo keju yang asin dan gurih. Pokoke semuanya enak dimakan panas-panas. Waduh ngomongin jajanan aku jadi tambah lapar nih. hehehe

Selasa, Juni 02, 2009

Tahu Telor, Tahu Thek atau Tahu Lontong


Masakan khas Jawa Timuran sangat beragam. Salah satunya adalah tahu telor atau tahu tek. Entah sebenarnya yang uasli tahu tek itu dari mana aku tidak tahu. Hampir setiap kota di Jawa Timur punya tahu telor khas masing-masing. Contohnya saja di Surabaya, sebagai ibukota Jawa Timur, pedagang tahu tek atau tahu telornya saja memiliki resep dan rasa masakan yang berbeda-beda. Hal ini bisa dimaklumi karena pedagangnya ada yang berasal dari Lamongan, Jombang, Malang yang biasa masak tahu telor dengan cara sendiri-sendiri.
Di Surabaya ada beberapa warung Tahu Thek yang cukup laris seperti Tahu Thek pak Ali di jalan Dinoyo (tapi maaf beribu maaf aku kurang cocok dengan tahu thek bikinan warung ini karena menurutku terlalu banyak petisnya), lalu ada Tahu Thek warung rujak Delta, depot Tunjungan. Tapi semua rata-rata sama, lebih banyak terasa petisnya, persis seperti yang biasa disajikan pedagang tahu thek keliling yang biasa lewat di perumahan rumahku.
Terus terang aku lebih suka tahu thek atau tahu telur model kediri. Di Kediri orang biasa menyebutnya Tahu Lontong karena biasa disajikan dengan lontong. Tahu lontong di kediri lebih sedikit petisnya. Rasanya jelas lebih nikmat menurutku. Di kediri cukup banyak penjual tahu thek yang luaris dan uenak rasanya. Salahsatunya adalah Tahu lontong di jalan Monginsidi. Warung tahu lontong Monginsidi sangat laris, enak dan lebih banyak kecap dan kacangnya dibanding petisnya. Tapi buat yang lebih suka memakan tahu telor tanpa lontong tidak kusarankan makan di warung ini karena penjualnya agak judes dan selalu menolak menjual tahu telor tanpa nasi/lontong.
Salah seorang teman menyarankan membeli tahu lontong yang uenak di barat dealer Aries Motor jl. Untung Suropati Kediri. Katanya uenak tapi sorry aku belum pernah coba. Di sepanjang jalan Hos Cokroaminoto jugabanyak penjual tahu lontong ini seperti di depan ponpes LDII dan di sebrang Candra Motor (lemah duwur). Rasanya tentu lumayanlah. Pembeli bisa meminta cabe yang diuleg sebanyak yang ia mau. Mau pedas ya minta aja cabe yang banyak. Lebih nikmat lagi dimakan dengan kerupuk.
Sebenarnya soal tahu telur aku lebih suka tahu telur buatan mamaku sendiri. Sebab tahunya jelas pilihan sebab membeli tahu putih yang uenak di Sari Lezat Poo atau LTT2. Dengan bumbu yang pas rasanya, dan taburan bawang goreng serta kacang goreng yang banyak tentu lebih lezat. Kadang-kadang bila sedang tidak malas aku mau juga masak tahu telur sendiri sebab tidak sulit. Andapun bisa mencobanya.

Tahu Telor

Bahan : - Tahu putih
- Telur ayam
- garam dan merica
- Taoge
- Seledri
- Bawang merah goreng
- kerupuk

Bumbu : - cabe rawit (sebaiknya direbus dulu)
- garam gula
- petis udang,
- kecap manis
- bawang putih
- kacang tanah yang sudah digoreng

Cara memasaknya :
- Tahu putih dipotong dadu dan dimasukan kedalam kocokan telur yang sudah dibmbui garam dan merica bubuk secukupnya. Aduk secara hati-hati dan goreng dengan minyak goreng hingga matang atau setengah matang (sesuai selera)
- Rebus taoge hingga masak
- Haluskan bumbu, tambahkan petis dan kecap secukupnya saja
- Penyajian siapkan piring, atur tahu, pasang taoge rebus, guyur dengan bumbu. Tambahkan rajangan seledri, daun bawang, kacang goreng dan bawang goreng. Terakhir tambahkan kerupuk.
-Bisa dimakan dengan nasi atau lontong sesuai selera

Selamat memasak

Bothok


Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukai makanan yang namanya Bothok. Semenjak aku kecil makanan tersebut sudah biasa dihidangkan di rumah dan entah mengapa aku begitu menyukainya. Dulu saat masih duduk di taman-kanak-kanak, aku ingat punya pembantu rumah tangga yang namanya mbok Yem. Ia sangat mahir masak apapun. Ia pintar pula masak botok dan aku sangat menggemari masakannya itu. Tetapi sayangnya ia hanya sebentar ikut pada keluarga kami. Karena ia ingin kembali kerja di asrama dimana ia bisa mengekspresikan memasak dalam jumlah banyak. Kalau keluargaku setiap hari disuruh memasak dalam jumlah besar bisa tekor dong hehehe.
Untungnya mamaku bisa pula memasak botok yang enak. Hanya saja seiring semakin tua usianya, mama sudah jarang memasak botok. Bisa dimaklumi karena perlu waktu lama dan agak ribet dalam memasak botok itu. Tapi tak perlu khawatir bila pulang ke kediri aku gampang bisa berburu makanan yang berbahan kelapa ini. Hampir setiap penjual masakan rumahan menyediakan menu botok sebagai salah satu andalannya. Tetapi terus terang tidak semua bisa menjual botok sesuai seleraku.
Dari berbagai penjual botok di Kediri aku hanya punya beberapa orang saja yang bisa memasak botok seenak yang kumaksud. Yang pertama tentu Depot Bu Rahmat. Depot Bu Rahmat yang berada di daerah Pocanan Kediri sebenarnya menjual berbagai menu masakan rumah seperti urap, ayam bakar, sayur bening, lele bumbu dan sebagainya. Tetapi ia juga menjual aneka botok seperti botok kemangi, botok tahu/tempe, sembukan dan sebagainya. Rasanya pedas asin, dan uenak. Hanya saja setelah kutelusuri botok yang dijual di depot itu bukan dimasak sendiri mereka tapi merupakan titipan tetangganya. Kapan hari aku membeli botok di warung nasi di kawasan jl.Ronggowarsito kediri. Bentuk dan rasanya persis seperti yang dijual di depot bu Rahmat. Jadi bisa disimpulkan botok itu bikinan warga pocanan yang entah siapa namanya. Pokoke mantap. Harganya kalau dulu masih dibawah 1000 perak. Entah sekarang. Aku suka pula dengan bothok yang dijual pedangan sayur kakilima di depan toko jamu dua putri dewi/jl. Hos Cokroamintoto Kediri. Harganya hanya 750 rupiah tapi rasanya uenak, pedes asinnya pas. Pokoke bikin ketagihan deh. Walaupun begitu sebenarnya pada dasarnya bothok bikinan orang Kediri masih tetap lebih enak dibanding daerah lain (couvinisme banget)hehehe. Mungkin karena menggunakan kelapa muda yang menambah lezat rasa botok ini.
Di Surabaya aku agak kesulitan berburu botok yang enak. Aku sudak mencoba berbagai botok yang dijual di warung-warung nasi di Surabaya tapi rasanya mesti kurang nikmat. Selain kelapa parutnya sedikit, juga selalu tua (biasa disebut kerasah). Ga enak banget. Tapi beberapa waktu yang lalu aku tak sengaja menemukan botok enak di Surabaya. Di warung Mejoyo tempat sarapan favoritku sebenarnya sudah lama menjual botok tapi botok tahu tempe buatannya menurutku kurang makyus.
Tiba-tiba baru-baru ini mereka menjual botok daun sembukan yang merupakan titipan salah satu rekannya. Rasanya uenak banget. Dengan harga 1000 perak saja itu botok sudah bikin kita puas. Asin, pedasnya pas. Jan uenak pol. Baru-baru ini aku menemukan lagi botok enak di penjual gorengan yang biasa mangkal di depan depot Rejeki jl. Karah Agung. Botok onthong buatan penjual ini haujek. Bikin aku ketagihan deh. Aduh jadi pingin buru-buru makan botok lagi deh. Botok biasa dimakan dengan nasi putih saja sudah enak. Tapi lebih lengkap bila ditambah sayur bening. Jadi tambah segar. Sebenarnya jika mau kita bisa memasak botok kemangi sendiri. Bahan dan cara membuatnya sebagai berikut :

Bothok Kemangi

Bahan : Parutan kelapa muda (dari 1 buah kelapa yang besar)
Daun kemangi, Daun pisang (untuk membungkus), bithing
Bumbu, 5 butir bawang putih, 1 iris terasi, 10 biji cabe rawit, 2 cm laos, gula dan garam putih secukupnya.
Cara membuat : - uleg semua bumbu hingga halus.
- campur bumbu dan parutan kelapa muda serta daun kemangi
- bungkus dalam daun pisang dan ditutup dengan biting (kira-kira jadi 10 bungkus)
- kukus dalam dandang hingga masak dan kemudian siap disajikan. (Lebih enak jika dimakan dalam keadaan panas).

Silakan mencoba

Senin, Juni 01, 2009

Kantin Mbak Wiwik



Kesibukan yang cukup menyita waktu beberapan waktu belakangan ini membuatku lama tak menulis di blog ini. Rasanya kangen juga tidak curhat tentang kesibukan-kesibukan dan acara makan-makan yang udah kulewati selama kurang lebih dua bulan ini. Terus terang selain urusan pekerjaan kantor yang menggunung, beberapa bulan ini aku sedikit direpotkan dengan berbagai undangan reuni.
Semenjak aku gabung dengan situs jaringan sosial yang namanya facebook itu setengah tahun yang lalu, aku bisa bertemu kembali dengan ratusan teman lamaku dari berbagai wilayah di tanah air bahkan manca negara meski hanya lewat dunia maya. Bahkan selanjutnya sebagian juga berlanjut dengan jumpa darat. Undangan reuni mulai reuni teman kuliah, reuni teman kost hingga reuni teman sekolah seolah datang silih berganti. Sampai-sampai saking seringnya aku mendapat undangan reuni, teman-teman sekantor sering meledek, "Reuni maneh?" Tapi asalkan segalanya masih dalam konteks positif ga masalah.
Belakangan ini aku mulai agak jenuh juga, makanya mulai aku kurangi aktifitasku di facebook. Sebab bisa dibilang aku udah dalam kategori kecanduan berat. Dan kupikir-pikir tidak sehat juga. Lagian kasian yang lain, jadi kalah ngetop nantinya.wakakak. Meski tidak mundur secara total, aku lebih suka jadi pengamat. Tampaknya mengasyikkan juga.
Hari ini aku sedang menikmati waktu liburku di rumah sebelum berangkat tugas maraton Jakarta, Jogya, Solo, Semarang lusa. Makanya sekarang bisa nyantai sambil nulis apa saja yang ingin aku tulis. Kebetulan beberapa minggu ini waktuku lebih banyak kuhabiskan untuk lembur di kantor. So makanan yang lebih sering kusantap adalah masakan dari kantin mbak Wiwik yang berada di depan kantorku di kawasan Karah Agung Surabaya. Semenjak kantorku pindah ke karah sekitar 1 tahun yang lalu, mau tak mau untuk makan siang kami sangat tergantung dari kantin mbak Wiwik.
Semula kantin mbak Wiwik hanya menjual menu mi pangsit, indomie dan berbagai minuman (juice, teh,kopi) saja. Tetapi atas permintaanku dan teman-teman akhirnya ibu dari dua orang putri ini mau melayani menu masakan rumahan untuk makan siang kami. Awalnya kami nurut ia masak apa untuk keluarganya maka kita ikut makan. Seperti jika ia masak sop dengan ayam goreng, maka kami pun akan makan siang dengan menu yang sama. Tapi lama kelamaan malah lebih sering kami yang mengatur menu makan siang tersebut. Kebetulan yang namanya mbak Wiwik itu usianya sebaya dengan kami semua. Jadi bisa mengikuti irama dan gaya kami. Kawan-kawanku cocok dengan sebagian besar masakan yang dibuat mbak Wiwik. Hal ini karena istri dari karyawan asuransi kendaraan bermotor ini adalah berasal dari Tulung Agung sehingga rasa masakan yang dibuatnya sesuai selera kami yang sebagian besar juga orang kulonan (Kediri, Nganjuk, Jombang).
Selain itu hal lain yang membuat kami makin suka, ia mau belajar dan mencoba memasak menu yang kami mau meski ia sendiri belum pernah memasaknya. Bayangin ia mau belajar bikin nasi tumpeng (menu lengkap, ayam bakar, sayur keluwih, urap dll) yang ribet hanya demi memenuhi pesanan salah satu temanku yang bikin bancakan kelahiran anaknya di kantor. Ia berani mencoba memenuhi keingin kami yang kangen masakan deso yang sulit ditemui di Surabaya macam sayur onthong pisang, oseng-oseng pepaya muda, hingga sambal miri.
Kemarin lebih heboh lagi ia mesti mempraktekkan menu masakan khas Bali semacam ayam betutu, plecing kangkung dan sambal brambang jahe dari resep yang diberikan salah satu kawanku yang keluarganya asli dari Bali. Rasanya pun tetap lezat dan menggoyang lidah. Tetapi menu favorit kami semua tetap sama, nasi, sayur rebusan, berbagai macam sambel dan rempeyek udang, atau sayap ayam kremes. Sepertinya semua tak pernah bosan.
Tak hanya untuk makan siang, kalo kami lembur hingga malam, ia siap jika sewaktu-waktu menelpon dan memesan makanan lagi yang baru macam, mi rebus, nasi goreng hingga suun goreng. "Halo, mbak Wiwik pesen makan dong. lapar nih" "Mbak Wiwik, pesen juice stroberi tanpa gula dan es teh tawar 2 ya,"begitu teriakan di telpon yang kerap diperdengarkan kami semua. Tapi dengan setia ia mau dan rela bolak balik dari rumahnya ke kantor kami demi bisa menyenangkan kami semua. Tak hanya itu saja ada buku yang sudah ia sediakan supaya teman-teman mencatat makanan dan minuman yang sudah dilahapnya. Alias lebih sering pada bayar belakangan.hehehe. Tapi kebaikan dan kepercayaan mbak mbak Wiwik membuat kami semua malah saling berusaha mengingatkan untuk jangan lupa mencatat dan membayar segala tanggungan masing-masing.
Bagaimanapun tak semua orang mau berlaku seperti mbak Wiwik. Yang lebih hebat lagi ia lakukan semua pekerjaan mulai buka warung mi dan minuman yang melayani anak SMP dan kami ini sendiri tanpa bantuan pembantu. Salut buat mbak Wiwik. Mbak Wiwik pancen oke. Moga tetap jadi bu kantin favorit kami.